kenapa fluktuatif?

c

picture taken from portalnesia[dot

Terlalu lama bermain di ranah statis, saya jadi lupa kalau sebenarnya realita itu lebih condong ke arah dinamis. Ketika kita punya banyak ekspektasi (harapan masa depan), ketika kita memulai menyusun strategi  yang siap dieksekusi, Namun berdampingan dengan dua hal itu selalu saja ada faktor  yang membuat ekspektasi menjauhi realita. Atau bahkan kegagalan pengeksekusian rencana karena faktor kecil yang tak terduga. Tiba-tiba saya teringat dengan ucapan salah seorang SC pengkaderan di jurusan, “kalian harus ingat bahwa kondisi tidak bisa selamanya ideal”. Semua orang termasuk saya mengharapkan suatu kondisi yang ideal, tapi kenyataannya kita justru lebih sering berada dalam situasi yang tidak ideal.

Kalau sudah begini, lantas  bagaimana? Apa saya harus melepaskan satu persatu idealisme karena kondisi tidak pernah mendekati ideal?

Mungkin poin pentingnya bukan terletak pada harapan akan idealnya suatu kondisi, melainkan bagaimana cara kita tetap bertahan dengan motivasi konstan ditengah kondisi yang tidak ideal?! Ini dia susahnya istiqamah, yakni ketika kita harus menjaga motivasi agar tetap konstan…

Bisa jadi kecenderungan muncul sebuah kondisi yang tidak ideal menjadi salah satu pemicu tumbuhnya fluktuatifitas motivasi untuk tetap bertahan meluluskan perjuangan.

Ah, tapi saya pikir niat itu jauh lebih penting dari motivasi. Niat adalah landasan arah tujuan yang ingin kita gapai. Niat pula yang berperan menjadi pendongkrak dikala kita hilang motivasi. Bahkan niat juga juga berperan menjaga hati dan pikiran tetap berintegrasi, agar tetap bisa bekerja maksimal ditengah kondisi yang tidak ideal.

Kemudian muncul pertanyaan ,”mana yang lebih dulu muncul? Niat atau motivasi?” Kadang kita termotivasi, lalu muncul niat. Tapi terkadang niat jadi kekuatan utama datangnya motivasi. Saat ini saya akan jawab,”niat yang mendahului sebelum munculnya motivasi” karena niat itu pondasi awal. Ibarat paragraf, niat itu pikiran utama.

Apa pun itu.. bagi saya motivasi tak lebih dari sekedar omong kosong jika tidak diiringi dengan aksi nyata.

~AN~

Si Pembunuh Motivasi

Saya pernah menulis sepenggal pargraf tentang motivasi sebelumnya. Motivasi positif, niat positif, tindakan positif, insyaAllah berbanding lurus dengan hasil yang positif juga. Ibaratnya motivasi itu seperti bahan bakar mesin mobil. Biarpun mobilnya bagus, spesifikasi dinamis, sasis aerodinamis tidak akan bisa lari kalau tangki bahan bakarnya kosong. Sama saja dengan manusia seperti kita ini.

Sebenarnya tidak sulit mendapatkan injeksi motivasi. Yang sulit itu bagaimana menjaga motivasi tetap konstan tersimpan dalam diri kita. misalnya saja waktu mengikuti pelatihan / seminar. Trainer dengan suksesnya membangkitkan motivasi dan semangat saya. Sampai menggebu-gebu seakan apa pun rintangan yang dihadapi di dunia luar nanti tak gentar saya hadapi. Efeknya luar biasa. Beberapa jam setelah keluar dari ruangan training semangat saya membara. Secara drastis saya jadi lebih bersemangat dari sebelumnya. Tetapi beberapa hari kemudian atau bahkan beberapa jam setelah itu semangat dan motivasi saya sedikit demi sedikit luntur terkikis abrasi waktu. :(

Rasanya motivasi yang saya dapat di ruangan itu tadi menguap begitu saja. Evaporated like a water sea . kenapa hal itu bisa terjadi ? Mari mencoba menelusuri penyebabnya.

Kemungkinan pertama karena saya terlalu lama menyimpan motivasi tanpa segera mewujudkannya dalam tindakan nyata. Ini sering terjadi pada orang-orang tipe pemikir seperti saya. Artinya terlalu banyak mikir tapi nggak ada aksinya. Think only no action. Misalnya motivasi menulis. Suatu hari dalam sebuah acara yang memotivasi saya untuk menuliskan ide-ide dan gagasan dalam tulisan. Injeksi semangat telah diberikan. Kemudian begitu banyak ide mengalir di dalam otak saya. Semangat dan motivasi telah membangkitkan kotak ide dalam otak. Tapi hasilnya nonsense jika saya menyimpan ide tersebut hanya dalam kepala tanpa segera menuliskannya. That’s the point, evaporated like a water sea. Ibaratnya mesin mobil sudah sekelas mobil Formula 1, tangki bahan bakar juga sudah diisi, ketika dinyalakan kita malah tidak segera menjalankan mobil. Terus saja diam di tempat karena takut ketabrak dinding sirkuit balap, takut ketenggor mobil lain, takut untuk segera bertindak. Lama-lama bahan bakarnya habis ditempat tapi kita belum bergerak satu meter-pun. Nggih Sami mawon mbuju’i

Penyebab kedua, membunuh keyakinan diri sendiri. Percuma kalau orang susah payah meyakinkan kita kalau kita ini bisa. Tapi dia sendiri tidak pernah percaya akan ability and inner self.

penyebab ketiga, saya menyimpan motivasi itu untuk diri saya sendiri. Coba kalau kita membagikan motivasi yang kita dapatkan dari suatu tempat, kemudian motivasi itu kita bagikan ke tempat lain dan orang lain itu akan membagikannya ke tampat lain juga. Terus-menerus secara berkesinambungan. Bentuk motivasi kecil yang kita bagikan akhirnya menjadi besar karena telah menyebar ke banyak orang. Dan bukan tak mungkin suatu saat nanti dikala kita sedang dalam keadaan in a low motivation, orang-orang yang pernah kita beri motivasi akan memberikan motivasinya pada kita. seperti jargon IBSN* ,”BERBAGI TAK PENAH RUGI”.  :)

Penyebab ke-empat, ke-lima…. sampai tak hingga belum saya temukan jawabannya.. monggo dicari sendiri :mrgreen:

Susahnya menjaga motivasi. Seperti itu juga motivasi menulis, motivasi kuliah, motivasi ini itu dan lain sebagainya. Menjaga memang lebih susah daripada mendapatkan.

Semoga yang sedikit dan ala kadarnya  ini bisa bermanfaat :)

 

Catatan kaki:

*IBSN  adalah sebuah wadah insan indonesia dalam jaringan internet dengan berbagai jenis blog platform yang memiliki konsep keindahan berbagi.