“ jreeengh jreeengh jreeengh…. kujelang dini hari dengan segelas teh panas. Dipagi ini ku bebas karena
nggak ada kelastanggalnya memang merah. Di ruang mata ini kamar ini serasa luas. Teh sudah habis dan perut pun kembung. Dan mulai saya tulis kehidupan di kertas…. “
Akhirnya hari itu 7 desember jadi agak mirip lagunya om bondan. Entah gara-gara teh panas, atau karena ini adalah awal tahun hi jriyah sepertinya saya tergugah buat introspeksi seperti lirik lagu om bondan. Muhasabah, introspeksi tidak harus dilakukan setahun sekali. Setiap hari boleh, setiap jam juga sah-sah saja. Toh tidak ada larangan. Ibaratnya setelah dapat materi kuliah kita bikin resume. Nah, resume itu sama saja dengan bahan introspeksi buat diri kita (saya). Kalau harus menunggu setahun sekali tiap malam tahun baru, basi rasanya. Iya kalau saya masih hidup malam tahun baru nanti.
Hari-hari yang keras
Sedikit mundur sambil nengok ke belakang. Munduuuuuuuur.
Dalam kurun 2 bulan, Gara-gara tiga kali gagal lolos seleksi masuk PTN ditambah 1 sekolah tinggi. Rasanya waktu itu saya jadi orang paling bodoh. Stress, depresi, tapi untung saya masih punya sisa sedikit kadar ke- warasan jadi tidak sampai punya pikiran bunuh diri. *lha wong sambel terasi iku sik enak lho. Lapo bunuh diri iku*
Saya bertanya pada Sang Produser umat manusia, kenapa jalan saya banyak tikungan tajam?sementara yang lain lurus-lurus saja. Tetapi satu-satunya yang pantas disalahkan dalam kegagalan ini adalah diri saya sendiri. Seorang teman menasihati saya, ”itu akibat dari terlalu tinggi berekpektasi, merasa bekerja paling maksimal, dan tidak mempersiapkan hati untuk ketentuan yang lain dari-Nya..”
kalau direnungkan sepertinya memang benar. Hhh lagi-lagi ngikuti lagu om bondan ,”ya, sudahlah”. Toh akhirnya setelah tiga kali terperosok ke lembah hitam kelam akhirnya saya kecemplung juga di jurusan statistika ITS. Pluuung. Saya bilang kecemplung karena sebelumnya sedikitpun tak pernah terlintas bayangan statistika. Ditanya statistika itu apa saya juga ndak ngerti (waktu itu).
Tanya : “Dek, Apa itu statistika?”
Jawab : “statistika itu nama jurusan “ *saya jawab dengan sok polos…*
Tanya : “ya tau nama jurusan. Tapi yang dipelajari apa ya?”
Jawab: *ga bisa jawab. Mikir. Akhirnya googling*
“Statistika itu…bla bla bla bla” * mulai mengarang indah*
Tanya: “Oh, jadi intinya itung-itungan kan?”
Jawab: “Hehe, ya anggap saja begitu
“
Ampuuuun dah. Saya (waktu itu) beneran nggak tau apa itu statistika. Ibaratnya saya kecemplung dan terlanjur basah. Jadi sekalian saja berenang sampai ke hilir. ok itu masa lalu. Percuma terus stagnan di kegagalan masa lalu. Mari sekarang kita bicara mengenai masa sekarang dan masa depan.
JURUSAN = PASANGAN HIDUP
Saya mungkin hanya satu diantara ribuan orang di luar sana yang pernah berpikiran salah jurusan. Tapi apa hanya gara-gara “merasa” salah jurusan lantas saya mau menyerah? Atau mengkambing hitamkan alasan salah jurusan sebagai penyebab jeleknya nilai kita (saya) ?
Karena dengan proses “ta’aruf” singkat saya sukses melamar statistika sebagai pasangan hidup saya. Awalnya sulit hidup berdampingan dengan pasangan yang sama sekali tak saya kenali. Untuk mencintai kita harus memahami. Dan untuk bisa paham terlebih dulu harus mengerti luar-dalamnya. Dulu karena saya belum mengerti maka saya merasa kecemplung di statistika ini. Tetapi saya berusaha menjalaninya dengan santai dan rasa syukur. Hingga akhirnya sekarang saya merasa beruntung sudah di-cemplungkan di sini. Give thanks to Allah
” Misal saya punya pasangan hidup, kemudian saya merasa tidak cocok, apakah berarti saya salah memilih pasangan hidup? Bodohnya kalau berpikir begitu. Bisa-bisa Pengadilan Agama jadi tempat terfavorit setelah Pantai Kuta.” (Bahtiar Rifai Septiansyah)
Karena cinta tak selalu dari pendangan pertama… betul tidak?
History Start Now
Baiklah sudah cukup saya mundur ke belakang. Sekarang saatnya maju kedepan.
Majuuuuuuuuuuuuuuu
Sebagai seorang manusia normal, bermimpi adalah hal paling menyenangkan untuk dilakukan. Bermimpilah yang besar, karena besar ataupun kecil sama-sama gratis. *kata tetangga saya*. Jadi saya tuliskan target 6 semester ke-depan biar tidak menguap begitu saja seperti layaknya bunga tidur.
“tuliskan mimpi kamu biar kawanmu yang akan mengingatkan mimpi-mimpi besarmu kelak jika kau melupakannya”
kata mereka.
1. Jadi MABA ITS (ter-realisasi)
2. Bikin Proposal PKM (ter-realisasi)
3. Masuk PIMNAS dapat medali emas
4. ITS Online Crew 2011
5. BEM ITS
6. Mawapres
7. Student exchange
8. Mandiri secara finansial
9. Get the scholarship
10. (…) dan lain-lain
Waktu selalu saja terlalu singkat untuk membuat mimpi-mimpi saya terwujud. Namun hiduplah seperti D’massiv “Jangan menyerah” atau seperti chairil anwar “hidup sekali. Berarti. Lalu mati” . hidup ini terlalu berharga untuk disia-siakan, kawan! Majulah selagi kamu masih punya waktu dan banyak kesempatan. Jadi orang sukses memang sulit, tapi lebih sulit lagi kalau kamu tidak sukses.
(sebuah renungan dan nasihat untuk diri sendiri)
*Artikel ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan Muhasabah Akhir Tahun di BlogCamp
(Maaf) izin mengamankan PERTAMAX dulu. Boleh, kan?!
Selamat memeriahkan acaranya Pakde. Soal hidup, yang penting Maju Perut Pantat Mundur
Terima kasih atas partisipasi sahabat dalam K.U.M.A.T – Kontes Unggulan Muhasabah Akhir Tahun di BlogCamp.
Akan dicatat sebagai peserta
Salam hangat dari Markas Blogcamp di Surabaya
Luarrrrrr biasaaa!
Wah, 3 kali gak tembut Tes masuk PTN kau masih kuat berdiri, salut dik
Bagus, bermimpilah. Lalu tuliskan target.
Dulu jaman saya kuliah, baru masuk saya dah punya target IPK yang ingin saya dapat. Saya pengen IPKA saya angka cantik yakni 3,33. Makanya pas cumlaude saya berusaha tuk turunkan dengan membuat beberapa nilai B atau C. Teman2 saya bilang aneh, tapi inilah seni mencapai target. Dan akhirnya saya dapat 3,40. Meeset 0,07. Tapi tak apa, toh meleset sedikit
Jadi, ayo tanamkan target dan capailah!
wiih, cumlaude nih
subhanallah…
saya masih keteteran menyesuaikan dengan ritme baru.
apalagi di jurusan dimana saya kecemplung tanpa sengaja
Yg penting semangat dan sungguh2
Jadi ayo terapkan target!
tak lulus PTN mungkin ini hanyalah kesuksesan yang tertunda, begitu kata orang bijak
Semangat berjuang di Kampus Perjuangan.. ^_^
Do what you love, love what you do.
amin
walaupun sudah terlanjur basah, saya berdoa semoga dek Rinda benar-benar `tersesat` di jalan yang benar
cheer up!
nggak jadi SI , statistika pun jadi
pokoknya jangan pernah menyerah..
semoga berhasil di kontesnya mas
wahaha, saya dipanggil mas
ayyoook rin!! bersama mewujudkan mimpi GOES TO PIMNAS XXIV . . . Get spirit and be a winner !!
assalamu ‘alaikum..
Allah tidak akan membebankan sesuatu
pada kita apabila kita tidak mampu..
ternyata banyak sekali mahasiswa yang salah jurusan…..
janagn pernah merasa terpaksa…
karena Allah swt tau apa yg terbaik utk kita ,
dan tidak selalu PTN yg menjamin kesuksesan kita
smoga mimpi12 itu menjadi kenyataan, saat ini jadikan mimpi2 itu sebagai motivasi utk mencapai target mu, An
Selamat ya An, semoga sukses diacara KUMAT ini….
salam
salam semangat
saya bisa merasa kau penuh semangat
salut
moga menang y dik
Nice post, dan semoga menang di acara KUMAT
Ah, salah jurusan? Aku juga dulu begitu… Tapi aku tipe ‘do what i love’, jadi lebih memilih untuk mundur dan akhirnya kuliah di swasta. Tak ada penyesalan, malah hidup makin berwarna karena jadi banyak teman dan pengalaman.
Semoga sukses (dengan targetnya dan dengan kontesnya ^_^)!
tidak memungkinkan untuk mundur. sayang kan kalau 1 tahun terbuang sia-sia
succes ya……..ayoooo maju terussssss
waah keren-keren. Kegagalan yang beruntun seperti itu, mungkin bagi saya adalah sesuatu yang sangat besar sehingga saya sendiri belum tentu bertahan seperti itu. Terima kasih telah berbagi.
Ternyata ikut Kumat juga. saya mendukung, semoga berhasil.
Jadi orang sukses memang sulit, tapi lebih sulit lagi kalau kamu tidak sukses.
Saya suka kata-katanya
artinya elu lg disiapin buat jd orang “plus”, makanya dikasih tikungan & tanjakan mlulu. ngerti & bersyukur harusnya…
Pingback: Fragment de la memory | Catatan Kaki