Seorang Fatalis Berkata,”

fa.ta.lis
[n] orang yg percaya atau menyerah saja kpd nasib

Beginilah jalan pikiran fatalis

mereka menciptakan resolusi di awal tahun, mengumpulkan berbagai pencapaian selama setahun, dan lain lain lain lain. tapi bagi saya, inilah masa dimana titik nadir itu berawal. ada suatu masa ketika segala macam kumpulan usaha sama sekali tak membekas dalam wujud hasil optimum. kamu sudah bukan lagi sedang jongkok! bukan sedang jongkok untuk melakukan lompatan lebih tinggi. kamu sekarang merangkak, sementara orang-orang berlari melewatimu. inilah titik nadir, ketika pencapaian hanya sebatas teori di atas kertas. ketika segala macam peramalan gagal terwujudkan.

“kegagalan bukan sebuah kesuksesan yang tertunda. kegagalan adalah awal dari serangkaian kegagalan lain” itu realita, idealisme terlalu sering kontras dengan pahitnya kenyataan. angan kamu, itulah sumber idealisme. tapi tanah tempat kamu berpijak, bumi tempat kamu hidup, dan udara untuk kamu bernafas, itulah realita!

“seperti kata mereka, rasanya ingin segera berakhir”
berakhir? mengakhiri sebuah lembaran buku dengan kumpulan kegagalan? kalau kamu berakhir sekarang, maka kamu hanya akan diingat sebagai orang gagal! mau, kamu seperti itu? pecundang, pemimpi besar! terlebih, kamu adalah seorang fatalis!

omong kosong dengan idealisme. omong kosong dengan harapan. yang berlaku sekarang adalah probabilitas. peluang yang sama dan sebanding antara kesuksesan dan kegagalan. dunia ini pahit, nak! sedangkan mimpi adalah pemanis adiktif yang membuat kamu mati menderita dimasa depan. ia tak ubahnya notasi-notasi angka imajiner. peluang dengan galat 99%. buang jauh-jauh ekspektasi. mari kita kembali ke tanah, lantas menyadari jati diri kamu sebenarnya.

~AN~

saya pernah jadi seorang fatalis, atau bahkan mungkin sekarang masih fatalis?

Ocehan Ricky

Ricky kembali bersuara, 22 April silam sepenggal ocehan ia cantumkan di lembaran akun fesbuk miliknya. “waktu adalah misteri, kita tak tahu apa yang terjadi sedetik kemudian” ocehya mengawali alinea pertama catatan.

Pikir saya, tak pernah terlintas prasangka ihwal apa yang akan terjadi sedetik kemudian. Saya lebih peduli terhadap ihwal kemungkinan yang akan terjadi 24 jam kemudian. Sedetik rasanya terlalu singkat untuk dijadikan bahan prediksi, bahkan ketika mengetik tulisan ini pun saya butuh ribuan detik. Sedetik terlalu singkat, terlalu dinamis untuk diukur dengan skala statis. Ah, sudahlah! Lantas ocehan Ricky tetap berlanjut

“ketika memutuskan untuk melangkah, melangkahlah dengan baik. Jangan pernah sekalipun melangkah ke arah kegagalan” ujar ricky.

Saya yakin Ricky pun paham, tidak satu pun dari kita ingin melangkah ke arah kegagalan. Siapa gethoo yang mau gagal ?!?!

Ricky mengeraskan suaranya, “bukan karena masalah waktu yang tak akan kembali”  lantas karena apa ? (pikir ku dalam hati)

“tetapi kegagalan itu yang menurut saya (Ricky) adalah masalah. Kegagalan bukanlah awal dari keberhasilan. Kegagalan adalah awal dari kegagalan yang lain. Artinya, ketika kita memilih untuk gagal, kita telah membiarkan kegagalan yang lain hadir” ujarnya lantang hingga memekakan telinga.

Saya berhenti sejenak sekedar satu ‘ain tanpa mengambil nafas, sementara Ricky terus mengoceh tanpa spasi, dan saya masih membenamkan diri dalam sebuah kontemplasi dalam. Satu kegagalan  bisa memicu kegagalan yang lain. Ricky bermain prediksi, dalam benaknya rangkaian kegagalan itu membentuk entitas regresi dankorelasi. Semacam ada lingkaran kegagalan yang tak berujung. Implikasinya yakni,  sekali kita gagal jangan harap dengan mudah meraih kesuksesan. Satu kegagalan bisa memicu timbulnya kegagalan lain, beruntun, hingga membutuhkan kerja keras berkali lipat untuk bisa keluar dari lingkaran itu. Ini mengerikan! Mengingat saya sendiri tak jarang terjun bebas ke jurang kegagalan (kilas balik jaman saya ditolak PTN 3X, hal yang bikin saya merasa jadi orang paling bodoh masa itu).

kali ini saya sedikit membenarkan statement Ricky. Kegagalan selalu sukses bikin saya merasa jadi orang paling bodoh dan paling merugi. Kegagalan itu menyakitkan! Bukan karena rasa pahitnya gagal, kegagalan itu menyakitkan manakala ia berimbas pada kekecewaan pihak lain di luar diri kita. siapa yang sanggup mengobati kekecewaan orang lapin yang ditimbulkan sebagai akibat dari kegagalan diri kita pribasi? Percaya atau tidak, bagi saya kegagalan itu seperti sebuah luka. Meskipun secara fisik telah sembuh, ia masih menyisakan bekas luka secara fisik dan traumatis secara psikis.

Ricky membenarkan kontemplasi saya,” (..)dan secara otomatis, akan terjadi penolakan kesuksesan pada output.” Sekali kita gagal, akan mengakibatkan kegagalan pengeksekusian program. Seperti itukah analogi Ricky? Bagaimana dengan proses yang juga menjadi penentu output?

“output memang tergantung dari proses yang kita jalani. Tapi yang perlu diingat adalah, sebelum proses ada input. Input disini adalah modal awal yang dimiliki manusia. oleh karenanya perbaiki Input dengan serius” yeah, bahasa ricky mulai menjurus ke mata kuliah komputasi. Lanjutkan ocehanmu Ricky!

Tanpa komando pun Ricky tetap melanjutkan ocehannya, “INPUT yang bagus, akan mudah melalui PROSES sehingga OUTPUT pun sesuai dengan yang diharapkan” ujar Ricky sebagai kalimat terakhir alinea mengakhiri catatannya.

Ricky sama seperti saya, sama-sama terjun di ranah statistik. tapi kemungkinan Ricky lupa, betapa susahnya mendapatkan sebuah data dengan selang kepercayaan 95%, artinya galat hanya 5% saja! Secara teori mudah, tapi coba kita tengok realita. Mungkinkah kita selalu berhasil melewati kesempurnaan PROSES? Meskipun INPUT sudah sedemikian idealnya? Disisi lain, orang-orang di luar sana selalu menilai hasil dari OUTPUT. Sementara mengabaikan perjuangan dalam menempuh PROSES.

~AN~

*daftar pustaka: Bluishteration, FKV. 2011. OUTPUT, PROSES, dan INPUT (Hakikat Manusia). http://rickybersuara.blogspot.com/2011/04/output-proses-dan-input-hakikat-manusia.html. diakses tanggal 15 Juni 2011.

picture taken from: kisaranku.blogspot.com