kontemplasi: alfa


Masih ada detik berlalu, hati tanpa mengingat-Mu
tersebut itu alfa.
Meski tak hanya sekali. Terus berulangkali.
Masih bisakah disebut alfa?
Khilaf? Alasan kamuflase.
Sampai kapan membiarkan hati mengkhilafkan diri?
Malu? Wajib!
Untuk mengingat saja masih sering lupa.
Padahal sudah lama tau,
kamu dan saya tak pernah benar-benar sendirian. Ada yang lebih dekat dari urat leher ini.
Siapa?
Coba tanyakan saja pada rumput yang bertasbih!
Mengingatlah wahai hati, kepada cintamu yang tak pernah lelah menjagamu dan memberimu kehidupan.

~AN~

october 2010

19 thoughts on “kontemplasi: alfa

  1. Daun

    Yah namanya juga khilaf kan masih bisa di toleransi selagi tidak menjadi kebiasaan,Allah saja memaafkan hambanya yg khilaf masa kita manusia ciptaanNya tidak memaafkan juga…?

    Salam

    Reply
  2. Didien®

    pakabar rin? lama tak berkunjung kemari..
    tulisanmu makin dalam aja maknanya…

    maaf baru berkunjung, soalnya ada kerjaan yg harus diselesaikan di tempat yg jauh dari peradaban dunia hahahahayyy *lebay*

    salam, ^_^

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s