Catatan kaki I


kejutan-kejutan kecil dalam hidup ku

Ia berikan dengan begitu indah dan tak terduga

Dia memberi rasa yang macam-macam

pahit

manis

terkadang dibubuhi-Nya dengan macam-macam warna

Hitam,

putih,

atau bahkan dengan paduan spektrum warna

warna tanpa definisi yang pasti

tujuh belas

delapan belas

hingga mungkin jika aku sampai pada sembilan belas

kejutan itu akan terus datang mengiringi perjalanan ku

hingga nanti aku kembali pada-Nya


rasanya tak perlu aku meramal mencari tau kejutan selanjutnya dari-Nya

tetaplah

memaknai hidup

jalani apa adanya

selalu berterimakasih kepada-Nya

menjalani perintah-Nya

menjauhi larangan-Nya

karena Dia

hanya karena Dia aku sanggup bertahan


menanti kejutan selanjutnya dari-Nya

Bertanya pada Cermin

Suatu ketika saya dalam keadaan stres berat. Gak nafsu makan, rambut acak acakan, mata berkantung karena berhari-hari lupa bagaimana rasanya tidur.
Lalu saya berdiri pada sebuah cermin persegi yang tertempel pada lemari di dalam kamar.
Argh! ! ! !

Makhluk apa yang ada di dalam cermin itu? udah jelek ! bau! kusut!

pantesan aja orang-orang bilang saya serupa monster. Mungkin saja kalau hari itu tidak bercermin, saya jadi tidak akan tahu seburuk apa rupa saya :D

Bisa dibilang cermin itu benda yang paling jujur. dia memantulkan bayangan benda di depannya dengan jujur. kalo jelek, ya jelek aja. kalo bagus maka ia tampilkan dengan keindahan yang tidak dibuat-buat. cermin sedikitpun tidak mau bohong. ia tampakkan dan katakan apa adanya. ia tunjukkan semua kekurangan dan kelebihan.

jadi ingat kalo udah lama nggak “bercermin”. jadi aku tak tahu keadaan diri ini yang sebenarnya. jujur banget sih cermin…

mirror

ah, cermin… sepertinya harus sering bercermin. . . Karena dengan bercermin akan bisa menilai berbagai sisi dari diri ini. Jelek kah? Baik kah?

tetapi ada kalanya cermin itu menjadi buram karena jarang digunakan. mungkin karena takut terlihat jelek di depan cermin, atau sudah merasa punya wujud yang paling sempurna. sehingga dirasa-rasa tak perlu lagi bercermin. sehingga suatu ketika kita butuh cermin untuk bercermin, maka apapun yang terpantul jadi terlihat buram dan jauh dari wujud asli .

kalau sudah begini, cermin harus dibersihkan. agar bisa menampakkan sosok yang sebenarnya dari diri kita.

cermin yang buram akan membentuk penilaian yang salah dalam diri kita. Yang seharusnya baik jadi nampak buruk. Begitu juga sebaliknya. Bahkan cermin yang buram menjadikan kita ragu apakah bayangan di cermin itu benar-benar diri kita yang sebenarnya?

Jadi, semakin sering kita bercermin. Maka kita akan semakin kenal sosok yang sebenarnya dari diri kita. Tapi jangan lupa membersihkan cermin dari berbagai macam debu dan noda yang tertempel. Agar cermin mampu merefleksikan bayangan yang sesungguhnya…