Meranggas

Pernah kita seperti pohon jati yang meranggas kala kemarau menerjang. Tak ada air, udara kering. Sementara terik matahari membakar tiap sudut tanah hingga merekah pecah-pecah. Situasi serba genting bagi pohon jati. Tak ada pilihan lain; menggugurkan dedaunan setelah sebelumnya sengaja membuatnya kuning hingga kering. Bagi pohon jati, kemarau itu menyakitkan. Menggugurkan daun sama sakitnya dengan mancabuti kuku-kuku dari jemari kita. Tapi mau bagaimana lagi, lebih baik kehilangan dedaunan daripada mati termakan bulan-bulanan terik kemarau.

Kita pernah mengalami fase meranggas seperti pohon jati. Langit memang masih biru, tapi panasnya menyakitkan. Seketika kita harus mengorbankan hal ihwal yang kita anggap penting. Tujuannya hanya satu, bertahan di teangh kemarau panjang. Rasanya seprti tidak ada harapan lagi untuk menunggu hujan. Kering, kering, kering! Mati, mati, mati! Pikiran negatif bergelayut dalam angan. Ini fase fatalis yang  parah bagi manusia. rasanya semua usaha telah dikerahkan,tapi hidup belum juga membaik. Langit masih biru, tapi panasnya minta ampun! “Tidak ada jalan” ujar kita dalam hati. Mau memnyerah saja, rasanya. Membiarkan tumbang diterjang angin kering. Atau pasrah menyuguhkan diri ditebang untuk jadi kayu bakar. Kita benar-benar di ujung titik nadir.

Tapi, pohon jati belumpernah se-fatalis itu. ia tetap berdiri tegak menengadahkan ranting-rantingnya ke langit. Mungkin berucap sepatah doa yang tak terdengar telinga. Mengharap hujan, sembari akar-akar halusnya mencari rembesan air. Jati tetap memegang keyakinan.

“kalau badai saja bisa berlalu, kenapa tidak dengan kemarau?”

AN