ketika Pengkaderan Telah Menjadi Budaya


image from google

Entah sejak kapan budaya dan tradisi orientasi siswa/mahasiswa baru atau yang populer dengan nama OSPEK a.k.a PENGKADERAN mulai tumbuh mengakar di kalangan akademia. Saya tidak akan membahas darimana budaya ospek ini muncul, melainkan bagaimana implementasi serta manfaat yang “diharapkan” diperoleh dari implementasi kegiatan tersebut. Pendapat yang akan saya tulis ini berdasarkan dari sudut pandang saya pribadi yang notabene saat ini adalah junior di kampus saya. Dan saya akan mengutarakan opini dari sudut pandang saya sebagai junior. Sekali lagi “sebagai junior”😀

Dalam benak saya (sebagai junior) yang terlintas mengenai ospek/pengkaderan adalah hal yang berkaitan dengan senioritas, bentakan, tugas, kedisiplinan, tekanan mental, dan marah-marah. sepengetahuan saya, Pada dasarnya ospek mempunyai tujuan membentuk mahasiswa yang berkarakter. Karakter seperti apa yang ingin ditanamkan pada mahasiswa/siswa baru? Yaitu karakter disiplin, tegas, tahan banting, rasa saling menghargai serta menghormati, dan kepedulian terhadap kawan seperjuangan. Disisi lain, orientasi juga berusaha mengenalkan “anak baru” kepada lingkungan baru yang akan menjadi bagian hidup dan kesehariannya kelak. Membantu beradaptasi, mengakrabkan dengan kawan seperjuangan, serta menjalin suatu hubungan kekeluargaan antara senior sebagai orang lama dan junior sebagai penduduk baru.

Jadi apa yang perlu dipermasalahkan? Tujuannya baik gitu lho..

Saya disini tidak mempermasalahkan keberadaan ospek itu sendiri. Namun saya merasa  ada beberapa hal yang bisa jadi menyimpang dari tujuan orientasi ketika implementasi orientasi dilaksanakan. Misalnya saja senioritas. Apa itu senioritas? Sikap semena-mena senior terhadap junior. Ketika seorang senior menganggap dirinya patut dan wajib dihormati sebagai “orang lama” yang konon katanya sudah mengecap asam garam dunia. Bagi saya senioritas adalah suatu bentuk  keinginan seorang senior untuk disegani dan dihormati. Namun konteks hormat dan segan bisa berbeda jika dibuat hubungan seperti ini; segan karena hormat, atau hormat karena segan. Bingung ya? Jangan bingung dulu. Memang apa bedanya?

Dari perspektif saya, segan karena hormat adalah suatu kepantasan dan keharusan junior terhadap senior. Atau istilah dalam masyarakat yang kita kenal dalam bentuk yang tua menyayangi yang muda dan yang muda menghormati serta menyayangi yang tua. Jadi sikap segan itu timbul karena rasa hormat serta keinginan untuk saling menghargai.

Lalu bagaimana dengan hormat karena segan? Lagi-lagi ini menurut perspektif saya, hormat yang timbul karena segan adalah bentuk rasa “Takut” yang mengakibatkan reaksi hormat. Seperti pada hukum fisika,”dimana ada aksi, disitu ada reaksi” . Jadi hormat yang ini benar-benar bukan hormat dari dalam hati, melainkan hormat karena takut. Kalau sudah begini bentuk hormat itu akan lain.

Darimana istilah hormat karena segan itu muncul?

Saya tidak sepenuhnya setuju jika orientasi dianggap mampu membentuk karakter siswa/mahasiswa baru secara permanen. Saya contohkan sebuah fakta dari hasil pengamatan SEKILAS saya; pada masa orientasi yang berlangsung beberapa minggu, bulan, bahkan tahun. MAHASISWA BARU dilarang memakai celana JINS sewaktu mengikuti perkuliahan.  Dilarang memakai baju berbahan dasar kaos, harus memakai kemeja, dan lain sebagainya. Waktu itu ada salah seorang senior yang berkata pada kami,” kalian itu kalau kuliah jangan pakai celana jins, atau rok yang berbahan celana jins. Kalian itu kan masi maba (mahasiswa baru)” padahal, yang bicara sendiri mengenakan celana jins. Rasanya saya pingin protes sambil ketawa , tapi takut dianggap nggak sopan. Hehe😀 atau jangan-jangan Cuma maba saja yang nggak boleh pakai jins? Trus kalau udah senior boleh ?  entahlah, saya belum paham. Padahal dosen saya juga pernah mengatakan kalau waktu mengikuti perkuliahan jangan pakai celana jins. Tapi kenapa senior itu masih pakai jins? Atau mungkin juga kebetulan aja yang saya temui ini senior yang “bandel”. Dan nggak semua senior bandel koq J *peace… mbak, mas senior.. J *

Mungkin segini dulu yang bisa saya ungkapkan menganai orientasi/ospek/pengkaderan. Kapan-kapan disambung lagi deh:mrgreen:

Oh ya, kalau ada yang punya opini lain silahkan ditulis di kolom komentar. Karena dalam opini ini, tidak sepenuhnya benar juga tidak sepenuhnya salah..:mrgreen:

Bersambung…

29 thoughts on “ketika Pengkaderan Telah Menjadi Budaya

  1. orange float

    dari pengalaman saya, ospek malah membuat kita semakin kenal dan akrab dengan senior. jadi kita tahu kebiasaan di lingkungan tersebut dan juga kalo ada kendala bisa sharing sama mereka

    Reply
  2. hanif

    Lagi musim ospke nih kayaknya.
    Kalau aku dulu di kampus malah tak ingin disegani oleh adik-adik. Aku malah ingin menjadi sahabat baik bagi mereka. Soalnya mereka hanya beberapa tahun di bawahku. Alhamdulillah dengan begitu aku bisa menjalin keakraban dengan mereka semua. Mereka toh nanti akan menghormati kita jika kita mau menghormati mereka juga.

    Reply
  3. Catatan SederhaNa

    dari pengalaman saya mulai jadi junior smp senior sperti sekarang ini ospek/pengkaderan(istilah di kampusku) itu???
    bingung jelasinnya soalnya bisa panjang lebar,kl mau tau bisa lihat di blogku😀

    Reply
  4. Azka

    Kegiatan di ospek yang paling menyenangkan dan membuat akrab dengan senior adalah kegiatan malam keakraban. Kenapa semua kegiatan ga dibarengi dengan keakraban saja? Kenapa harus dengan bentak membentak? Apa untuk latihan demo?hehe…
    Kekerasan tidak menyelesaikan masalah.
    Salam

    Reply
  5. MENONE

    Menone sekeluarga mengucapkan:
    Selamat Hari RAYA IDUL FITRI ………………………….MINAL AIDZIN WAL FAIDZIN MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN……………. salam persahabatan

    Reply
  6. Sugeng

    Dari Tabanan aku meminta dibukakan pintu maaf yang sebesar-besarnya apabila ada kata serta tulisan yang kurang berkenan semua itu karena kekhilafan saya sebagai manusia yang masih jauh dari sempurna.
    Taqabbalallahu minna wa minkum wa ja’alanallahu minal ‘aidin wal faizin
    Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan

    Reply
  7. ario saja

    Ospek budaya masa lalu yang harus tetap di peluhara, kita tau bahwa ospek hanya mempunyai 2 pasal.
    Pasal 1
    Senior selalu benar

    Pasal 2
    Jika senior salah / khilaf maka baca pasal 1

    Reply
  8. JoO

    saya orang yang gag suka ma yang namanya ospek hehehe..
    tapi di kampusku dulu waktu jadi Junior dah di ganti jadi PPM (penggalian potensi mahasiswa) nah kalo ini sangat menyenangkan sesuai dengan tujuannya mengenalkan kampus mulai dari organisasi yang ada dikampus sampe siapa pengeurusnya… nah potensi yang kita miliki bisa disalurkan deh di organisasi yang ada… banyak permainannya… [jadi pengen PPM lagi] ^.^

    Reply
  9. marsudiyanto

    Pengkaderan yang cuma beberapa hari dengan kegiatan yang nggak terkonsep rasanya jauh dari tujuan.

    Meski di buku panduannya ditulis muluk, tapi implementasinya pepesan kosong.

    MOS di sekolah nggak jauh beda.

    Ada memang satu dua yang bagus, tapi yang sekian ratus lainnya ya tadi itu, cuman pepesan kosong.

    Reply
  10. fadlikadn

    hmm…salah satu cara efektif bagaimana cara mengajarkan sesuatu kepada orang lain adalah menjalankannya terlebih dulu.. Dengan begitu orang lain akan tahu bahwa yang kita ajarkan itu terbukti.
    Nice post🙂

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s