gerbong berserakan

Kampung halaman kami minim tempat wisata. Terkadang kami harus menciptakannya sendiri. Selama kurun waktu hampir delapan belas tahun saya tinggal di kota ini, sebelumnya tak pernah saya mengetahui ihwal keberadaan tempat ini. Suatu tempat di sudut kota yang tak banyak diketahui khalayak –terutama mereka para pendatang. Untuk mencapai lokasi, kamu harus berkendara menjauhi keramaian pusat kota. Melintasi jalan raya yang lazimnya menjadi lintasan truk-truk besar pengangkut hasil industri. Bersiaplah menempuh perjalanan dibawah naungan teriknya matahari siang, dan hiruplah panas udara berpolusi khas kota industri. Pepohonan penghijau jalan nampak berdiri jarang, semakin menambah penderitaan akibat kepanasan.

Saya menyebutnya dengan “Stasiun tua tanpa nama”. lahan kosong tempat gerbong berserakan. Sejauh mata memandang kamu hanya akan menemukan gerbong-gerbong kereta tanpa tuan. Berbaris rapi seolah sedang menunggu untuk dijalankan kembali. Di petak tanah ini tertanam rangkaian besi rel-rel kereta api yang tak lagi pernah dilintasi. Berkas-berkas karat semakin meyakinkan siapa saja bahwasannya gerobong kereta ini tak pernah lagi berfungsi.

Bentuk fisik gerbong-gerbong kereta yakni dengan atap rendah tanpa ada sheet/ tempat duduk penumpang. Mengamati bentuk fisiknya, jelas ini bukan kereta penumpang. Prediksi saya semakin diperkuat dengan ukiran rentetan huruf di salah satu sisi gerbong. Dari sisi samping gerbong tersebut akan terbaca jelas kalimat “KURS angkutan Semen…” dari situ saya berasumsi kalau ini semua adalah kereta barang milik pabrik Industri.

Tempat ini mirip sebuah stasiun, atau lebih tepatnya bekas stasiun. Tentunya stasiun kereta(barang) yang tak lagi berfungsi. Kali pertama saya menjamahnya bersama dengan sahabat era putih abu-abu, benak saya seketika diliputi pertanyaan borongan. Namun tak satu pun mampu terjawab oleh database pengetahuan otak. Entah siapa pemilik tempat ini, pemilik stasiun ini, pemilik gerbong-gerbong kereta ini. Milik pemerintah daerah, atau milik perusahaan industri? Saya belum mendapat data informasi valid terkait dengan fungsi asli tempat ini. Bekas stasiun kereta api kah? Atau sebuah stasiun pribadi milik industri dengan perannya sebagai tempat transit kereta-kereta barang pendistribusi hasil industri? Continue reading

Krawu

krawu

picture taken from"http://farm2.static.flickr.com/1260/540744017_c488dcc7d1.jpg"

Bagi otak kiri saya, hal tersulit kedua setelah kalkulus adalah “menerjemahkan rasa kedalam bahasa”.  bagaimana kamu menerjemahkan rasa manis? Manis itu manis, entah bagaimana menerjemahkan manis kedalam bahasa. Saya mau mengajak anda mengenal sebuah kota melalui “rasa”. Tempat ini jaraknya sekitar 2 jam perjalanan naik angkot dari Surabaya Timur, atau sekitar 1 jam perjalanan saja kalau naik motor.  Setiap kali saya sebut nama kota ini, yang terlintas dibenak orang pertama kali adalah semen.  Gresik (baca:nggersik) identik dengan semen, begitu kata orang-orang. Andaikata  kau tau nggersik itu tak sekedar semen, kawan.  Sekarang saya mau ajak anda menyusuri nggersik melalui “rasa”.

Namanya KRAWU, konon katanya berasal dari kata “krawukan” dalam bahasa jawa artinya makan pakai tangan. Nasi krawu memang tak setenar spesies nasi lain seperti kebuli nan berlemak, nasi uduk, nasi padang nan pedas, dan macam-macam nasi lain di nusantara. Mungkin ini akibat saya punya keturunan darah arek nggersik turunan dari bapak, biarpun tak tenar nasi krawu tetap spesial di lidah kampung saya.

Sesuatu yang khas dari nasi krawu itu, cara tukang masak mengolah daging sebagai lauk utama nasi krawu. Daging yang dijadikan lauk nasi krawu harus daging dengan serat besar-besar, agar mudah disuwir-suwir. Daging suwir nantinya diolah dengan bumbu Continue reading

Recharging

hidup memang penuh ujian. Ujian Nasionl, Ujian praktek, ujian sekolah, ujian universitas. :mrgreen: dan setelah salah satu ujian itu terlewati, yang tersisa kini hanyalah rasa penat! andaikan bisa, saya ingin mengeluarkan otak dari tempurungnya lalu mencucinya hingga bersih.

kalau dibiarkanbegini, saya bisa gila! saya harus segera “cuci otak”!!!  akhirnya saya putuskan untuk keluar dari rutinitas  juga menjauh dari hiruk pikuk suara kendaraan bermotor, mencari udara segar untuk bisa bernafas bebas. rasanya paru-paru ini juga berhak menyerap oksigen murni dan membiarkannya berdifusi dengan sel darah yang akan mengedarkan oksigen ke seluruh tubuh, terutama otak saya .

CUCI OTAK

ada suatu tempat di sudut kdari atas bukitota gresik yang masih hijau dengan pepohonan. pergilah saya di bukit giri, bukit yang sering dikinjungi masyarakat dalam dan luar kota gresik dengan tujuan utama berziarah di salah satu makan wali songo, yaitu sunan giri.  tempat yang saya kunjungi kali ini dikenal dengan nama Giri Kedaton. letaknya  berada di atas sebuah bukti di Dusun Kedaton, Desa Sidomukti, Kecamatan Kebomas, Gresik dengan ketinggian 200 meter dari permukaan laut,

bukit Giri berbentuk memanjang, dengan ciri khas tanah kapur yang banyak ditumbuhi pohon bambu. dari atas bukit ini, saya bisa menikmati pemandangan selat madura, dan hijaunya pepohonan disekitarnya.  lumayanlah, buat sekedar “cuci otak” untuk melepas penat. namun sayangnya pemandangan selat madura ini dirusak oleh asap-asap pabrik yang berdiri di daerah sekitar pantai yang membuat langit gresik menjadi nampak kelabu :( dan jangan harap bisa melihat laut biru, karena laut di selat madura itu berwarna coklat seperti sungai

jadi ceritanya, jaman dulu situs istana keraton Sunan Giri ini  dibangun pada tahun 1487 Masehi ini, merupakan pusat pemerintahan sekaligus tempat peribadatan. memang tidak banyak yang saya temukan disini kecuali pemandangan yang lumayan bagus dan  sgiri kedatonebuah situs bersejarah yang dikenal dengan “situs giri kedaton”. tempat ini semacam bekas puing-puing istana namun tidak banyak yang tersisa dari sisa puing-puing itu sendiri. nasibnya sama seperti benteng lodewijk yang terlupakan, terabaikan, dan sepi. sayang sekali jika situs bersejarah seperti ini akhirnya terlupakan, dan rusak dimakan jaman tanpa ada yang mempedulikan. namun justru suasana seperti ini cocok buat siapa saja yang ingin mencari ketenangan :)

pemandangan atas bukit nan hijau telah membantu saya untuk melepas penat, mencuci otak saya, dan mengembalikan lagi semangat saya untukberperang menghadapi rangkaian ujian selanjutnya…