Tanggung Jawab Moral

picture taken from Google

Ada satu persamaan antara blogger dan penulis (buku); keduanya sama-sama menulis untuk orang lain, kemudian mempublikasikan pemikiran mereka kepada masyarakat pembaca. Bedanya, penulis buku tentu punya kelebihan berupa status profesi yang diakui di mata masyarakat, yakni gelar profesi penulis. Dengan kata lain -dari perspektif saya-, seorang penulis (buku) punya “pangkat” dan pengakuan de facto. Sedangkan blogger statusnya dianggap Cuma sebagai himpunan orang yang suka nulis di ruang virtual. Titik. Meskipun demikian, saya mengakui bahwasannya ada diantara teman-teman blogger yang saya kenal, mereka punya tulisan dengan kualitas olah kata hampir mendekati (bahkan benar-benar setara) dengan kualitas penulis buku. bahkan diantara blogger-blogger tersebut kini ada yang sudah menerbitkan buku. tulisan saya saya sendiri gimana? kalo kata organisator, saya ini orang middle.. bagus enggak, amburadul iya :mrgreen:

Entah itu blogger, entah itu penulis buku, atau bahkan seorang fesbuker sekalipun, masing-masing punya tanggung jawab moral terhadap tulisannya. Bukankah setiap perbuatan akan dimintai pertanggung jawaban kelak? begitu pula dengan tulisan kita. Isi dari sebuah paragraf adalah tanggung jawab penuh bagi penulisnya, karena kapasitasnya sebagai orang yang telah mempublikasikan gagasan di hadapan publik.

Esensi dari menulis itu terletak pada nilai manfaat isi tulisan bagi pembaca, sekaligus aplikasi nyata si penulis terhadap konten tulisan. Disini nanti letak tanggung jawab moral penulis, ketika ada tuntutan untuk tidak hanya mudah menuliskan, tapi bagaimana yang dituliskan itu mudah untuk dilakukan. Mudah sekali saya bilang, Ayo berbagi! Tapi, sudahkah saya berbagi hari ini? Mudah sekali saya bilang, Ayo Menulis! sementara penyakit males mikir, males nulis, writing block, masih sering menjangkiti otak saya.

Bolehlah kita berdalih, tulisan ini ditulis untuk mengingatkan diri saya pribadi. Tapi ingat juga, sekali kita meng-klik tombol publish pada detik itu juga tulisan kita resmi menjadi konsumsi publik. Blog (atau media virtual lainnya) tidak benar-benar menjadi media menulis privat, meski kepemilikannya memang dianggap bersifat personal. bagaimana pun juga, seorang penulis punya tanggung jawab moral terhadap paragraf yang telah menjadi konsumsi publik.

Meskipun keseharian sebagai seorang kuli tinta itu tanggung jawabnya besar, bukan berarti kita jadi takut lantas berhenti menulis karena timbulnya perasaan khawatir tidak bisa mempertanggung jawabkan tulisan kita kelak. Sebenarnya ketika kita memutuskan menulis di ruang virtual tanpa bayaran, sadar atau tidak kita punya visi yang sama yakni menjadikan tulisan  Sederhana milik kita sebagai ladang untuk berbagi ilmu, dan berbagi manfaat.. tentu tiga kata itu menjadi visi tiap manusia yang berhakekat, dan menjadi visi tiap penulis di ruang virtual.

Sebuah kalimat dari sahabat IBSN yang begitu menginspirasi saya, sekaligus menjadi motivasi utama bagi saya menulis di ruang virtual tanpa mengharap imbalan meski hanya sepotong roti, tanpa mengharap pujian meski hanya sepatah kata,

Mari menulis untuk berbagi, karena…..Berbagi Tak Pernah Rugi,

Titik impas nilai kepuasan seorang penulis bukan terletak pada akumulasi imbalan  uang ataupun dari rangkaian kata sanjungan yang mereka dapatkan dari buah pena, melainkan  ketika mereka bisa berbagi manfaat melaui paragraf dengan orang lain  (AN, 2011).

***

Arinda Nur Lathifah

* tentu saja saya bukan penulis, saya cuma kuli tinta ruang virtual.

Kantin dan Urusan Perut Mahasiswa

scc

kantin scc

Masih mengenai kuliner, kali ini saya bicara tentang dua kantin “ternama” di kampus saya. Kantin pertama namanya SCC (mirip merk bimbingan belajar). Terletak hanya beberapa meter dari masjid menara ilmu.Tempatnya bersih, terkesan mewah layaknya cafe. Atau jangan-jangan memang cafe?  Karena Sistem pembayarannya seperti cafe, ada kasir khusus untuk menampung uang pengunjung cafe kantin. Dibandingkan dengan kantin sederhana di Biologi, kantin SCC ini relatif sepi. Kalaupun ada mungkin Cuma beberapa mahasiswa “berkantung tebel”  sebagai pengunjungnya. Yang lain, saya perhatikan dari luar mereka Cuma numpang duduk sekedar ngadem sambil wifi-an. wajar saja sepi, untuk mendapatkan satu botol ukuran sedang air mineral dingin saya harus membayar Rp3.000,-. Di kampus saya penampilan bukan segalanya, pertimbangan utama mahasiswa sekelas saya (kelas kantung tipis) makanan yang layak konsumsi punya tiga parameter; pertama halal, kedua bersih, ketiga murah. Harga makanan yang bisa ditolerir kantung paling mahal adalah 5.000 perak (termasuk minum), bahkan kalau beruntung di daerah surabaya timur ini kita bisa kenyang dengan uang 3.000 perak.

bni
kantin BNI

Kedua, kantin BNI. Sebenarnya namanya bukan kantin BNI, melainkan kantin pusat. Tetapi karena letaknya bertetangga dengan bank BNI teman-teman lebih suka bilang “kantin BNI”. Asumsi Point kebersihan terpenuhi, tapi asumsi harga terjangkau tidak terpenuhi lantaran harga makanannya kurang mahasiswawi. Harga makanan paling mahasiswawi yaitu menu soto ayam, satu mangkuk ditaksir Rp6.000,- . menu soto ini satu-satunya makanan dengan kualitas seimbang antara harga, porsi, dan rasa. Bandingkan dengan menu nasi+sayur+telur dadar seharga Rp7.000,- padahal kalau di gebang atau keputih menu sekelas itu tadi bisa kami dapatkan dengan harga Rp4.000,- saja. Selisih seribu rupiah sudah merupakan jumlah berharga bagi perantau seperti kami. 1.000 rupiah kalikan 30 hari, jumlahnya ada 30.000 bisa buat nge-print, fotocopy, beli buku, beli sabun cuci, beli odol, dll. Benarlah kata pepatah, uang bukan segalanya tapi rakyat butuh uang.
Continue reading

Why Are You Blogging ?

 

picture taken from blog.belajarsitti.com

Menulis belum jadi kegiatan yang populer. Banyak orang suka membaca tapi tidak semua pembaca suka menulis. all writers read, some readers write.

Beberapa teman melontarkan pertanyaan pada saya, “nda, kamu ngapain sih ngeblog? Buat apa sih nulis-nulis di tempat virtual gitu?”

Saya blogging karena saya ingin nulis. Saya nulis karena saya suka. Tapi blog lebih dari sekedar kegiatan tulis-menulis. Aktifitas blogging itu meliputi tiga hal; writing, reading, dan social  networking. Bagi saya, Blog lebih dari sekedar social network. Ia berbeda dengan media micro-blogging seperti; facebook, twitter, friendster, dankawankawannya. Memang sama-sama media apresiasi, tapi blog lebih hebat lagi.

Kalau saya menganggap blog seperti sebuah perusahaan penerbitan. Direkturnya saya, penulisnya juga saya, designer layout juga saya, manajernya lagi-lagi saya sendiri. Saya adalah pemilik dari media publikasi massa elektronik ini. Semua isi dari media ini menjadi tanggung jawab saya sebagai penulis sekaligus editor. Narsis banget ya :D   narsis diblog sendiri sah-sah saja, kok. Asal narsisnya bertanggung jawab lho ya.. Continue reading

Tertarik Karena…

reading

image from: Google

Sambil nunggu antrian panjang menghadap dosen wali untuk proses validasi FRS , mumpung ada waktu luang iseng saja nih saya bikin analisa. kira-kira hal apa yang bikin  pembaca betah berlama-lama tenggelam dalam tulisan kita, atau memutuskan “menghabiskan”  sebuah tulisan ?

Nah, dari pengalaman saya sebagai penulis pembaca, berikut adalah alasan yang menjadi point ketertarikan saya terhadap sebuah tulisan. berikut ini analisa dari perspektif saya sebagai pembaca

1. Emotional Touch

salah satu tujuan dari menulis adalah, untuk mengkomunikasikan pemikiran kepada orang lain. Ketika seorang penulis mampu membangun sebuah emotional touch dalam tulisannya, artinya ia telah berhasil membangun komunikasi dengan pembaca. Emotional touch menjadikan tulisan seperti punya nyawa, memberi daya tarik yang berkesan, dan tentu saja membuat pembaca betah berlama-lama tenggelam dalam gagasan penulis.

2. Humor Sense
Bercanda bisa bikin otak fresh. Sisipan humor pada sebuah tulisan akan memberi kesan segar dan menghibur. Tapi sayangnya tidak banyak penulis yang bisa “melucu” dalam tulisan. Sebuah tulisan tidak harus 100% berisi humor, sisipan humor diantara pembicaraan serius bisa jadi salah satu daya tarik tersendiri. Menurut saya, selera humor itu bakat alami.

3. Kritis dan Analitis

analisis dalam sebuah tulisan bisa menunjukkan seperti apa penulisnya. Pembaca bisa memperoleh banyak info dari jenis tulisan seperti ini. (dari banyak blog saya baca, hanya beberapa saja yang punya gaya ,menulis seperti ini) . Saya menyebut mereka penulis cerdas. cerdas karena mereka mampu membawa analisis (yang biasanya membosankan) ke dalam tulisan yang menarik dibaca orang. Banyak orang memiliki pemikiran cerdas, tapi tidak banyak yang bisa menuliskannya.gaya analitis dan kritis sering saya temui di kolom Opini surat kabar.

Bagi saya, menyenangkan bisa menyusuri jalan pemikiran orang. Kita bisa Membandingkan persepsi dan perspektif mereka dengan pemikiran kita. Penulis dengan gaya tulisan kritis dan analitis seolah memberi kita kesempatan menyusuri pemikiran mereka lebih dalam.

4. Inspiratif

sebuah tulisan disukai karena punya sisi inspiratif. Penulis mampu membuat pembaca tergugah motivasinya hanya dengan membaca rangkaian kalimat dalam paragraf.
Saya menyebutnya tulisan bijak.

“kita tidak bisa memberi sesuatu yang tidak kita miliki, seseorang yang mampu membuat tulisan bernilai inspiratif pasti punya pribadi yang inspiratif dalam kenyatannya” -kata saya-

5. Berisi tapi ringan

tentu saja tulisan disukai karena isinya. Tetapi tidak banyak orang bisa menuliskan “gagasan berisi” dengan gaya bahasa ringan.

***
ini sekedar catatan pemikiran saya. “Tidak ada nilai mutlak kebenaran suatu pendapat.”
kalau menurut kamu, tulisan yang menarik itu seperti apa sih ? ada yang mau nambahin? :)

~AN~

Tanya Kenapa? Kenapa Tanya?

Andy F Noya,” mengapa anda tidak mengabdikan ilmu anda di Indonesia?” ujarnya kepada seorang ilmuan asal kediri yang berkiprah di negeri sakura. Dr.Khoirul Anwar Cuma diam sambil tersenyum, nampak ragu mau jawab bagaimana. Hening beberapa detik, hingga Bung Andy memecah keheningan,

“saya kira tidak usah dijawab karena kita semua sudah tau jawabannya” ujar Bung Andy sembari menutup acara Kick Andy episode itu.

Di atas, adalah sepenggal dialog terakhir antara Bung Andy F noya dan Dr.Khoirul Anwar seorang Ilmuan Indonesia yang sukses berkiprah di negeri Sakura. saya sengaja mencatat dialog tadi di notes ponsel sambil berdebat dalam pikiran, apa jawaban dari pertanyaan Bung Andy?  Bukan salah mereka juga saya pikir. Continue reading

MIMESIS

Usai sudah pergolakan pesta tahun baru. Marak didengungkan resolusi awal tahun. seolah menginterpretasikan semangat perubahan pada diri masing-masing individu. Pergantian tahun menyisakan euforia tersendiri dan spesial bagi sebagian orang. Bagaimana dengan sebagian lainnya?

Yang menganggap terompet tahun baru sebagai bisingnya polusi suara, dentuman kembang api tak ubahnya perusak keindahan alami malam, penggusur bunga tidur. Suara knalpot bising anak muda tak lebih dari upaya pemborosan energi juga penyebab meningkatnya emisi karbon planet bumi. Jutaan penduduk menggandrungi euforia tahun baru. Padahal Tanpa ada tiupan terompet, tanpa pesta kembang api, tanpa sahutan bising knalpot, tanpa asap motor yang bikin sesak napas penduduk kota, pergantian baru akan tetap bergulir. Satu berpesta, semua turut serta berkontribusi dalam sebuah acara pemborosan. Tidakkah ada cara lebih baik dari sekedar pesta pemborosan? Semua orang pesta-pora menyambut pergantian sepuluh menjadi sebelas. Dimana letak esensi sebuah pesta penyambutan 11 ???

Mereka mendengungkan perubahan ekonomi, politik, dan perubahan diri individu di tingkat paling kecil. Berubah, berubah, berubah! Satu berubah, semua turut serta. sebuah sirine tanda pesta perubahan diwakili dengan dibunyikannya  terompet tahun baru. Terompet, pesta, fireworks, konser tak lebih dari sebuah MIMESIS tahun baru saya rasa. Berubah tidak ada salahnya. Apalagi Hijrah dari keadaan kurang baik menjadi lebih baik adalah hal baik. Tetapi berubah tak perlu menunggu tahun berganti. Tidak turut serta pesta bukan berarti saya terlambat berubah. Berubah tak butuh terompet, cukup motivasi, niat, usaha, dan tindakan nyata.

Pribadi, Saya merasa tidak perlu latah berpesta-pora. Masih lebih baik hibernasi daripada menghabiskan waktu di tengah kota sembari menghirup sesaknya karbon monoksida knalpot kendaraan bermotor. Setidaknya dengan berhibernasi, mematikan lampu kamar, hemat listrik, hemat BBM, hemat energi. Saya tidak ikut serta dalam kegiatan pemborosan energi minyak bumi. Kegiatan berbau kapitalisme dan hedonisme.  Biar saja semua penduduk belahan bumi ber-euforia malam itu, menghitung berakhirnya detik-detik pergantian tahun.  saya tetap dengan kegiatan hibernasi malam hari. Tidak perlu menjadi Latah dengan tradisi orang-orang. Biar saya memaknai berubahnya angka dengan cara saya sendiri.

Berubah dari sekarang,

memulai  detik baru,

menit baru,

jam baru,

hari baru,

Karena pembaharuan tak perlu menunggu 10 menjadi 11.

~AN~

 

*mimesis
[n Sas] tiruan perilaku atau peristiwa antarmanusia

Sensus Pendatang Baru?

Surabaya timur, 23 September 2010

Sekitar ba’da isya ada sekelompok bapak-bapak dan polisi berkostum hijau mendatangi rumah kost kami. Spontan Saya kaget! Awalnya saya pikir bapak-bapak itu mau merazia sepeda motor, atau kalau tidak ya razia narkoba lah. Saya ya tenang-tenag saja lha wong saya bebas dari narkoba dan juga saya bukan pencuri sepeda motor :D

Eh, ternyata dugaan saya salah. Waktu itu kebetulan sekali saya mau keluar buat nge-print tugas. Sebelum keluar gerbang kost ditegur sama bapak-bapak baju hijau tadi,

bapak baju ij0, “mau kemana mbak? Mbak bawa KTP”

Saya,iya pak, saya bawa (tanpa curiga saya keluarkan KTP dari dompet). Ini pak”

Bapak baju ijo(BJI),” asli Gresik ya mbak?”

Saya, “iya pak”

BJI,” sudah berapa lama nge-kost disini?”

Saya,”baru aja pak. Saya kan maba. Baru 2 bulan”

BJI,”gini mbak, kami dari pemerintah kota sedang mengadakan survey penduduk di surabaya. Tujuannya untuk mendata pendatang baru di surabaya ini mbak”

Saya,” tujuannya untuk apa pak?”

BJI,” ya untuk survey mbak, survey pendatang baru. Kan ini habis lebaran”

Saya,” oh, yang seperti di jakarta itu kah?”

BJI,”iya mbak, betul”

Saya,”peraturan baru ya, pak?koq saya nggak tau?trus KTP saya mau diapain???”

BJI,” KTP mbak sama yang lainnya ini mau saya bawa dulu sampai mbak nanti bikin surat keterangan tinggal sementara di surabaya. Caranya mbak nanti bikin surat pengantar di RT,RW, trus mbak bawa surat pengantar itu ke kecamatan.”

Saya,” trus kapan KTP saya dikembalikan? Kalau saya butuh gimana?

BJI,”kan nanti tanggal 4 mbak ke kecamatan buat ngurus surat tinggal, nah itu nanti KTP mbak dikembalikan”

Saya,” wahhh! Saya sibuk pak! Hari senin itu saya ada kuliah dari pagi sampai soree. Dari jam tujuh sampai jam lima soree! Trus saya ngurusnya gimana donk pak?masa ga ada tenggang waktu? Kan ini mendadak juga bapak ngasih taunya??”

BJI,” harus tanggal 4 mbak! Kalo nggak gitu ntar disuruh ke pengadilan”

*seremm! Masa tiba-tiba saya disuruh ke pengadilan kalo telat? Kalo di pengadilan ada makelar kasus gimana??? Hwaaah! Piye ikii :( *

Saya,”ngurusnya itu BAYAR ga pak?

BJI,”wahh saya NGGAK TAU MBAK!”

*disini saya mulai bingung. Saya di surabaya kan tujuannya jelas untuk kuliah. Sudah ada KTM (kartu tanda mahasiswa) lha trus kenapamasih disuruh bikin surat keterangan tinggal sementara???? Kan sudah jelas saya di sini mau kuliah pak.. Trus kenapa harus bayar? Koq bapaknya nggak tau pembayarannya itu berapa rupiah????? *

*males berdebat sama bapak baju ijo tadi, akhirnya saya tinggal aja bapak tadi. Dan KTP saya beserta anak 1 kost yang jumlahnya puluhan tadi disita!!!! *

Haduuuh, Help me GOD…

ketika Pengkaderan Telah Menjadi Budaya

image from google

Entah sejak kapan budaya dan tradisi orientasi siswa/mahasiswa baru atau yang populer dengan nama OSPEK a.k.a PENGKADERAN mulai tumbuh mengakar di kalangan akademia. Saya tidak akan membahas darimana budaya ospek ini muncul, melainkan bagaimana implementasi serta manfaat yang “diharapkan” diperoleh dari implementasi kegiatan tersebut. Pendapat yang akan saya tulis ini berdasarkan dari sudut pandang saya pribadi yang notabene saat ini adalah junior di kampus saya. Dan saya akan mengutarakan opini dari sudut pandang saya sebagai junior. Sekali lagi “sebagai junior” :D

Dalam benak saya (sebagai junior) yang terlintas mengenai ospek/pengkaderan adalah hal yang berkaitan dengan senioritas, bentakan, tugas, kedisiplinan, tekanan mental, dan marah-marah. sepengetahuan saya, Pada dasarnya ospek mempunyai tujuan membentuk mahasiswa yang berkarakter. Karakter seperti apa yang ingin ditanamkan pada mahasiswa/siswa baru? Yaitu karakter disiplin, tegas, tahan banting, rasa saling menghargai serta menghormati, dan kepedulian terhadap kawan seperjuangan. Disisi lain, orientasi juga berusaha mengenalkan “anak baru” kepada lingkungan baru yang akan menjadi bagian hidup dan kesehariannya kelak. Membantu beradaptasi, mengakrabkan dengan kawan seperjuangan, serta menjalin suatu hubungan kekeluargaan antara senior sebagai orang lama dan junior sebagai penduduk baru.

Jadi apa yang perlu dipermasalahkan? Tujuannya baik gitu lho..

Saya disini tidak mempermasalahkan keberadaan ospek itu sendiri. Namun saya merasa  ada beberapa hal yang bisa jadi menyimpang dari tujuan orientasi ketika implementasi orientasi dilaksanakan. Misalnya saja senioritas. Apa itu senioritas? Sikap semena-mena senior terhadap junior. Ketika seorang senior menganggap dirinya patut dan wajib dihormati sebagai “orang lama” yang konon katanya sudah mengecap asam garam dunia. Bagi saya senioritas adalah suatu bentuk  keinginan seorang senior untuk disegani dan dihormati. Namun konteks hormat dan segan bisa berbeda jika dibuat hubungan seperti ini; segan karena hormat, atau hormat karena segan. Bingung ya? Jangan bingung dulu. Memang apa bedanya?

Dari perspektif saya, segan karena hormat adalah suatu kepantasan dan keharusan junior terhadap senior. Atau istilah dalam masyarakat yang kita kenal dalam bentuk yang tua menyayangi yang muda dan yang muda menghormati serta menyayangi yang tua. Jadi sikap segan itu timbul karena rasa hormat serta keinginan untuk saling menghargai.

Lalu bagaimana dengan hormat karena segan? Lagi-lagi ini menurut perspektif saya, hormat yang timbul karena segan adalah bentuk rasa “Takut” yang mengakibatkan reaksi hormat. Seperti pada hukum fisika,”dimana ada aksi, disitu ada reaksi” . Jadi hormat yang ini benar-benar bukan hormat dari dalam hati, melainkan hormat karena takut. Kalau sudah begini bentuk hormat itu akan lain.

Darimana istilah hormat karena segan itu muncul?

Saya tidak sepenuhnya setuju jika orientasi dianggap mampu membentuk karakter siswa/mahasiswa baru secara permanen. Saya contohkan sebuah fakta dari hasil pengamatan SEKILAS saya; pada masa orientasi yang berlangsung beberapa minggu, bulan, bahkan tahun. MAHASISWA BARU dilarang memakai celana JINS sewaktu mengikuti perkuliahan.  Dilarang memakai baju berbahan dasar kaos, harus memakai kemeja, dan lain sebagainya. Waktu itu ada salah seorang senior yang berkata pada kami,” kalian itu kalau kuliah jangan pakai celana jins, atau rok yang berbahan celana jins. Kalian itu kan masi maba (mahasiswa baru)” padahal, yang bicara sendiri mengenakan celana jins. Rasanya saya pingin protes sambil ketawa , tapi takut dianggap nggak sopan. Hehe :D atau jangan-jangan Cuma maba saja yang nggak boleh pakai jins? Trus kalau udah senior boleh ?  entahlah, saya belum paham. Padahal dosen saya juga pernah mengatakan kalau waktu mengikuti perkuliahan jangan pakai celana jins. Tapi kenapa senior itu masih pakai jins? Atau mungkin juga kebetulan aja yang saya temui ini senior yang “bandel”. Dan nggak semua senior bandel koq J *peace… mbak, mas senior.. J *

Mungkin segini dulu yang bisa saya ungkapkan menganai orientasi/ospek/pengkaderan. Kapan-kapan disambung lagi deh :mrgreen:

Oh ya, kalau ada yang punya opini lain silahkan ditulis di kolom komentar. Karena dalam opini ini, tidak sepenuhnya benar juga tidak sepenuhnya salah.. :mrgreen:

Bersambung…

Kenapa Malas Naik Angkutan Umum???

Bayangkan kita sedang terjebak di jalanan macet. Panas, pusing, polusi dimana-mana. Kendaraan bermotor memenuhi jalan raya. tidak ada celah untuk bergerak.Bernafas pun jadi susah karena asap buangan kendaraan bermotor seakan telah menguasai udara sekitar kita. Mau maju nggak bisa, mundur apalagi. Entah hanya perasaan saya atau memang ini kenyataan. Saya rasa jumlah pengendara kendaraan pribadi bermotor semakin banyak tiap harinya. Apa lagi sekarang banyak anak sekolah yang menggunakan lebih memilih menggunakan motor daripada angkutan umum. Semakin banyak kendaraan pribadi digunakan, semakin tinggi sumbangsih kita dalam menambah polusi udara. Kalau jaraknya dekat, Kenapa nggak naik angkutan umum aja? Apa sih yang bikin kita males naik angkot…? kira-kira ini alasannya:

ANGKOT ITU PANAS…..
Yaiyalah panas, lha wong nggak ada AC nya. Lagian tarif angkot kan murah. Apa yang kita bayar sebanding dengan fasilitas yang kita dapatkan. Kalau mau adem ya naik taxi aja, atau naik becak aja deh. Kan adem juga kena angin sepoi-sepoi :mrgreen:

ANGKOT ITU JALANNYA NGAWUR…
Angkot memang terrkenal dengan kebiasaan Serobot sana-sini, ngebut sembarangan, parkir seenaknya, berhenti di tempat yang tidak seharusnya. Tapi engga semua supir angkot punya tabiat seperti itu, ada juga yang sopan berkendara. Yaah, namanya juga manusia. Banyak ragamnya. Tiap hari driver angkot berpacu dengan yang namanya “kejar setoran”. Ini salah satu penyebab para driver angkot serobot sana sini dijalanan. Demi mengejar setoran. Belum lagi kalau musim liburan sekolah seperti ini pasti makin susah cari penumpang. Biasanya pengendara kendaraan pribadi akan kesal dengan tabiat supir angkot yang seperti ini, tapi cobalah mengalah. Mereka itu kan ngejar setoran, sedangkan kita tidak. Jadi lebih baik beri kesempatan pada mobil angkot untuk melaju mendahului kita.

OVERCROWDED CAR…
Pak supir angkot pasti akan berkata, “TUJUH EMPAT! TUJUH EMPAT!” yang artinya 7 orang bisa duduk di sisi kanan, dan 4 orang bisa duduk di sisi kiri. Normalnya, sekali muat mobil angkot mampu menampung +- 13 orang penumpang; 11 orang di kursi belakang, dan 2 orang duduk di samping pak supir. Tapi nggak jarang juga pak supir angkot memaksa kapasitas penumpang lebih dari itu. Dengan cara nambahin bangku sheet (ilustrasi box warna merah) di dalam dan di luar menghadap pintu. Nggak jarang juga ada yang bergelantungan di depan pintu. INI KAN BAHAYAAA. Angkot yang sempit jadi semakin sempit deh :( . Jadinya para penumpang di jejalkan layaknya barang-barang. Kambing aja nggak mau dijejalin, lha ini malah manusia dijejalkan dipaksa memenuhi angkot. Sekali lagi, hal ini dilakukan untuk mencapai target setoran mungkin …

Apa semua angkot seperti ini? Hmm, tidak juga sih. Tergantung supir angkotnya juga. Angkot overload kayak gini, membahayakan nggak ya???saya pribadi sih belum pernah menemui kejadian kecelakaan angkot disebabkan overload penumpang . tapi, please pak ! jangan maksa menuhin tempat kalau memang nggak muat  :(

AROMA THERAPHY KHAS ANGKOT…
Sudah tertulis jelas ada stiker DILARANG MEROKOK ditempel di pintu angkot. Tapi tetap saja ada penumpang yang ngerokok di dalamnya. Sadarkah anda? Kalau asap rokok yang anda hasilkan mengandung 3x lipat bahan pemicu kanker diudara, dan suatu tempat yang dipenuhi asap rokok adalah tempat yang lebih berbahaya daripada terjebak polusi di jalan raya yang macet… mau protes juga nggak enak, apa lagi kalo yang merokok itu pak supirnya sendiri. Ckckck.

Yang menarik, terkadang di dalam angkot dapat terjadi interaksi sosial antara sesama penumpang dengan berbagai latar belakang. Ada pelajar, mahasiswa, ibu-ibu yang mau ke pasar, karyawan, pengamen. Pernah saya satu angkot dengan seorang ibu-ibu, beliau bercerita kepada saya dan (walaupun kami nggak saling kenal) orang disebelah saya tentang pengalaman beliau 2X kecopetan waktu naik angkot. Modusnya bermacam-macam. Si Ibu bilang beliau seperti kena hipnotis, sampai akhirnya beliau menyerahkan semua uang hasil dagang selama seminggu. Ludes semua uang hasil kerja keras beliau. Dua kali ibu ini kena copet di dalam angkot. Ibu itu bilang, kalau misalnya ada yang tiba-tiba mukul pundak kamu, kamu pukul balik aja. Kalo engga’, kamu bisa kena “gendam”. Soalnya hipnotis itu akan berhasil pada orang yang pikirannya sedang kosong, atau bisa juga pada saat orang itu menepuk pundak kita, lalu kaget. Maka ada jeda waktu sekitar sepersekian detik dimana pikiran kita akan kosong. Dan disaat itulah para pelaku mulai melancarkan aksi menghipnotis alam bawah sadar kita.

Ya, alasan diatas sengaja saya kumpulkan dari pengalaman pribadi sekaligus pendapat teman-teman saya mengenai angkot. Dan karena alasan itu juga yang bikin males naik angkot. Mungkin jika sarana angkutan umum dapat diperbaiki sehingga bisa memberikan rasa nyaman dan aman bagi para pengguna, masyarakat jadi tidak ragu lagi untuk lebih memilih angkutan umum daripada kendaraan pribadi. Karena dengan begitu polusi di jalanan dapat dikurangi dan menciptakan lingkungan yang nyaman dan aman bagi kesehatan.
Karena dengan menggunakan angkutan umum kita dinilai sudah berpartisipasi dalam mengurangi polusi udara dari asap kendaraan bermotor, mengurangi macetnya jalan raya.

Hmmm kapan ya angkutan umum di Indonesia bisa jadi alat transportasi yang nyaman?

100 days goes to UN

kabar baik buat pelajar SMA yang sudah mendaftarkan diri mengikuti Ujian Nasional. kabar baiknya yaitu, jadwal Ujian Nasional akan dipercepat atau bahasa fisikanya mengalami akselerasi yang akan diadakan sekitar bulan maret minggu ke tiga.
”itu artinya kita akan lulus lebih cepat!!!” (iya kalo lulus :( )

Kenapa harus dipercepat?
selidik punya selidik, beberapa hari setelah saya dapat kabar mengenai pergeseran waktu ujian nasional SMA, iseng-iseng googling dan menemukan keterangan yang menjelaskan alasan ”kanapa UN SMA diajukan?”
disebutkan bahwa Badan Standardisasi Nasional Pendidikan (BSNP) bakal memberlakukan ujian ulangan bagi peserta yang gagal dalam ujian itu. (kalo gini sih, sama saja dengan dengan REMIDI UN) L
adanya penambahan jadwal ujian ulang bagi peserta UN yang gagal inilah yang mengakibatkan majunya jadwal UN tingkat SMA.

Sistim Baru UN 2010
Bukan hanya itu saja. ada kejutan lain yang telah disiapkan oleh penyelenggara ujian nasional. kalau pada tahun-tahun sebelumya telah diterapkan kebijakan sistim silang untuk pengawas Ujian Nasional. untuk tahun ini justru murid-murid peserta Ujian Nasional yang akan disilang dengan sekolah lain. sekolah-sekolah akan dikelompokkan berdasarkan wilayah tertentu. Setiap kelompok akan berisi 4-5 sekolah dan sistem silang antar-sekolah itu akan diterapkan dalam masing-masing kelompok untuk memudahkan peserta dalam mengikuti UN.
kira-kira penjelasannya seperti ini:
siswa sekolah A, B, dan C akan diacak diacampur jadi satu, setalah itu, siswa yang telah dicampur itu nantinya akan menempati tempat yang telah ditentukan dengan cara pengundian. jadi, dalam sekolah A akan ada peserta UN dari sekoalah B,C, dan D. dan seterusnya. dan dalam satu ruangan UN terdiri dari peserta UN dari sekolah B,C,D, dan A.

Tuh, kan! makin ribet aja nih !

Positive Thinking, dong!
mau nggak mau, tetep harus mau! tapi kita nggak perlu takut dengan peraturan-peraturan baru UN yang ”njelimet” bin ”ribet” itu. yang perlu dilakukan mulai sekarang adalah persiapan yang matang baik dari segi fisik, materi, dan mental terutama. bagaimana pun juga, sistem baru tersebut diterapkan dengan niat baik. yaitu untuk meminimalisasi tindak kecurangan yang dilakukan oleh guru dan pihak sekolah yang banyak ditemui dalam pelaksanaan UN tahun sebelumnya.
toh, dengan diajukannya jadwal UN, kita jadi punya banyak waktu untuk mempersiapkan diri menghadapi SNMPTN kan?
:mrgreen:

dawuhipun eyang Einstein,” jika ada perubahan dari sebuah sistim, maka kamu juga harus melakukan perubahan yang luar biasa, jika kamu berubahnya biasa-biasa saja, maka kamu akan menjadi korban perubahan sistim itu sendiri”

nah lo! nggak usah takut sama yang namanya UN, mulai sekarang mari kita canangkan ”program 100 hari menuju UN” (kayak menteri kabinet aja nih)

kita semua tahu bahwa peraturan ujian nasional sampai saat ini menimbulkan keresahan dikalangan pelajar. pasalnya, hasil belajar selama tiga tahun ini hanya ditentukan dalam waktu Tujuh hari dengan tujuh mata pelajaran.  LULUS dan TIDAKnya seorang siswa, bergantung pada hasil tujuh hari  UN. pantas kah???