Terror Akhir (TA)

Bulan juli kampus sepi. Dibalik kesunyian juli, terkisahlah realita juli dan euforia pejuang kampus. Ada yang memulai euforia sebagai backpaker selama liburan. “mau backpacking keliling Indonesiaaaa!” kata mereka. Lain cerita ada juga mereka yang menyebar ke pelosok daerah. Mereka adalah mahasiswa tahun ke tiga yang tengah meniti kewajiban sebagai pelaksana KP (kerja praktek). Terakhir adalah mereka yang memilih menghabisi juli dengan tetap setia menjadi “sisa” penghuni kampus hingga tiga bulan nanti.

Sisa penghuni-dari lapisan mahasiswa- itu rata-rata terdiri dari tiga macam populasi; Mahasiswa Pejuang TA, Mahasiswa Organisator (Himpunan jurusan, BEM, LSM, UKM), dan Mahasiswa baru (MABA) 2011. Juli mendekati Agustus, jika diafiliasikan dengan suasana pra-kemerdekaan, Juli menyimpan banyak kisah perjuangan. Tak terkecuali  para pejuang TA. Mahasiswa-mahasiswa ini sedang memperjuangkan hak memperoleh gelar sarjana/ahli madya/magister dibelakang nama. Mahasiswa yang sedang berjuang untuk “merdeka”. Continue reading

Meliput Reporter

reporter

the reporter a.k.a Rani

Saya mendapat kesempatan kedua menyaksikan langsung kerja seorang reporter memburu berita. Bagaimana reporter bekerja? Tempo hari, saya mendapati teman saya yang berprofesi sebagai jurnalis kampus sedang mengenakan ID card pers dan mengalungkan sebongkah kamera canon dilehernya. Aha! Dia sedang berburu berita, kapan lagi saya bisa mengamati proses perburuan berita oleh sang jurnalis kampus. Ini kesempatan langka, ide licik itu muncul “reporting the reporter” meliput reporter yang sedang bekerja.

Entah kenapa reporter seperti punya aura memancar yang bikin mereka terlihat keren dimata saya. Dilihat dari kenampakan fisik, reporter itu identik dengan tiga buah benda; ID card Pers, camera Canon, dan terakhir block note kecil. Ketiga benda itu berpadu seolah merepresentasikan, hei I’m a journalist.  *that’s cool!   Sebuah kelebihan yang dimiliki reporter tapi tidak dimiliki khalayak umum seperti saya yaitu, reporter dengan leluasa mendekati orang nomor satu di kampus (pak rektor) kemudian berbincang seolah sudah kenal lama. Mereka menyebut perbincangan itu sebagai interview. Lugas, tanggap, sistematis, berbagai pertanyaan terucap mencoba menggali isi pikiran responden, sementara jemari reporter dengan gesit meninggalkan goresan diatas block note.

Kerja reporter tak selesai sampai disitu, ia menggali sisi yang berbeda dari acara. Berkeliling seolah sedang dituntun oleh sebuah intuisi jurnalis. Intuisi itu lantas menggiring mereka ke sudut-sudut fenomena acara yang seringkali luput dari perhatian publik. Dari situ saya berasumsi bahwa seorang jurnalis harus punya kepekaan terhadap keadaan di sekitarnya, Jurnalis harus berbekal pemikiran kritis, terkadang cenderung skeptis, dan mereka menggali fakta dari sebuah fenomena. Aktual, tajam, dan terpercaya (kata liputan 6).

(ki-ka)Reporter, Rektor, dan Pres.BEM

***

Saya: “setelah ini langsung nulis, Ran?”

Reporter: “iya, ntar malem mau ke kantor (perpus lantai 6) langsung ditulis”

Nggak butuh waktu lama buat mikir tulisan. Tulisakan segera fakta yang sudah kamu dapatkan, lantas serahkan ke editor dan publish ke media massa. Seperti itu kesan yang saya tangkap. Mengamati reporter sedang bertugas, saya Cuma bisa ngiler.

Rani  : “Arinda, mana ID card pers kamu?” :D

Saya : *bengong, , ,* “ID card pers ada di hati saya “ *ceileee :mrgreen:

Ya sudahlah, untuk menghibur diri  jadi reporter untuk blog sendiri saja kalo gitu. Akhirnya dengan bekal kaos panitia interval, ID card pers panitia, dan kamera hape  saya berlagak bak seorang reporter keliling stand bazar jepret-jepret gak jelas sembari menemani juri melakukan penilaian desain stand bazaar Interval. *dasar panitia kurang kerjaan :mrgreen:

~AN~

Menaksir Harga Mimpi

Enam bulan lalu ketika bau maba masih tercium menyengat, banyak maba mengikrarkan diri untuk sebuah perubahan besar dalam diri masing-masing. Mengemban status maba sama artinya dengan memulai hidup baru. Semua maba memulai kehidupan kampus mulai dari NOL. Adaptasi harus segera dilakukan kalau tidak mau tergilas perubahan. Seorang maba harus segera memahami ritme kehidupan kampus perjuangan secepatnya. Seperti bunyi teori seleksi alam Darwin, “Siapa mampu beradaptasi dialah yang akan bertahan hidup”. Pemikiran, perbuatan, dan segala elemen kehidupan kampus harus berjalan cepat dan tepat. Sekali mata terpejam seribu langkah tertinggal.

piala pecah

Surabaya, 2011 – Mimpi? Halal saja kita bermimpi sebanyak yang kita mau. lagipula mimpi besar atau kecil sama-sama gratis.Tapi jangan lupa bangun untuk mewujudkan mimpi. Dalam bermimpi, saya punya aturan main sendiri; yang pertama Realistis. Alam mimpi penuh dengan imajinasi, tanpa batas, dan probabilitas kesuksesannya tidak bisa diramalkan. Realistis artinya tetap berada didalam koridor batas kewajaran.

Apa beda pesimis dan realistis? Mudah saja menjawabnya. Karena dua kata ini kenyataannya tidak bisa disamakan. Continue reading

Gebang Lor: Jejak Kakiku dimana-mana

Bukannya saya tak betah di rumah. Tapi kerinduan pada era perjuangan di kampus semakin membabi buta jalannya logika otak saya. Betapa saya rindu euforia modul, saat otak harus diperas sampai kering akibat tekanan deadline, horrornya perpustakaan pusat setelah matahari terbenam. Jemari saya rindu menari-nari di atas tuts scientific calculator, menghitung probabilitas, estimasi, proporsi. Bahkan saya rindu cacing-cacing integral yang selalu bikin saya gusar.

Saya rindu rasanya pegal otot betis lantaran harus jalan kaki tiap hari dari FMIPA hingga hunian kos di perkampungan Gebang lor tempat saya melepas lelah. Saya rindu gelapnya jalan taman alumni ketika jejak kaki menyusuri sawah pinggir kampus selepas gelap menyergap langit kelam timur surabaya. Kunang-kunang sawah, suara katak bersahutan mirip koor anak-anak Paduan Suara, dan penampakan petani panen kangkung di ladang tiap pagi dan senja (ini kampus atau pedesaan, sih?) :D

Bahkan saya pun merindukan suasana tegang kala komunal pengkaderan jurusan (kalau yang ini kayaknya enggak deh, hehe)

Dan kerinduan itu seolah terrangkum pada langit senja kala manarul ilmi menyerukan panggilan maghrib.
saya rindu rasanya dikelilingi nafas pejuang mahasiswa kampus perjuangan. . . .

~an~
ditulis dalam keadaan otak separuh sadar.
[00:46]

M.A.B.A

“ jreeengh jreeengh jreeengh…. kujelang dini hari dengan segelas teh panas. Dipagi ini ku bebas karena nggak ada kelas tanggalnya memang merah. Di ruang mata ini kamar ini serasa luas. Teh sudah habis dan perut pun kembung. Dan mulai saya tulis kehidupan di kertas…. “

Akhirnya hari itu 7 desember jadi agak mirip lagunya om bondan. Entah gara-gara teh panas, atau karena ini adalah awal tahun hi jriyah sepertinya saya tergugah buat introspeksi seperti lirik lagu om bondan. Muhasabah, introspeksi tidak harus dilakukan setahun sekali. Setiap hari boleh, setiap jam juga sah-sah saja. Toh tidak ada larangan. Ibaratnya setelah dapat materi kuliah kita bikin resume. Nah, resume itu sama saja dengan bahan introspeksi buat diri kita (saya). Kalau harus menunggu setahun sekali tiap malam tahun baru, basi rasanya. Iya kalau saya masih hidup malam tahun baru nanti.

Hari-hari yang keras

Sedikit mundur sambil nengok ke belakang. Munduuuuuuuur.

Dalam kurun 2 bulan, Gara-gara tiga kali gagal lolos seleksi masuk PTN ditambah 1 sekolah tinggi. Rasanya waktu itu saya jadi orang paling bodoh. Stress, depresi, tapi untung saya masih punya sisa sedikit kadar ke- warasan jadi tidak sampai punya pikiran bunuh diri. *lha wong sambel terasi iku sik enak lho. Lapo bunuh diri iku*

Saya bertanya pada Sang Produser umat manusia, kenapa jalan saya banyak tikungan tajam?sementara yang lain lurus-lurus saja. Tetapi satu-satunya yang pantas disalahkan dalam kegagalan ini adalah diri saya sendiri. Seorang teman menasihati saya, ”itu akibat dari terlalu tinggi berekpektasi, merasa bekerja paling maksimal, dan tidak mempersiapkan hati untuk ketentuan yang lain dari-Nya..”

kalau direnungkan sepertinya memang benar. Hhh lagi-lagi ngikuti lagu om bondan ,”ya, sudahlah”. Toh akhirnya setelah tiga kali terperosok ke lembah hitam kelam akhirnya saya kecemplung juga di jurusan statistika ITS. Pluuung. Saya bilang kecemplung karena sebelumnya sedikitpun tak pernah terlintas bayangan statistika. Ditanya statistika itu apa saya juga ndak ngerti (waktu itu).

Tanya : “Dek, Apa itu statistika?”

Jawab : “statistika itu nama jurusan “ *saya jawab dengan sok polos…*

Tanya : “ya tau nama jurusan. Tapi yang dipelajari apa ya?”

Jawab: *ga bisa jawab. Mikir. Akhirnya googling*

“Statistika itu…bla bla bla bla” * mulai mengarang indah*

Tanya: “Oh, jadi intinya itung-itungan kan?”

Jawab: “Hehe, ya anggap saja begitu :D

Ampuuuun dah. Saya (waktu itu) beneran nggak tau apa itu statistika. Ibaratnya saya kecemplung dan terlanjur basah. Jadi sekalian saja berenang sampai ke hilir. ok itu masa lalu. Percuma terus stagnan di kegagalan masa lalu. Mari sekarang kita bicara mengenai masa sekarang dan masa depan.

JURUSAN = PASANGAN HIDUP

Saya mungkin hanya satu diantara ribuan orang di luar sana yang pernah berpikiran salah jurusan. Tapi apa hanya gara-gara “merasa” salah jurusan lantas saya mau menyerah? Atau mengkambing hitamkan alasan salah jurusan sebagai penyebab jeleknya nilai kita (saya) ?

Karena dengan proses “ta’aruf” singkat saya sukses melamar statistika sebagai pasangan hidup saya. Awalnya sulit hidup berdampingan dengan pasangan yang sama sekali tak saya kenali. Untuk mencintai kita harus memahami. Dan untuk bisa paham terlebih dulu harus mengerti luar-dalamnya. Dulu karena saya belum mengerti maka saya merasa kecemplung di statistika ini. Tetapi saya berusaha menjalaninya dengan santai dan rasa syukur. Hingga akhirnya sekarang saya merasa beruntung sudah di-cemplungkan di sini. Give thanks to Allah :)

Misal saya punya pasangan hidup, kemudian saya merasa tidak cocok, apakah berarti saya salah memilih pasangan hidup? Bodohnya kalau berpikir begitu. Continue reading