Sepotong kenangan

Seperti baru kemaren saya ikutan MOS SMA. Berangkat jam TIGA PAGI, hari masi gelap muter2 smansa minta2 tanda tangan senior. Diteriaki senior waktu inspeksi hanya karena kesalahan keciil

“GINI SMANSA! MALU-MALUIN, Dek!!!”

seniornya galak! Mas mas yang tinggi besar nyeremin, mbak yang imut tapi judesnya minta ampun!

Astaghfirullah, benar-benar 3 hari berasa di neraka.

berangkat jam 3 pagi pulang jam 3 sore. Belum lagi TUGAS MOS yang memaksa kami u/ begadang sampe jam 1 pagi. Yang nasi kuning 5 warna lah, bikin tas dari kain bekas lah, trus permen KISS dengan tulisan tertentu! Tahu tempe goreng ukuran 10×5 ! Ini itu sehingga kami cuma punya waktu 1 jam u/ tidur . 3 hari MOS, tidur cuma 3 Jam.

Saya masih ingat, MOS hari kedua. Muter2 keliling Gresik nyari PERMEN KISS. Harusnya gampang, tapi di hari itu, semua permen kiss di toko2 terdekat uda habis di borong anak smansa. Malem2 saya diantar bapak ke pasar nyari permen kiss, tapi hasilnya NIHIL. Stok permen kiss uda habis!

MAMPUS! Siap2 aja diteriaki senior!
Sepatu harus HITAM. Kerudung segi-empat Putih POLOS. Rambut di ikat 2. Kaos kaki 5 cm dibawah LUTUT!

Keluar masa-masa MOS, bukan berarti bebas.

Teringat perjuangan 3 tahun ini. Jatuh bangun buat ngedapetin nilai TUNTAS. Keliatannya sepele, cuma 75! Tapi susahnya minta ampun! Remidi UH, UTS, UAS. Bahkan nggak jarang suatu ketika, hampir 1 kelas kena REMIDI semua.

REMIDI! Mimpi buruk yang lebih buruk ketimbang diteriaki Senior!

kelas  SEBELAS,

disinilah nakal-nakalnya anak SMA. tidur dikelas, telat ngumpulin tugas, ngerjain PR di sekolah, dan sering dispensasi :mrgreen: . waktu kelas sebelas, sekolah kami mengadakan acara study tour ke Bali dengan biaya yang lumayan MAHAL bagi kami. sampai akhirnya kami  ngumpulin  botol-botol air mineral di alun-alun  kota yang nantinya akan dijual buat nambahin biaya study tour ke Bali.  satu-persatu botol bekas kami kumpulkan, setelah dapat banyak baru kami jual di tukang pengepul barang bekas.  uang yang kami dapatkan memang tidak sebeapa, sangat kecil dibandingkan dengan usaha kami  mengumpulkan botol  bekas hari demi hari. tak terbayangkan bagaimana seorang pemulung setiap harinya mengumpulkan barang yang kami kumpulkan hari itu. satu persastu setiap hari untuk bertahan hidup.  setumpuk botol bekas ini beratnya cuma satu kilogram. sedangkan satu kilogram botol-botol bekas ini hanya dihargai enam ribu rupiah, kawan! sedangkan dengan mudahnya tiap hari kami membelanjakan uang orang tua kami tanpa mau tahu  jerih payah mereka selama ini.

kelas DUA BELAS

bayang-bayang masa depan semakin  kuat. mau kemana nanti? setelah lulus mau jadi apa? kuliah dimana? jurusan apa? UN susah nggak ya?

takut Nggak Lulus UN! takut Nggak Lulus  PMDK, SNMPTN, dll.

dengan susah payah kami lalui tahun terberat di SMA. berulang kali tryout UN dinyatakan BELUM BERHASIL… susah payah  memperbaiki nilai rapot yang anjlok waktu kelas sebelas demi PMDK.

finally, today April 26, 2010.

ketika kami telah dinyatakan LULUS 100%

hari terakhir kami mengenakan putih abu abu.* itu artinya nggak ada lagi subsidi tarif buat naik angkot :D  * Tertawa bareng, nangis bareng. susah bareng, seneng bareng. lulus unas tidak berarti segalanya. masih ada rintangan yang lebih dan lebih yang harus kami hadapi. Dan kita sama-sama belajar jadi anak muda yang lebih dewasa. Kami menyadari bahwa hidup tidak semudah memimpikannya. Perlu perjuangan keras untuk bisa jadi orang hebat. Dan selalu ada harga yang pantas bagi usaha serta perjuangan yang kita lakukan.

special thanks to ALLAH SWT, my parents, my beloved teachers of smansa all of my beloved friends.

and also thanks to our trainer from TIPS-INDONESIA : Bunda Amel, kak Acun, Pak Askan,  dkk. terimakasih untuk motovasi, semangat, dan inspirasi yang telah beliau berikan kepada kami.

Dan tak lupa untuk SEMUA KAWAN BLOGGER saya. Untuk do’a dan injeksi semangadh tak ada habisnya yang telah kalian berikan pada saya.

Rasa haru biru hari ini benar tak tergambarkan.
Juga saya sampaikan permohonan maaf tulus saya kepada ibu & bapak wali kelas tercinta. Bu Astutiek, Pak fathoni,dan Ibu Nur Hayati.Tak lupa guru seni rupa kami yang sangat sabar,Bu Susmiati.Maaf karena kami udah sering nakal,telat ngumpulin tugas,makan di kelas, ngobrol di kelas,dan sering merepotkan waktu remidi dan UH.
Buat Bu Susmiati, maapkan karena sampai skarang sy belum ngumpulin kanvas:D

Jabat tanganku, mungkin u/ yang terakhir kali Continue reading