Metropolis memiliki banyak perspektif. Sesekali ia bikin penat penduduk. Di lain sisi ia hadir sebagai dambaan manusia mencari penghidupan. Metropolis pagi, siang, dan malam. Masing-masing sudut waktu itu menyuguhkan heterogenitas kisah.
Saya sering dikuasai perasaan aneh ketika terjebak ditengah jalan raya pagi di Surabaya. Angkot yang meniti aspal sedemikian lamban, hiruk-pikuk manusia berkaki lima di sekitar tugu pahlawan, terlebih tumpah ruah pasar pagi diiringi dengan gelak tawa individu dalam kerumunan.
Metropolis seperti Surabaya hampir tidak pernah kesepian. Selalu saja ada wujud yang meramaikan. Mungkin terkecuali hari minggu pagi, ketika wujud keramaian sedang tidak berjalan normal. Ketika ada sesuatu yang melakukan infasi kendaraan bermotor di jalanan. Tiap minggu pagi populasi mereka berkurang drastis di beberapa titik.
Saya di dalam angkot. Hanya ada saya, dan dua penumpang di ujung yang berbeda. Sedang tidak terjadi interaksi sosial diantara kami bertiga. Demikian juga jalan raya - lagi-lagi terasa aneh. Hilangnya wujud keramaian menjadikan jalanan seperti kota mati. Bagi saya, ini cara efektif mereduksi polusi. Bye-bye asap karbon
Lalu, dua sepeda ontel melewati kami. Angkot masih berjalan lamban, lajunya beriringan dengan dua sepeda ontel di sisi kiri jalan raya, mepet dekat trotoar. Laki-laki dan perempuan. Sepeda kuning dan hitam. Gedung-gedung tua berdiri kokoh disampingnya. Lakunya seolah turut menikmati euforia jalanan yang sepi.

Angkot masih berjalan. Lajunya dipercepat. Akhirnya ia memasuki dimensi lain. Nampak kerumunan manusia (lagi). Lengkap dengan motor yang diparkir dekat trotoar. Aha! Ternyata parkir ini yang memenjarakan kuda besi penduduk kota. Orang-orang meninggalkan motor di sebuah sarang. Lalu mereka memberdayakan kaki memutari “pasar” pagi. Banyak pedagang, banyak barang, banyak pula makanan. Harumnya sesekali menerabas memasuki jendela Angkot yang terbuka buka lebar. Ah, saya lapar
Memang sudah lazim, di persimpangan jalan Bank Mandiri – dengan gedung tuanya yang khas – ramai dengan segala macam jenis kendaraan. Saya berekspektasi, menemukan sudut itu sepi. Tapi pagi ini masih juga ramai, meski keramaiannya berwujud pasar dan orang.
Surabaya + Minggu + Pagi. Saya berestimasi, di sudutnya yang lain, Surabaya punya kisah yang menarik untuk digali. Ihwal aktivitas penduduk metropolis ketika menyambut “waktu independen” selama sehari.
~AN~

Belum pernah ke Surabaya. Pengeeeeeen
numpang lewat……………………………….hehehehe
udh lama ga kesini, bahasanya makin hebat aja..
semangat an!
wooyy.. ahahaaa…
link Hamster Copo tolong diganti ke blog.hoiron.info yaa!!!Pliis
Hmm… *berpikir*
Merasa tidak asing dengan persimpangan jalan itu ^^
cuma numpang lewat mbak,,liat” backlink..makasiiih banyak mbak udah setia masang link aku..
boleh mintak tolong enggak mbak,,linknya tolong diubah ke http://blog.hoiron.info/ yaa soale blog aku tak pindah kesana semua termasuk link mbak
monggo dicek
Keren kota tuanya…