Meranggas

Pernah kita seperti pohon jati yang meranggas kala kemarau menerjang. Tak ada air, udara kering. Sementara terik matahari membakar tiap sudut tanah hingga merekah pecah-pecah. Situasi serba genting bagi pohon jati. Tak ada pilihan lain; menggugurkan dedaunan setelah sebelumnya sengaja membuatnya kuning hingga kering. Bagi pohon jati, kemarau itu menyakitkan. Menggugurkan daun sama sakitnya dengan mancabuti kuku-kuku dari jemari kita. Tapi mau bagaimana lagi, lebih baik kehilangan dedaunan daripada mati termakan bulan-bulanan terik kemarau.

Kita pernah mengalami fase meranggas seperti pohon jati. Langit memang masih biru, tapi panasnya menyakitkan. Seketika kita harus mengorbankan hal ihwal yang kita anggap penting. Tujuannya hanya satu, bertahan di teangh kemarau panjang. Rasanya seprti tidak ada harapan lagi untuk menunggu hujan. Kering, kering, kering! Mati, mati, mati! Pikiran negatif bergelayut dalam angan. Ini fase fatalis yang  parah bagi manusia. rasanya semua usaha telah dikerahkan,tapi hidup belum juga membaik. Langit masih biru, tapi panasnya minta ampun! “Tidak ada jalan” ujar kita dalam hati. Mau memnyerah saja, rasanya. Membiarkan tumbang diterjang angin kering. Atau pasrah menyuguhkan diri ditebang untuk jadi kayu bakar. Kita benar-benar di ujung titik nadir.

Tapi, pohon jati belumpernah se-fatalis itu. ia tetap berdiri tegak menengadahkan ranting-rantingnya ke langit. Mungkin berucap sepatah doa yang tak terdengar telinga. Mengharap hujan, sembari akar-akar halusnya mencari rembesan air. Jati tetap memegang keyakinan.

“kalau badai saja bisa berlalu, kenapa tidak dengan kemarau?”

AN

kerumunan

[satu]
Kerumunan yang padat bisa jadi tempat ideal buat wasting time. Saat kamu tak dapat dibedakan dari lainnya. Semua membaur jadi satu, tanpa pedulisatu sama lain. Kamu terbenam diantara wajah-wajah asing, tidak satu pun kamu kenal. Begitu juga sebaliknya. Ditengah kerumunan macam itu, kamu menjadi diri kamu yang sebenarnya. Diri kamu yang sejatinya bukan apa-apa.
[dua]
kerumunan identik dengan keramaian. Kalau kamu diam ditengah keramaian, tidak ada yang akan peduli. Kalau kamu ramai ditengah keramaian, suara kamu bisa jadi terbenam. Lantas, apa bedanya dengan diam?
[tiga]
kamu bertemu dengan begitu banyak kebetulan. Di antara wajah-wajah asing kerumunan, sesekali kebetulan bertemu dengan wajah mirip sesuatu.
Itu cuma mirip, bukan persis. Rasanya sama seperti de javu. Sekali lagi, kamu mendapatkan pelajaran dari kerumunan. Kebetulan hanya datang sekali, tak ubahnya seperti kesempatan.
[akhir]
seketika kamu ingin keluar dari kerumunan. Namun tak lama setelah keluar, kerumunan itu kamu rindukan. Karena kamu ingin menjadi bukan apa-apa. Seperti sejatinya dirimu.

~AN~
*under influence “pasar malam selawe” of grisse

Ocehan Ricky

Ricky kembali bersuara, 22 April silam sepenggal ocehan ia cantumkan di lembaran akun fesbuk miliknya. “waktu adalah misteri, kita tak tahu apa yang terjadi sedetik kemudian” ocehya mengawali alinea pertama catatan.

Pikir saya, tak pernah terlintas prasangka ihwal apa yang akan terjadi sedetik kemudian. Saya lebih peduli terhadap ihwal kemungkinan yang akan terjadi 24 jam kemudian. Sedetik rasanya terlalu singkat untuk dijadikan bahan prediksi, bahkan ketika mengetik tulisan ini pun saya butuh ribuan detik. Sedetik terlalu singkat, terlalu dinamis untuk diukur dengan skala statis. Ah, sudahlah! Lantas ocehan Ricky tetap berlanjut

“ketika memutuskan untuk melangkah, melangkahlah dengan baik. Jangan pernah sekalipun melangkah ke arah kegagalan” ujar ricky.

Saya yakin Ricky pun paham, tidak satu pun dari kita ingin melangkah ke arah kegagalan. Siapa gethoo yang mau gagal ?!?!

Ricky mengeraskan suaranya, “bukan karena masalah waktu yang tak akan kembali”  lantas karena apa ? (pikir ku dalam hati)

“tetapi kegagalan itu yang menurut saya (Ricky) adalah masalah. Kegagalan bukanlah awal dari keberhasilan. Kegagalan adalah awal dari kegagalan yang lain. Artinya, ketika kita memilih untuk gagal, kita telah membiarkan kegagalan yang lain hadir” ujarnya lantang hingga memekakan telinga.

Saya berhenti sejenak sekedar satu ‘ain tanpa mengambil nafas, sementara Ricky terus mengoceh tanpa spasi, dan saya masih membenamkan diri dalam sebuah kontemplasi dalam. Satu kegagalan  bisa memicu kegagalan yang lain. Ricky bermain prediksi, dalam benaknya rangkaian kegagalan itu membentuk entitas regresi dankorelasi. Semacam ada lingkaran kegagalan yang tak berujung. Implikasinya yakni,  sekali kita gagal jangan harap dengan mudah meraih kesuksesan. Satu kegagalan bisa memicu timbulnya kegagalan lain, beruntun, hingga membutuhkan kerja keras berkali lipat untuk bisa keluar dari lingkaran itu. Ini mengerikan! Mengingat saya sendiri tak jarang terjun bebas ke jurang kegagalan (kilas balik jaman saya ditolak PTN 3X, hal yang bikin saya merasa jadi orang paling bodoh masa itu).

kali ini saya sedikit membenarkan statement Ricky. Kegagalan selalu sukses bikin saya merasa jadi orang paling bodoh dan paling merugi. Kegagalan itu menyakitkan! Bukan karena rasa pahitnya gagal, kegagalan itu menyakitkan manakala ia berimbas pada kekecewaan pihak lain di luar diri kita. siapa yang sanggup mengobati kekecewaan orang lapin yang ditimbulkan sebagai akibat dari kegagalan diri kita pribasi? Percaya atau tidak, bagi saya kegagalan itu seperti sebuah luka. Meskipun secara fisik telah sembuh, ia masih menyisakan bekas luka secara fisik dan traumatis secara psikis.

Ricky membenarkan kontemplasi saya,” (..)dan secara otomatis, akan terjadi penolakan kesuksesan pada output.” Sekali kita gagal, akan mengakibatkan kegagalan pengeksekusian program. Seperti itukah analogi Ricky? Bagaimana dengan proses yang juga menjadi penentu output?

“output memang tergantung dari proses yang kita jalani. Tapi yang perlu diingat adalah, sebelum proses ada input. Input disini adalah modal awal yang dimiliki manusia. oleh karenanya perbaiki Input dengan serius” yeah, bahasa ricky mulai menjurus ke mata kuliah komputasi. Lanjutkan ocehanmu Ricky!

Tanpa komando pun Ricky tetap melanjutkan ocehannya, “INPUT yang bagus, akan mudah melalui PROSES sehingga OUTPUT pun sesuai dengan yang diharapkan” ujar Ricky sebagai kalimat terakhir alinea mengakhiri catatannya.

Ricky sama seperti saya, sama-sama terjun di ranah statistik. tapi kemungkinan Ricky lupa, betapa susahnya mendapatkan sebuah data dengan selang kepercayaan 95%, artinya galat hanya 5% saja! Secara teori mudah, tapi coba kita tengok realita. Mungkinkah kita selalu berhasil melewati kesempurnaan PROSES? Meskipun INPUT sudah sedemikian idealnya? Disisi lain, orang-orang di luar sana selalu menilai hasil dari OUTPUT. Sementara mengabaikan perjuangan dalam menempuh PROSES.

~AN~

*daftar pustaka: Bluishteration, FKV. 2011. OUTPUT, PROSES, dan INPUT (Hakikat Manusia). http://rickybersuara.blogspot.com/2011/04/output-proses-dan-input-hakikat-manusia.html. diakses tanggal 15 Juni 2011.

picture taken from: kisaranku.blogspot.com

RUMPUT

rumput

rumput perpus

“siapa yang menjadi inspirasi kamu di kampus ini?”
“rumput”
“kok bisa? Apa hebatnya rumput bagi kamu?”
“setiap pagi saya jalan ke kampus melewati taman alumni. Sebuah tanah lapang tempat rerumputan tumbuh menghijaukan taman. Melihat rumput itu tumbuh seolah sebuah bentangan permadani hijau menyejukkan mata.”

“saya tau, tapi apa hebatnya rumput itu?”

“rumput taman alumni,

jadilah seperti rumput taman alumni, mereka tak pernah bosan tumbuh meski tiap seminggu sekali dibabat habis mesin pemotong rumput.

Rumput taman BAAK,

Berjuang tumbuh dari celah-celah pavingstone, meski bapak tukang kebun selalu mencabutinya tiap kali kehadirannya nampak muncul ke permukaan.

Rumput ilalang dekat perpustakaan pusat :

mereka percaya diri tumbuh meninggi seolah ingin menyaingi gedung-gedung tinggi  mengelilinginya. Ia tumbuh dengan segenap kekuatan akar mencengkram tanah dibawah pavingstone. Ilalang tak bermaksud angkuh.

Rumput hanya ingin tumbuh sebagaimana mestinya. berkontribusi sesuai kapasitasnya sebagai rumput. menghijaukan tanah gersang, mensuply oksigen untuk makhluk hidup, diinjak tapi tetap kuat, ia jadikan dirinya berguna meski tak seorangpun mau peduli padanya.

jika rumput dengan kesederhanaannya mampu berkontribusi dan menginspirasi, bagaimana dengan kita sebagai makhluk dengan susunan tubuh lebih kompleks?

ah, saya malu kalo sampai kalah sama rumput.

~AN~

REVISI

“Hidup terasa mati tanpa variasi”, begitu kiranya kata dosen mata kuliah eksperimen desain saya. Beliau menghubungkan konsep statistika dengan filosofis hukum alam. “seperti kurva distribusi normal, alfa (masalah) dalam hidup itu tak pernah lebih dari 5%. Jadi sebenarnya peluang kita ketemu masalah lebih sedikit ketimbang yang bukan masalah. Tergantung kita mau bersyukur atau tidak”. Sesaat saya seolah menjadi mahasiswa teknik sastra, atau mungkin teknik filsafatnya ITS. Filsafat statistik bikin kuliah jenuh jadi hidup. Kalau saja ITS membuka jurusan teknik filsafat dan sastra, tahun ini saya mau ikut SNMPTN lagi, ah *mustahil*

 

Kembali ke modul. Jika secara sederhana ilmu didefinisikan sebagai pengetahuan yang telah teruji kebenarannya(jujun S, 2000), maka benar bahwasannya hidup akan terasa mati tanpa variasi. Bukankah terlalu monoton relatif membosankan? Ketika saya berusaha membangun variasi-variasi ke dalam sebuah catatan hidup, akan terbentuk sebuah sistem kontemplasi dengan format serupa Modul.

Hidup ini seperti menyusun sebuah modul, laporan kehidupan yang akan kita bawa kelak ke hadapan Yang Maha Memiliki. Selama kita masih punya nafas, selama itu pula revisi demi revisi harus terus kita lakukan. Sampai nanti sidang TA di padang mahsyar, tegangnya beribu kali lebih dari komunal pengkaderan. Sebuah sidang penentu dari segala keputusan berikut balasan setimpal.
Inilah modul kehidupan yang sedang kita buat…

Continue reading

kamu percaya keberuntungan?

Jika ditanya apakah saya percaya keberuntungan?
Jawabannya Iya.

 

image from Google

image from Google

Boleh jadi apa yang sekarang saya raih ini pun salah satunya karena saya beruntung. Seringkali muncul pernyataan seperti, kamu beruntung ya bisa diterima disini, kamu beruntung ya lolos tes ini. Dan seterusnya. Pertanyaannya, apakah keberuntungan jadi faktor utama keberhasilan seseorang? Saya tidak bisa jawab iya.

Yang saya tau, sukses itu hadiah dari Tuhan karena kita sudah bekerja keras, ikhtiar, tawakkal untuk suatu visi yang kita perjuangkan sebelumnya.

Disisi lain saya tidak menolak anggapan jika keberuntungan juga bisa jadi salah satu faktor keberhasilan. Tapi bukan faktor utama.Saya yakin, keberuntungan adalah bonus dari akumulasi hasil kerja keras, amal, dan doa-doa kita dimasa terdahulu.

Lantas, kenapa kita perlu memusingkan keberadaan “luck factor” ? Yang terpenting adalah FOKUS pada ikhtiar untuk mewujudkan visi, diimbangi dengan niat baik, dan doa kepada Pemilik hidup dan kehidupan.

Ok guys. Keep ikhtiar and tawakkal.

Semoga bermanfaat. See you :)

 

~a contemplation.
Arinda Nur L.
Grissee, january 15 2011~
[13:30]

kontemplasi: alfa

Masih ada detik berlalu, hati tanpa mengingat-Mu
tersebut itu alfa.
Meski tak hanya sekali. Terus berulangkali.
Masih bisakah disebut alfa?
Khilaf? Alasan kamuflase.
Sampai kapan membiarkan hati mengkhilafkan diri?
Malu? Wajib!
Untuk mengingat saja masih sering lupa.
Padahal sudah lama tau,
kamu dan saya tak pernah benar-benar sendirian. Ada yang lebih dekat dari urat leher ini.
Siapa?
Coba tanyakan saja pada rumput yang bertasbih!
Mengingatlah wahai hati, kepada cintamu yang tak pernah lelah menjagamu dan memberimu kehidupan.

~AN~

october 2010