mayday…mayday

picture taken from: http://cutcaster.com/photo/100750203-May-2011/

Tak terasa, dua ribu sebelas semakin menua. Perasaan baru kemarin malam tidur saya diganggu gugat oleh suara-suara terompet tahun baru.  Dulu, menjelang pergantian tahun orang-orang sibuk menyusun resolusi tahun baru. Macam-macam mimpi dirancang seindah mungkin, mulai dari IPK > 3.5, lulus di wisuda 103, masuk PIMNAS, juara bussines plan, betapa indahnya rancangan mimpi. Saking indahnya terkadang kita mengabaikan susahnya usaha mewujudkan satu-demi satu mimpi tersebut. Pokoknya berani mimpi dulu! Urusan usaha belakangan.

Tapi sungguh disayangkan, menginjak pertengahan bulan mei, bulan dimana seharusnya pembuktian harapan kita mulai tampak nyata. Terkadang susunan mozaik mimpi awal tahun kemarin sore tiba-tiba terbengkalai di bulan mei. Mei seolah menjadi titik nadir pembuktian ekspektasi visi, kita tentu tak ingin jadi manusia yang Cuma bisa bermimpi namun juga sanggup memperjuangkan mimpi. Lantas, apa kabar resolusi yang telah kita rancang dengan rapi lima bulan yang lalu? Continue reading

Si Pembunuh Motivasi

Saya pernah menulis sepenggal pargraf tentang motivasi sebelumnya. Motivasi positif, niat positif, tindakan positif, insyaAllah berbanding lurus dengan hasil yang positif juga. Ibaratnya motivasi itu seperti bahan bakar mesin mobil. Biarpun mobilnya bagus, spesifikasi dinamis, sasis aerodinamis tidak akan bisa lari kalau tangki bahan bakarnya kosong. Sama saja dengan manusia seperti kita ini.

Sebenarnya tidak sulit mendapatkan injeksi motivasi. Yang sulit itu bagaimana menjaga motivasi tetap konstan tersimpan dalam diri kita. misalnya saja waktu mengikuti pelatihan / seminar. Trainer dengan suksesnya membangkitkan motivasi dan semangat saya. Sampai menggebu-gebu seakan apa pun rintangan yang dihadapi di dunia luar nanti tak gentar saya hadapi. Efeknya luar biasa. Beberapa jam setelah keluar dari ruangan training semangat saya membara. Secara drastis saya jadi lebih bersemangat dari sebelumnya. Tetapi beberapa hari kemudian atau bahkan beberapa jam setelah itu semangat dan motivasi saya sedikit demi sedikit luntur terkikis abrasi waktu. :(

Rasanya motivasi yang saya dapat di ruangan itu tadi menguap begitu saja. Evaporated like a water sea . kenapa hal itu bisa terjadi ? Mari mencoba menelusuri penyebabnya.

Kemungkinan pertama karena saya terlalu lama menyimpan motivasi tanpa segera mewujudkannya dalam tindakan nyata. Ini sering terjadi pada orang-orang tipe pemikir seperti saya. Artinya terlalu banyak mikir tapi nggak ada aksinya. Think only no action. Misalnya motivasi menulis. Suatu hari dalam sebuah acara yang memotivasi saya untuk menuliskan ide-ide dan gagasan dalam tulisan. Injeksi semangat telah diberikan. Kemudian begitu banyak ide mengalir di dalam otak saya. Semangat dan motivasi telah membangkitkan kotak ide dalam otak. Tapi hasilnya nonsense jika saya menyimpan ide tersebut hanya dalam kepala tanpa segera menuliskannya. That’s the point, evaporated like a water sea. Ibaratnya mesin mobil sudah sekelas mobil Formula 1, tangki bahan bakar juga sudah diisi, ketika dinyalakan kita malah tidak segera menjalankan mobil. Terus saja diam di tempat karena takut ketabrak dinding sirkuit balap, takut ketenggor mobil lain, takut untuk segera bertindak. Lama-lama bahan bakarnya habis ditempat tapi kita belum bergerak satu meter-pun. Nggih Sami mawon mbuju’i

Penyebab kedua, membunuh keyakinan diri sendiri. Percuma kalau orang susah payah meyakinkan kita kalau kita ini bisa. Tapi dia sendiri tidak pernah percaya akan ability and inner self.

penyebab ketiga, saya menyimpan motivasi itu untuk diri saya sendiri. Coba kalau kita membagikan motivasi yang kita dapatkan dari suatu tempat, kemudian motivasi itu kita bagikan ke tempat lain dan orang lain itu akan membagikannya ke tampat lain juga. Terus-menerus secara berkesinambungan. Bentuk motivasi kecil yang kita bagikan akhirnya menjadi besar karena telah menyebar ke banyak orang. Dan bukan tak mungkin suatu saat nanti dikala kita sedang dalam keadaan in a low motivation, orang-orang yang pernah kita beri motivasi akan memberikan motivasinya pada kita. seperti jargon IBSN* ,”BERBAGI TAK PENAH RUGI”.  :)

Penyebab ke-empat, ke-lima…. sampai tak hingga belum saya temukan jawabannya.. monggo dicari sendiri :mrgreen:

Susahnya menjaga motivasi. Seperti itu juga motivasi menulis, motivasi kuliah, motivasi ini itu dan lain sebagainya. Menjaga memang lebih susah daripada mendapatkan.

Semoga yang sedikit dan ala kadarnya  ini bisa bermanfaat :)

 

Catatan kaki:

*IBSN  adalah sebuah wadah insan indonesia dalam jaringan internet dengan berbagai jenis blog platform yang memiliki konsep keindahan berbagi.

Motivasi Positif

Kamu sering ikut seminar, pelatihan,? Apa tujuan kamu buat ikut pelatihan?

Kata si a: “saya ingin mendapat ilmu dan pengalaman baru dari pelatihan ini.”

Kata si b: “saya ingin mendapat banyak kenalan dan teman baru”

Kata si c: “saya ingin mendapat sebuah perubahan dalam diri saya”

“itu saja? “

Lalu apa jadinya jika setelah pelatihan ini, setelah seminar ini kamu tidak mendapatkan apa yang kamu inginkan???

Satu theater menjawab kompak,”Kecewa”

Barangkali dalam sebuah proses mencari ilmu kita sering mendapatkan diri kita terpuruk dalam kekecewaan. Kira-kira apa yang menyebabkan kita kecewa? Mari kita telusuri lebih mendalam. Kecewa adalah perasaan manusiawi yang timbul secara alamiah sebagai akibat dari tidak tercapainya keinginan. Dengan kata lain kecewa itu timbul karena rasa ingin mendapatkan.

Lalu, Sampai dinama batas kekecewaan itu akan berakhir? Bukankah sifat manusia yang tidak pernah puas terhadap sesuatu yang didapatkan akan berdampak pada kekecewaan tiada akhir? Sampai kapan kita mau terus-terusan kecewa? Kita akan sangat sering mendapati diri kita dalam kekecewaan karena keinginan berlebih untuk mendapatkan.

Sebelum melangkah lebih lanjut dalam proses pencarian ilmu, proses belajar,  mari kita tata kembali motivasi kita. Akan jadi lebih baik rasanya jika motivasi keinginan untuk mendapatkan kita ganti dengan motivasi untuk memberikan, untuk berbagi, share what we understand about. Dalam berbagi, jangan menunggu sampai kamu punya cukup banyak ilmu untuk dibagikan. Berbagilah dalam sekecil apa pun ilmu yang kamu miliki.” Karena esensi berbagi terletak pada manfaat dari hal yang kamu bagikan, bukan seberapa banyak yang kamu bagi.

Ok, finally seperti biasanya. Pendapat saya tidak sepenuhnya benar juga tidak sepenuhnya salah. So, if you have another opinion about this topic, please share it on the comment box below. Thank you for your coming guys, see u next post J

Semoga bermanfaat … :)