Saya heran jika teman-teman memilih mall sebagai tempat traveling refreshing. Mau lihat apa sih, di mall? Saya bisa prediksikan, betapa Membosankannya melihat pemandangan baju-baju di gantungan, muter-muter naik-turun eskalator dengan suasana dinginnya udara sejuk khas AC. kalau saya lebih suka bergaul dengan panasnya surabaya daripada harus thawaf muterin mall ngeliatain gantungan baju..
Tidak jauh dari lokasi Jembatan Merah Surabaya berdiri sebuah Museum berbasis sejarah industri, namanya Museum house of sampoerna. Keberadaanya sebagai tempat wisata berbasis museum sejarah cukup mendapat apresiasi pengunjung, karena alasan itulah tempat ini bisa dibilang menjadi salah satu museum bernasib baik, lantaran museum lain di surabaya jarang mendapat apresiasi kunjungan sebaik museum ini.
Saya pribadi lebih suka menyebutnya sebagai rumah tembakau karena seketika setelah kamu membuka pintu masuk museum,
aroma tembakau kering dan cengkeh langsung menusuk hidung. Harum aroma cengkeh dan tembakau seperti ini yang dahulu pernah menarik orang-orang eropa, lantas membangkitkan nafsu kolonialisme di benaknya. Mereka rela melakukan ekspedisi maut menyusuri samudera demi rempah-rempah nusantara kita. Hanya demi sekarung cengkeh, ambisi menguasai, dan kekayaan nyawa mereka pertaruhkan sementara nurani mereka abaikan. Loh, kok jadi ngomongin penjajah..?!? kembali ke rumah tembakau. Continue reading





