
picture taken from Google
Ada satu persamaan antara blogger dan penulis (buku); keduanya sama-sama menulis untuk orang lain, kemudian mempublikasikan pemikiran mereka kepada masyarakat pembaca. Bedanya, penulis buku tentu punya kelebihan berupa status profesi yang diakui di mata masyarakat, yakni gelar profesi penulis. Dengan kata lain -dari perspektif saya-, seorang penulis (buku) punya “pangkat” dan pengakuan de facto. Sedangkan blogger statusnya dianggap Cuma sebagai himpunan orang yang suka nulis di ruang virtual. Titik. Meskipun demikian, saya mengakui bahwasannya ada diantara teman-teman blogger yang saya kenal, mereka punya tulisan dengan kualitas olah kata hampir mendekati (bahkan benar-benar setara) dengan kualitas penulis buku. bahkan diantara blogger-blogger tersebut kini ada yang sudah menerbitkan buku. tulisan saya saya sendiri gimana? kalo kata organisator, saya ini orang middle.. bagus enggak, amburadul iya ![]()
Entah itu blogger, entah itu penulis buku, atau bahkan seorang fesbuker sekalipun, masing-masing punya tanggung jawab moral terhadap tulisannya. Bukankah setiap perbuatan akan dimintai pertanggung jawaban kelak? begitu pula dengan tulisan kita. Isi dari sebuah paragraf adalah tanggung jawab penuh bagi penulisnya, karena kapasitasnya sebagai orang yang telah mempublikasikan gagasan di hadapan publik.
Esensi dari menulis itu terletak pada nilai manfaat isi tulisan bagi pembaca, sekaligus aplikasi nyata si penulis terhadap konten tulisan. Disini nanti letak tanggung jawab moral penulis, ketika ada tuntutan untuk tidak hanya mudah menuliskan, tapi bagaimana yang dituliskan itu mudah untuk dilakukan. Mudah sekali saya bilang, Ayo berbagi! Tapi, sudahkah saya berbagi hari ini? Mudah sekali saya bilang, Ayo Menulis! sementara penyakit males mikir, males nulis, writing block, masih sering menjangkiti otak saya.
Bolehlah kita berdalih, tulisan ini ditulis untuk mengingatkan diri saya pribadi. Tapi ingat juga, sekali kita meng-klik tombol publish pada detik itu juga tulisan kita resmi menjadi konsumsi publik. Blog (atau media virtual lainnya) tidak benar-benar menjadi media menulis privat, meski kepemilikannya memang dianggap bersifat personal. bagaimana pun juga, seorang penulis punya tanggung jawab moral terhadap paragraf yang telah menjadi konsumsi publik.
Meskipun keseharian sebagai seorang kuli tinta itu tanggung jawabnya besar, bukan berarti kita jadi takut lantas berhenti menulis karena timbulnya perasaan khawatir tidak bisa mempertanggung jawabkan tulisan kita kelak. Sebenarnya ketika kita memutuskan menulis di ruang virtual tanpa bayaran, sadar atau tidak kita punya visi yang sama yakni menjadikan tulisan Sederhana milik kita sebagai ladang untuk berbagi ilmu, dan berbagi manfaat.. tentu tiga kata itu menjadi visi tiap manusia yang berhakekat, dan menjadi visi tiap penulis di ruang virtual.
Sebuah kalimat dari sahabat IBSN yang begitu menginspirasi saya, sekaligus menjadi motivasi utama bagi saya menulis di ruang virtual tanpa mengharap imbalan meski hanya sepotong roti, tanpa mengharap pujian meski hanya sepatah kata,
Mari menulis untuk berbagi, karena…..Berbagi Tak Pernah Rugi,
Titik impas nilai kepuasan seorang penulis bukan terletak pada akumulasi imbalan uang ataupun dari rangkaian kata sanjungan yang mereka dapatkan dari buah pena, melainkan ketika mereka bisa berbagi manfaat melaui paragraf dengan orang lain (AN, 2011).
***
Arinda Nur Lathifah
* tentu saja saya bukan penulis, saya cuma kuli tinta ruang virtual.









