kontemplasi: alfa

Masih ada detik berlalu, hati tanpa mengingat-Mu
tersebut itu alfa.
Meski tak hanya sekali. Terus berulangkali.
Masih bisakah disebut alfa?
Khilaf? Alasan kamuflase.
Sampai kapan membiarkan hati mengkhilafkan diri?
Malu? Wajib!
Untuk mengingat saja masih sering lupa.
Padahal sudah lama tau,
kamu dan saya tak pernah benar-benar sendirian. Ada yang lebih dekat dari urat leher ini.
Siapa?
Coba tanyakan saja pada rumput yang bertasbih!
Mengingatlah wahai hati, kepada cintamu yang tak pernah lelah menjagamu dan memberimu kehidupan.

~AN~

october 2010

M.A.B.A

“ jreeengh jreeengh jreeengh…. kujelang dini hari dengan segelas teh panas. Dipagi ini ku bebas karena nggak ada kelas tanggalnya memang merah. Di ruang mata ini kamar ini serasa luas. Teh sudah habis dan perut pun kembung. Dan mulai saya tulis kehidupan di kertas…. “

Akhirnya hari itu 7 desember jadi agak mirip lagunya om bondan. Entah gara-gara teh panas, atau karena ini adalah awal tahun hi jriyah sepertinya saya tergugah buat introspeksi seperti lirik lagu om bondan. Muhasabah, introspeksi tidak harus dilakukan setahun sekali. Setiap hari boleh, setiap jam juga sah-sah saja. Toh tidak ada larangan. Ibaratnya setelah dapat materi kuliah kita bikin resume. Nah, resume itu sama saja dengan bahan introspeksi buat diri kita (saya). Kalau harus menunggu setahun sekali tiap malam tahun baru, basi rasanya. Iya kalau saya masih hidup malam tahun baru nanti.

Hari-hari yang keras

Sedikit mundur sambil nengok ke belakang. Munduuuuuuuur.

Dalam kurun 2 bulan, Gara-gara tiga kali gagal lolos seleksi masuk PTN ditambah 1 sekolah tinggi. Rasanya waktu itu saya jadi orang paling bodoh. Stress, depresi, tapi untung saya masih punya sisa sedikit kadar ke- warasan jadi tidak sampai punya pikiran bunuh diri. *lha wong sambel terasi iku sik enak lho. Lapo bunuh diri iku*

Saya bertanya pada Sang Produser umat manusia, kenapa jalan saya banyak tikungan tajam?sementara yang lain lurus-lurus saja. Tetapi satu-satunya yang pantas disalahkan dalam kegagalan ini adalah diri saya sendiri. Seorang teman menasihati saya, ”itu akibat dari terlalu tinggi berekpektasi, merasa bekerja paling maksimal, dan tidak mempersiapkan hati untuk ketentuan yang lain dari-Nya..”

kalau direnungkan sepertinya memang benar. Hhh lagi-lagi ngikuti lagu om bondan ,”ya, sudahlah”. Toh akhirnya setelah tiga kali terperosok ke lembah hitam kelam akhirnya saya kecemplung juga di jurusan statistika ITS. Pluuung. Saya bilang kecemplung karena sebelumnya sedikitpun tak pernah terlintas bayangan statistika. Ditanya statistika itu apa saya juga ndak ngerti (waktu itu).

Tanya : “Dek, Apa itu statistika?”

Jawab : “statistika itu nama jurusan “ *saya jawab dengan sok polos…*

Tanya : “ya tau nama jurusan. Tapi yang dipelajari apa ya?”

Jawab: *ga bisa jawab. Mikir. Akhirnya googling*

“Statistika itu…bla bla bla bla” * mulai mengarang indah*

Tanya: “Oh, jadi intinya itung-itungan kan?”

Jawab: “Hehe, ya anggap saja begitu :D

Ampuuuun dah. Saya (waktu itu) beneran nggak tau apa itu statistika. Ibaratnya saya kecemplung dan terlanjur basah. Jadi sekalian saja berenang sampai ke hilir. ok itu masa lalu. Percuma terus stagnan di kegagalan masa lalu. Mari sekarang kita bicara mengenai masa sekarang dan masa depan.

JURUSAN = PASANGAN HIDUP

Saya mungkin hanya satu diantara ribuan orang di luar sana yang pernah berpikiran salah jurusan. Tapi apa hanya gara-gara “merasa” salah jurusan lantas saya mau menyerah? Atau mengkambing hitamkan alasan salah jurusan sebagai penyebab jeleknya nilai kita (saya) ?

Karena dengan proses “ta’aruf” singkat saya sukses melamar statistika sebagai pasangan hidup saya. Awalnya sulit hidup berdampingan dengan pasangan yang sama sekali tak saya kenali. Untuk mencintai kita harus memahami. Dan untuk bisa paham terlebih dulu harus mengerti luar-dalamnya. Dulu karena saya belum mengerti maka saya merasa kecemplung di statistika ini. Tetapi saya berusaha menjalaninya dengan santai dan rasa syukur. Hingga akhirnya sekarang saya merasa beruntung sudah di-cemplungkan di sini. Give thanks to Allah :)

Misal saya punya pasangan hidup, kemudian saya merasa tidak cocok, apakah berarti saya salah memilih pasangan hidup? Bodohnya kalau berpikir begitu. Continue reading