Sudut Pagi Surabaya

006

Metropolis memiliki banyak perspektif. Sesekali ia bikin penat penduduk. Di lain sisi ia hadir sebagai dambaan manusia mencari penghidupan. Metropolis pagi, siang, dan malam. Masing-masing sudut waktu itu menyuguhkan heterogenitas kisah.

Saya sering dikuasai perasaan aneh ketika terjebak ditengah jalan raya pagi di Surabaya. Angkot yang meniti aspal sedemikian lamban, hiruk-pikuk manusia berkaki lima di sekitar tugu pahlawan, terlebih tumpah ruah pasar pagi diiringi dengan gelak tawa individu dalam kerumunan.

Metropolis seperti Surabaya hampir tidak pernah kesepian. Selalu saja ada wujud yang meramaikan. Mungkin terkecuali hari minggu pagi, ketika wujud keramaian sedang tidak berjalan normal. Ketika ada sesuatu yang melakukan infasi kendaraan bermotor di jalanan. Tiap minggu pagi populasi mereka berkurang drastis di beberapa titik.

Saya di dalam angkot. Hanya ada saya, dan dua penumpang di ujung yang berbeda. Sedang tidak terjadi interaksi sosial diantara kami bertiga. Demikian juga jalan raya -  lagi-lagi terasa aneh. Hilangnya wujud keramaian menjadikan jalanan seperti kota mati. Bagi saya, ini cara efektif mereduksi polusi. Bye-bye asap karbon :)

Lalu, dua sepeda ontel melewati kami. Angkot masih berjalan lamban, lajunya  beriringan dengan dua sepeda ontel di sisi kiri jalan raya, mepet dekat trotoar. Laki-laki dan perempuan. Sepeda kuning dan hitam. Gedung-gedung tua berdiri kokoh disampingnya. Lakunya seolah turut menikmati euforia jalanan yang sepi.

Angkot masih berjalan. Lajunya dipercepat. Akhirnya ia memasuki dimensi lain. Nampak kerumunan manusia (lagi). Lengkap dengan motor yang diparkir dekat trotoar. Aha! Ternyata parkir ini yang memenjarakan kuda besi penduduk kota. Orang-orang meninggalkan motor di sebuah sarang. Lalu mereka memberdayakan kaki memutari “pasar” pagi. Banyak pedagang, banyak barang, banyak pula makanan. Harumnya sesekali menerabas memasuki jendela Angkot yang terbuka buka lebar. Ah, saya lapar :mrgreen:

Memang sudah lazim,  di persimpangan jalan Bank Mandiri – dengan gedung tuanya yang khas – ramai dengan segala macam jenis kendaraan. Saya berekspektasi, menemukan sudut itu sepi. Tapi pagi ini masih juga ramai, meski keramaiannya berwujud pasar dan orang.

Surabaya + Minggu + Pagi. Saya berestimasi, di sudutnya yang lain, Surabaya punya kisah yang menarik untuk digali. Ihwal aktivitas penduduk metropolis ketika menyambut “waktu independen” selama sehari.

~AN~

gerbong berserakan

Kampung halaman kami minim tempat wisata. Terkadang kami harus menciptakannya sendiri. Selama kurun waktu hampir delapan belas tahun saya tinggal di kota ini, sebelumnya tak pernah saya mengetahui ihwal keberadaan tempat ini. Suatu tempat di sudut kota yang tak banyak diketahui khalayak –terutama mereka para pendatang. Untuk mencapai lokasi, kamu harus berkendara menjauhi keramaian pusat kota. Melintasi jalan raya yang lazimnya menjadi lintasan truk-truk besar pengangkut hasil industri. Bersiaplah menempuh perjalanan dibawah naungan teriknya matahari siang, dan hiruplah panas udara berpolusi khas kota industri. Pepohonan penghijau jalan nampak berdiri jarang, semakin menambah penderitaan akibat kepanasan.

Saya menyebutnya dengan “Stasiun tua tanpa nama”. lahan kosong tempat gerbong berserakan. Sejauh mata memandang kamu hanya akan menemukan gerbong-gerbong kereta tanpa tuan. Berbaris rapi seolah sedang menunggu untuk dijalankan kembali. Di petak tanah ini tertanam rangkaian besi rel-rel kereta api yang tak lagi pernah dilintasi. Berkas-berkas karat semakin meyakinkan siapa saja bahwasannya gerobong kereta ini tak pernah lagi berfungsi.

Bentuk fisik gerbong-gerbong kereta yakni dengan atap rendah tanpa ada sheet/ tempat duduk penumpang. Mengamati bentuk fisiknya, jelas ini bukan kereta penumpang. Prediksi saya semakin diperkuat dengan ukiran rentetan huruf di salah satu sisi gerbong. Dari sisi samping gerbong tersebut akan terbaca jelas kalimat “KURS angkutan Semen…” dari situ saya berasumsi kalau ini semua adalah kereta barang milik pabrik Industri.

Tempat ini mirip sebuah stasiun, atau lebih tepatnya bekas stasiun. Tentunya stasiun kereta(barang) yang tak lagi berfungsi. Kali pertama saya menjamahnya bersama dengan sahabat era putih abu-abu, benak saya seketika diliputi pertanyaan borongan. Namun tak satu pun mampu terjawab oleh database pengetahuan otak. Entah siapa pemilik tempat ini, pemilik stasiun ini, pemilik gerbong-gerbong kereta ini. Milik pemerintah daerah, atau milik perusahaan industri? Saya belum mendapat data informasi valid terkait dengan fungsi asli tempat ini. Bekas stasiun kereta api kah? Atau sebuah stasiun pribadi milik industri dengan perannya sebagai tempat transit kereta-kereta barang pendistribusi hasil industri? Continue reading

Dari Rumah Tembakau sampai Jalan Gula

Saya heran jika teman-teman memilih mall sebagai tempat traveling refreshing. Mau lihat apa sih,  di mall? Saya bisa prediksikan, betapa Membosankannya melihat pemandangan baju-baju di gantungan, muter-muter naik-turun eskalator dengan suasana dinginnya udara sejuk khas AC. kalau saya lebih suka bergaul dengan panasnya surabaya daripada harus thawaf muterin mall ngeliatain gantungan baju..

Tidak jauh dari lokasi Jembatan Merah Surabaya berdiri sebuah Museum berbasis sejarah industri, namanya Museum house of sampoerna. Keberadaanya sebagai tempat wisata berbasis museum sejarah cukup mendapat apresiasi pengunjung, karena alasan itulah tempat ini bisa dibilang menjadi salah satu museum bernasib baik, lantaran museum lain di surabaya jarang mendapat apresiasi kunjungan sebaik museum ini.

Saya pribadi lebih suka menyebutnya sebagai rumah tembakau karena seketika setelah kamu membuka pintu masuk museum, aroma tembakau kering dan cengkeh langsung menusuk hidung. Harum aroma cengkeh dan tembakau seperti ini yang dahulu pernah menarik orang-orang eropa, lantas membangkitkan nafsu kolonialisme di benaknya. Mereka rela melakukan ekspedisi maut menyusuri samudera demi rempah-rempah nusantara kita. Hanya demi sekarung cengkeh, ambisi menguasai, dan kekayaan  nyawa mereka pertaruhkan sementara nurani mereka abaikan. Loh, kok jadi ngomongin penjajah..?!? kembali ke rumah tembakau. Continue reading

Krawu

krawu

picture taken from"http://farm2.static.flickr.com/1260/540744017_c488dcc7d1.jpg"

Bagi otak kiri saya, hal tersulit kedua setelah kalkulus adalah “menerjemahkan rasa kedalam bahasa”.  bagaimana kamu menerjemahkan rasa manis? Manis itu manis, entah bagaimana menerjemahkan manis kedalam bahasa. Saya mau mengajak anda mengenal sebuah kota melalui “rasa”. Tempat ini jaraknya sekitar 2 jam perjalanan naik angkot dari Surabaya Timur, atau sekitar 1 jam perjalanan saja kalau naik motor.  Setiap kali saya sebut nama kota ini, yang terlintas dibenak orang pertama kali adalah semen.  Gresik (baca:nggersik) identik dengan semen, begitu kata orang-orang. Andaikata  kau tau nggersik itu tak sekedar semen, kawan.  Sekarang saya mau ajak anda menyusuri nggersik melalui “rasa”.

Namanya KRAWU, konon katanya berasal dari kata “krawukan” dalam bahasa jawa artinya makan pakai tangan. Nasi krawu memang tak setenar spesies nasi lain seperti kebuli nan berlemak, nasi uduk, nasi padang nan pedas, dan macam-macam nasi lain di nusantara. Mungkin ini akibat saya punya keturunan darah arek nggersik turunan dari bapak, biarpun tak tenar nasi krawu tetap spesial di lidah kampung saya.

Sesuatu yang khas dari nasi krawu itu, cara tukang masak mengolah daging sebagai lauk utama nasi krawu. Daging yang dijadikan lauk nasi krawu harus daging dengan serat besar-besar, agar mudah disuwir-suwir. Daging suwir nantinya diolah dengan bumbu Continue reading

Kantin dan Urusan Perut Mahasiswa

scc

kantin scc

Masih mengenai kuliner, kali ini saya bicara tentang dua kantin “ternama” di kampus saya. Kantin pertama namanya SCC (mirip merk bimbingan belajar). Terletak hanya beberapa meter dari masjid menara ilmu.Tempatnya bersih, terkesan mewah layaknya cafe. Atau jangan-jangan memang cafe?  Karena Sistem pembayarannya seperti cafe, ada kasir khusus untuk menampung uang pengunjung cafe kantin. Dibandingkan dengan kantin sederhana di Biologi, kantin SCC ini relatif sepi. Kalaupun ada mungkin Cuma beberapa mahasiswa “berkantung tebel”  sebagai pengunjungnya. Yang lain, saya perhatikan dari luar mereka Cuma numpang duduk sekedar ngadem sambil wifi-an. wajar saja sepi, untuk mendapatkan satu botol ukuran sedang air mineral dingin saya harus membayar Rp3.000,-. Di kampus saya penampilan bukan segalanya, pertimbangan utama mahasiswa sekelas saya (kelas kantung tipis) makanan yang layak konsumsi punya tiga parameter; pertama halal, kedua bersih, ketiga murah. Harga makanan yang bisa ditolerir kantung paling mahal adalah 5.000 perak (termasuk minum), bahkan kalau beruntung di daerah surabaya timur ini kita bisa kenyang dengan uang 3.000 perak.

bni
kantin BNI

Kedua, kantin BNI. Sebenarnya namanya bukan kantin BNI, melainkan kantin pusat. Tetapi karena letaknya bertetangga dengan bank BNI teman-teman lebih suka bilang “kantin BNI”. Asumsi Point kebersihan terpenuhi, tapi asumsi harga terjangkau tidak terpenuhi lantaran harga makanannya kurang mahasiswawi. Harga makanan paling mahasiswawi yaitu menu soto ayam, satu mangkuk ditaksir Rp6.000,- . menu soto ini satu-satunya makanan dengan kualitas seimbang antara harga, porsi, dan rasa. Bandingkan dengan menu nasi+sayur+telur dadar seharga Rp7.000,- padahal kalau di gebang atau keputih menu sekelas itu tadi bisa kami dapatkan dengan harga Rp4.000,- saja. Selisih seribu rupiah sudah merupakan jumlah berharga bagi perantau seperti kami. 1.000 rupiah kalikan 30 hari, jumlahnya ada 30.000 bisa buat nge-print, fotocopy, beli buku, beli sabun cuci, beli odol, dll. Benarlah kata pepatah, uang bukan segalanya tapi rakyat butuh uang.
Continue reading

semanggi

 

picture taken from: http://typical-food-surabaya.blogspot.com/

picture taken from: http://typical-food-surabaya.blogspot.com/

 

Tampilannya sederhana. Ia hanya setangkup kukusan daun semanggi dibungkus pincuk daun pisang, dengan siraman bumbu kental dan rasa khas menggugah selera. Bagi petani, semanggi itu jenis gulma pengganggu tanaman yang tumbuh liar di area persawahan. Semanggi tak lebih dari jenis tumbuhan paku-pakuan tak punya nilai jual. Tapi di tangan orang Surabaya, semanggi berubah menjadi makanan tradisional yang  digemari banyak kalangan.

Ditemani dengan rempeyek atau kerupuk , semanggi menjadi santapan sederhana nan istimewa. tanpa campuran bumbu, daun semanggi yang dimasak dengan cara dikukus ini punya tekstur rasa manis di lidah. selain itu semanggi juga kaya serat sehingga baik buat pencernaan. biasanya dalam penyajian kuliner tradisional khas surabaya ini, pedagang semanggi mencampurnya dengan daun ubi jalar. namun tetap tak mengubah rasa khas daun semanggi.

rahasia kelezatan semanggi sebenarnya terletak pada mixture bumbu yang menjadi inti dari kelezatan makanan tradisional ini. komposisi bumbu semanggi sangat sederhana, terdiri dari ubi jalar, kacang tanah, dan gula jawa. ketiga bahan dasar bumbu tersebut diolah sedemikian rupa dengan proporsi tertentu menjadikannya berkesan dilidah penikmatnya.  kelezatan rasa tradisional  Semanggi seolah menyihir lidah saya untuk menjadi penggemar kuliner tradisional ini semenjak belasan tahun yang lalu.

Namun sayangnya  saat ini tak mudah menemukan penjual semanggi, bahkan di tempat kuliner ini lahir sekalipun.

***

Semanggi  hanyalah  satu dari sekian banyak kisah kuliner tradisional yang terancam eksistensinya. Hukum ekonomi tetap berlaku, tidak ada konsumen maka tidak ada produsen. Bagaimana orang tertarik menjual semanggi kalau konsumennya saja tidak ada? mari lestarikan kuliner tradisional nusantara dengan menjadi konsumen setianya.

~AN~

”Kita asing dengan diri sendiri sebab apa yang kita miliki sekarang (termasuk makanan) adalah hasil meniru kebudayaan orang lain,”
(Prof Murdijati Gardjito)

Ritme kehidupan

agaknya sedikit berbelit-belit di luar sini. tugas yang melilit otak saya, pengkaderan tak kunjung usai (bahkan kata senior belum dimulai, tapi tugasnya udah aneh-aneh), sampai dengan beberapa urusan yang agaknya merepotkan. ya, memang kesibukan adalah bagian dari ritme kehidupan. *sepertinya sekarang saya mulai sok jadi orang sibuk* saya memang sedikit menjauhkan diri dari blog ini.alasannya? beradaptasi kawan :) saya sedang beradaptasi dengan ritme baru. membangun mimpi-mimpi baru. setelah mimpi yang lama hancur lebur tiada sisa.
ditengah segala hal yang saya sebut dengan “kesibukan”, saya sadar begitu banyak hal kecil di sekitar saya yang nampaknya sering terabaikan. keindahan ritme kehidupan di sisi yang lain. dan kini saya menyempatkan diri mengabadikannya dalam potret iseng kamera seadanya. saya beri judul…

ALBUM RITME KEHIDUPAN

“merah-putih” @ Diesnatalis ITS 2010

“young generation spirit” ketika mahasiswa membangun idealisme mereka…

“jamur kayu di institut tengah sawah” bahkan jamur tak pernah protes meski harus hidup di atas tumpukan sampah organisme lain :)

“sleeping cat” percayalah, kenikmatan tidur tak dapat dibeli dengan uang

‘reach the sky, absorb the suns’ fotosintesis

Sensus Pendatang Baru?

Surabaya timur, 23 September 2010

Sekitar ba’da isya ada sekelompok bapak-bapak dan polisi berkostum hijau mendatangi rumah kost kami. Spontan Saya kaget! Awalnya saya pikir bapak-bapak itu mau merazia sepeda motor, atau kalau tidak ya razia narkoba lah. Saya ya tenang-tenag saja lha wong saya bebas dari narkoba dan juga saya bukan pencuri sepeda motor :D

Eh, ternyata dugaan saya salah. Waktu itu kebetulan sekali saya mau keluar buat nge-print tugas. Sebelum keluar gerbang kost ditegur sama bapak-bapak baju hijau tadi,

bapak baju ij0, “mau kemana mbak? Mbak bawa KTP”

Saya,iya pak, saya bawa (tanpa curiga saya keluarkan KTP dari dompet). Ini pak”

Bapak baju ijo(BJI),” asli Gresik ya mbak?”

Saya, “iya pak”

BJI,” sudah berapa lama nge-kost disini?”

Saya,”baru aja pak. Saya kan maba. Baru 2 bulan”

BJI,”gini mbak, kami dari pemerintah kota sedang mengadakan survey penduduk di surabaya. Tujuannya untuk mendata pendatang baru di surabaya ini mbak”

Saya,” tujuannya untuk apa pak?”

BJI,” ya untuk survey mbak, survey pendatang baru. Kan ini habis lebaran”

Saya,” oh, yang seperti di jakarta itu kah?”

BJI,”iya mbak, betul”

Saya,”peraturan baru ya, pak?koq saya nggak tau?trus KTP saya mau diapain???”

BJI,” KTP mbak sama yang lainnya ini mau saya bawa dulu sampai mbak nanti bikin surat keterangan tinggal sementara di surabaya. Caranya mbak nanti bikin surat pengantar di RT,RW, trus mbak bawa surat pengantar itu ke kecamatan.”

Saya,” trus kapan KTP saya dikembalikan? Kalau saya butuh gimana?

BJI,”kan nanti tanggal 4 mbak ke kecamatan buat ngurus surat tinggal, nah itu nanti KTP mbak dikembalikan”

Saya,” wahhh! Saya sibuk pak! Hari senin itu saya ada kuliah dari pagi sampai soree. Dari jam tujuh sampai jam lima soree! Trus saya ngurusnya gimana donk pak?masa ga ada tenggang waktu? Kan ini mendadak juga bapak ngasih taunya??”

BJI,” harus tanggal 4 mbak! Kalo nggak gitu ntar disuruh ke pengadilan”

*seremm! Masa tiba-tiba saya disuruh ke pengadilan kalo telat? Kalo di pengadilan ada makelar kasus gimana??? Hwaaah! Piye ikii :( *

Saya,”ngurusnya itu BAYAR ga pak?

BJI,”wahh saya NGGAK TAU MBAK!”

*disini saya mulai bingung. Saya di surabaya kan tujuannya jelas untuk kuliah. Sudah ada KTM (kartu tanda mahasiswa) lha trus kenapamasih disuruh bikin surat keterangan tinggal sementara???? Kan sudah jelas saya di sini mau kuliah pak.. Trus kenapa harus bayar? Koq bapaknya nggak tau pembayarannya itu berapa rupiah????? *

*males berdebat sama bapak baju ijo tadi, akhirnya saya tinggal aja bapak tadi. Dan KTP saya beserta anak 1 kost yang jumlahnya puluhan tadi disita!!!! *

Haduuuh, Help me GOD…

Kenapa Malas Naik Angkutan Umum???

Bayangkan kita sedang terjebak di jalanan macet. Panas, pusing, polusi dimana-mana. Kendaraan bermotor memenuhi jalan raya. tidak ada celah untuk bergerak.Bernafas pun jadi susah karena asap buangan kendaraan bermotor seakan telah menguasai udara sekitar kita. Mau maju nggak bisa, mundur apalagi. Entah hanya perasaan saya atau memang ini kenyataan. Saya rasa jumlah pengendara kendaraan pribadi bermotor semakin banyak tiap harinya. Apa lagi sekarang banyak anak sekolah yang menggunakan lebih memilih menggunakan motor daripada angkutan umum. Semakin banyak kendaraan pribadi digunakan, semakin tinggi sumbangsih kita dalam menambah polusi udara. Kalau jaraknya dekat, Kenapa nggak naik angkutan umum aja? Apa sih yang bikin kita males naik angkot…? kira-kira ini alasannya:

ANGKOT ITU PANAS…..
Yaiyalah panas, lha wong nggak ada AC nya. Lagian tarif angkot kan murah. Apa yang kita bayar sebanding dengan fasilitas yang kita dapatkan. Kalau mau adem ya naik taxi aja, atau naik becak aja deh. Kan adem juga kena angin sepoi-sepoi :mrgreen:

ANGKOT ITU JALANNYA NGAWUR…
Angkot memang terrkenal dengan kebiasaan Serobot sana-sini, ngebut sembarangan, parkir seenaknya, berhenti di tempat yang tidak seharusnya. Tapi engga semua supir angkot punya tabiat seperti itu, ada juga yang sopan berkendara. Yaah, namanya juga manusia. Banyak ragamnya. Tiap hari driver angkot berpacu dengan yang namanya “kejar setoran”. Ini salah satu penyebab para driver angkot serobot sana sini dijalanan. Demi mengejar setoran. Belum lagi kalau musim liburan sekolah seperti ini pasti makin susah cari penumpang. Biasanya pengendara kendaraan pribadi akan kesal dengan tabiat supir angkot yang seperti ini, tapi cobalah mengalah. Mereka itu kan ngejar setoran, sedangkan kita tidak. Jadi lebih baik beri kesempatan pada mobil angkot untuk melaju mendahului kita.

OVERCROWDED CAR…
Pak supir angkot pasti akan berkata, “TUJUH EMPAT! TUJUH EMPAT!” yang artinya 7 orang bisa duduk di sisi kanan, dan 4 orang bisa duduk di sisi kiri. Normalnya, sekali muat mobil angkot mampu menampung +- 13 orang penumpang; 11 orang di kursi belakang, dan 2 orang duduk di samping pak supir. Tapi nggak jarang juga pak supir angkot memaksa kapasitas penumpang lebih dari itu. Dengan cara nambahin bangku sheet (ilustrasi box warna merah) di dalam dan di luar menghadap pintu. Nggak jarang juga ada yang bergelantungan di depan pintu. INI KAN BAHAYAAA. Angkot yang sempit jadi semakin sempit deh :( . Jadinya para penumpang di jejalkan layaknya barang-barang. Kambing aja nggak mau dijejalin, lha ini malah manusia dijejalkan dipaksa memenuhi angkot. Sekali lagi, hal ini dilakukan untuk mencapai target setoran mungkin …

Apa semua angkot seperti ini? Hmm, tidak juga sih. Tergantung supir angkotnya juga. Angkot overload kayak gini, membahayakan nggak ya???saya pribadi sih belum pernah menemui kejadian kecelakaan angkot disebabkan overload penumpang . tapi, please pak ! jangan maksa menuhin tempat kalau memang nggak muat  :(

AROMA THERAPHY KHAS ANGKOT…
Sudah tertulis jelas ada stiker DILARANG MEROKOK ditempel di pintu angkot. Tapi tetap saja ada penumpang yang ngerokok di dalamnya. Sadarkah anda? Kalau asap rokok yang anda hasilkan mengandung 3x lipat bahan pemicu kanker diudara, dan suatu tempat yang dipenuhi asap rokok adalah tempat yang lebih berbahaya daripada terjebak polusi di jalan raya yang macet… mau protes juga nggak enak, apa lagi kalo yang merokok itu pak supirnya sendiri. Ckckck.

Yang menarik, terkadang di dalam angkot dapat terjadi interaksi sosial antara sesama penumpang dengan berbagai latar belakang. Ada pelajar, mahasiswa, ibu-ibu yang mau ke pasar, karyawan, pengamen. Pernah saya satu angkot dengan seorang ibu-ibu, beliau bercerita kepada saya dan (walaupun kami nggak saling kenal) orang disebelah saya tentang pengalaman beliau 2X kecopetan waktu naik angkot. Modusnya bermacam-macam. Si Ibu bilang beliau seperti kena hipnotis, sampai akhirnya beliau menyerahkan semua uang hasil dagang selama seminggu. Ludes semua uang hasil kerja keras beliau. Dua kali ibu ini kena copet di dalam angkot. Ibu itu bilang, kalau misalnya ada yang tiba-tiba mukul pundak kamu, kamu pukul balik aja. Kalo engga’, kamu bisa kena “gendam”. Soalnya hipnotis itu akan berhasil pada orang yang pikirannya sedang kosong, atau bisa juga pada saat orang itu menepuk pundak kita, lalu kaget. Maka ada jeda waktu sekitar sepersekian detik dimana pikiran kita akan kosong. Dan disaat itulah para pelaku mulai melancarkan aksi menghipnotis alam bawah sadar kita.

Ya, alasan diatas sengaja saya kumpulkan dari pengalaman pribadi sekaligus pendapat teman-teman saya mengenai angkot. Dan karena alasan itu juga yang bikin males naik angkot. Mungkin jika sarana angkutan umum dapat diperbaiki sehingga bisa memberikan rasa nyaman dan aman bagi para pengguna, masyarakat jadi tidak ragu lagi untuk lebih memilih angkutan umum daripada kendaraan pribadi. Karena dengan begitu polusi di jalanan dapat dikurangi dan menciptakan lingkungan yang nyaman dan aman bagi kesehatan.
Karena dengan menggunakan angkutan umum kita dinilai sudah berpartisipasi dalam mengurangi polusi udara dari asap kendaraan bermotor, mengurangi macetnya jalan raya.

Hmmm kapan ya angkutan umum di Indonesia bisa jadi alat transportasi yang nyaman?

PPLH Seloliman: Mengenal Alam Lebih Dekat

17-18 april 2008, kami berkesempatan mengunjungi Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) seloliman. Kegiatan studi alam yang bertujuan mengenalkan kami kepada alam secara langsung dengan lebih dekat. Seperti bagaimana menggunakan potensi alam tanpa merusak keseimbangan serta kelestarian lingkungan. PPLH(Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup) seloliman, terletak di desa seloliman, kecamatan Trawas, kabupaten Mojokerto. Didirikan pada tahun 1990 dengan tujuan untuk mewujudkan masyarakat yang sadar dan peduli akan lingkungan sebagai tempat tinggal yang perlu dijaga kelestariannya. PPLH sendiri merupakan lembaga swadaya masyarakat yang bergerak dibidang lingkungan hidup. Dibangun di area seluas 3.5 hektar, PPLH seloliman menyajikan pemandangan alam yang indah memberikan kesempatan kepada kami untuk mempelajari konsep pemanfaatan potensi alam yang ramah lingkungan. Disini kita bisa menikmati suasana hutan alami dan sungai yang mengalir jernih.Area PPLH yang bernuansa hutan alam membuat kita merasa bagaikan berada di sebuah perumahan ditengah hutan. Bangunan di PPLH seloliman didominasi dengan kayu sehingga semakin mengentalkan suasana menyatu dengan alam. Pengunjungnya tidak hanya penduduk sekitar saja, namun juga dari dalam kota hingga luar kota. Mulai dari kalangan masyarakat umum, pelajar TK, SD, SMP, SMA sampai dengan mahasiswa yang akan melakukan penelitian. Diperkenalkan kepada kami berbagai macam konsep pengolahan teknologi berbasis ramah lingkungan yang dikembangkan oleh PPLH. Seperti energi alternatif solar cell, budidaya tanaman, pengolahan sampah, pengolahan pupuk, pertanian organik, dan juga pembangkit listrik tenaga mikro-hidro (PLTMH).

MENGUBAH ARUS AIR SUNGAI MENJADI LISTRIK

Pembangkit listrik tenaga mikro-hidro atau dikenal dengan PLTMH. Mikro yang berarti kecil dan hidro berarti air, maksudnya pembangkit listrik tenaga mikro-hidro memanfaatkan aliran sungai yang tidak terlalu deras sebagai pembangkit listrik yang menghasilkan daya listrik dan cukup untuk menerangi satu desa.Secara sederhana, ada beberapa bagian dari sistem pembangkit listrik tenaga mikro-hidro skala kecil; yang pertama yaitu saluran pengambilan terletak dibagian pintu air terdapat filter perangkap sampah yang terbawa oleh arus air, kemudian ada saluran pembawa yang mengalirkan air dari saluran pengambilan menuju bak penenang. Dibagian bak penenang ini berfungsi mengendapkan tanah yang terbawa arus air sehingga tidak memasuki pipa-pipa yang membawa air kedalam “rumah turbin”. Pipa tersebut sekaligus berfungsi untuk menjaga tekanan air yang jatuh sehingga energi pitensial gerak pada arus air tidak terbuang. Setelah melewati pipa-pipa, aliran air menuju “rumah turbin”, sebuah tempat dimana mesin-mesin turbin yang akan memproses tenaga air dan mengubahnya menjadi listrik. Kelemahan dari PLTMH ini adalah jumlah listrik yang dihasilkan cenderung bergantung pada debit air sungai, sehingga pada musim kemarau dimana debit air berkurang akan berpengaruh pula pada listrik yang dihasilkan. Namun disisi lain, PLTMH ini bisa menjadi solusi cerdas untuk krisis energi listrik yang terjadi di Indonesia, pemanfaatan yang ramah lingkungan, serta mampu menjamah pelosok desa yang belum bisa dijamah oleh PLN.

SERBA ORGANIK

Pengunjung PPLH punya kesempatan mencicipi makanan organik. Semua bahan makanan yang digunakan didapat dari hasil pertanian masyarakat setempat; beras organik, sayuran tanpa pestisida, sampai lauknya pun juga organik. Menurut mbak pemandu saya di PPLH, petani di sana memang sengaja dibina untuk menggunakan sistem pertanian berbasis organik. Mulai dari penggunaan pupuk organik, serta cara-cara pengusiran hama yang dilakukan secara tradisional. Walaupun menggunakan bahan-bahan organik, tanpa penyedap rasa dan bumbu penyedap buatan makanan yang disajikan tetap enak, hanya saja makanan organik biasanya akan terasa hambar dilidah orang yang terbiasa menggunakan vitsin dan segala macam bumbu penyedap tidak alami.

HIJAUNYA HUTAN, JERNIHNYA MATA AIR ^^

Menyusuri hutan dan sungai kecil di area PPLH, kita akan menemukan sebuah mata air murni yang keluar dari celah-celah bebatuan diantara pepohonan hutan. Kemurnian mata air ini sangat bergantung pada kelestarian hutan sebagai media serapan air. Jangan lupa bawa botol minuman jika ingin membawa pulang mata air murni siap minum. Rasanya? Tak usah ditanya, tentu saja segar; tak jauh berbeda dengan air mineral kemasan yang kita konsumsi setiap harinya. Namun karena air ini keluar diantara celah bebatuan, airnya jadi dingin dan menyegarkan. Konon katanya mata air disini bisa bikin awet muda lho :D

Buat yang ingin berlama-lama menginap disini, disediakan juga penginapan dalam bentuk asrama, atau guest house. Tapi kalau berkunjung ke PPLH seloliman memang sebaiknya sekalian menginap, kan sayang kalo tempat sebagus ini hanya kita nikmati cuma sekejap. Lagipula pengunjung pasti betah koq berlama-lama menikmati suasana alam disini (rasanya engga pingin pulang) :mrgreen:

Seandaiya manusia bisa hidup berdampingan dengan alam tanpa merusaknya, tanpa mengganggu keseimbangan, tanpa merusak hutan, pastinya hidup kita akan menjadi lebih berkualitas. Lupakan sejenak polusi khas kota besar. Yang akan kamu temui disini hanyalah hutan hijau, sawah membentang, sungai jernih, benar-benar tempat tinggal yang ideal menurut saya. Pusat pendidikan lingkungan hidup mengenalkan kami akan kegunaan dan pentingnya menjaga kelestarian hutan demi kelangsungan kehidupan makhluk hidup. Memanfaatkan potensi alam tanpa merusak keseimbangan, mengambil sesuatu dari alam, memanfaatkannya untuk kebaikan masyarakat,