Salah Jurusan?


:“masih ingat kuisioner yang disebarin silvi di T-103?”

:“kuisioner opo iku?”

:“Kuisioner, KAMU IKUT SNMPTN 2011?

Hasilnya sungguh menakjubkan. Dari sekitar 42 responden, sebanyak 22 mahasiswa memutuskan ikut SNMPTN 2011. Saya tidak main-main lho…”

:“wiih, berarti teman-teman merasa salah jurusan. Mereka pikir kalo jurusan ini bukan jalan hidup yang mereka impikan sehingga memutuskan ikut SNMPTN 2011. Atau jangan-jangan kamu juga salah satu diantara mereka?”

:“entahlah.. mengenai fenomena salah jurusan ini, tempo hari aku tanya sama senior angkatan atas, mas! Apa sampeyan pernah merasa salah jurusan?”

:“opo jawabane?”

:“sama sekali tidak pernah, Begitu jawabnya. Lalu dia balik tanya apakah saya merasa salah jurusan? Lalu saya jawab, fluktuatif mas!”

:“hassh..yo kabeh ae. Jawaban kamu terlalu umum, nduk!. fluktuatif itu manusiawi lah! Mungkin fluktuatifitas motivasi itu yang dirasakan teman-teman kamu dan termasuk kamu juga. Coba sekarang kita ibaratkan jurusan seperti pasangan hidup. Memilih pasangan hidup kemudian merasa cocok dengannya seumur hidup itu relatif sulit. Bahkan completly cocok seumur hidup saya pikir itu mustahil”

:”jangan pake analogi pasangan hidup, aku nggak mudheng..

Anyway, orang itu memperingatkan saya gini, kamu harus hati-hati dengan pikiran salah jurusan. Kalau memang kamu sudah tidak lagi menemukan apa yang menjadi tujuan kamu disini akan lebih baik kalau kamu mencari tempat lain yang kiranya mampu memenuhi tujuan kamu. Atau kalau tidak, kamu tidak akan mendapat manfaat apa pun dari kuliah kamu saat ini sampai nanti kamu lulus dari sini. Tidakkah itu menjadi sesuatu yang sia-sia hanya gara-gara pemikiran salah jurusan?”

:”hmm, ya bener. Kalau kamu kuliahnya ndak ikhlas, mau dapat apa ntar! Tapi, melepas jurusan yang susah payah 2 semester kamu perjuangkan? opo gak eman??? Ini lebih dari sekedar perasaan serta pikiran salah jurusan. Well, kalau pun jurusan ini bukan pilihan pertama saat tes dulu, kita tetap wajib bersyukur bisa merasakan bangku kuliah. Syukur! Itu kuncinya.kesempatan kuliah itu amanah besar lho nduk…mubadzir kalo kamu sia-siakan Cuma gara-gara perasaan salah jurusan. Nggak adil!“

:”trus piye… Pikiran salah jurusan itu seolah ber-resonansi dari satu kepala ke-kepala lainnya. Hingga menciptakan fenomena salah jurusan dari tahun ke tahun yang tak kunjung sembuh…

kira-kira apa yang bikin pikiran salah jurusan itu muncul?”

:“Loh, kan sudah jelas dari pernyataan orang tadi. Pikiran salah jurusan itu tidak akan muncul kalo kamu sudah  menemukan sesuatu yang menjadi tujuan kamu di tempat ini.

Sekarang begini saja. Buat apa kamu repot-repot mikirin salah jurusan. Kalau kamu nggak bisa kalkulus atau ekonomi teknik misalnya, itu bukan berarti kamu salah jurusan. Life is never flat,.

Daripada repot mikirin salah jurusan mendingan sekarang kamu tata ulang tujuan kamu disini itu ngapain?! Kamu udah susah-susah nyari sekolah masa mau dilepasin begitu saja?. senior-senior kamu pada seneng-seneng wisuda kamu malah ribet karepe dhewe mikirin salah jurusan. Sekarang katakanlah kamu mau ikut SNMPTN lagi ngambil jurusan yang jadi mimpi kamu jaman dahulu, pertanian misalnya atau teknik lingkungan atau sistem informasi. Apa kamu mau melepas satu tahun perjuangan kamu disini? jadi maba lagi, pengkaderan lagi. Tidak kah satu tahun ini nanti bakal useless?

Kalahkan pikiran kamu itu dengan hati. Kendalikan logika dengan hati. Semuanya berawal dari niat, sedangkan niat itu letaknya di hati. Wis ayo lhang direvisi niat ing ati…”

:”hhh, bingung ah. Mbulet ae… aku mau liat parodinya mbak&mas yang wisuda saja di graha… “

* * *

~AN~

* (…)”self talk“ atau lebih tepatnya produk pikiran iseng(melamun) saya sambil menunggu rombongan arak-arakan wisudawan 102. Saya merinding liat mbak dan mas pakai toga, berdasi rapi, make up super tebeeel, apalagi didampingi keluarga tercinta. That’s cool! Graha, tunggu saya di wisuda 107.

Radiasi euforia wisuda sampai bisa bikin sinta mengurungkan niatnya pindah jurusan, apalagi pindah kampus.

“gw nggak jadi pindah! Gw mau lulus di sini aja dah!”

Hehehe, wisuda 107 sik suwe seru nduk!

21 thoughts on “Salah Jurusan?

  1. Sya

    Iya, setuju, daripada mikirin salah jurusan dan konsentrasi habis di situ aja.Lebih baik mikirin gimana caranya kamu melakukan yang terbaik dalam hal yang udah kamu pilih.

    Reply
  2. AMYunus

    Perasaan yang sama saat melihat senior yang pake toga alias lulus kuliah. Saya dulu merasa kagum dengan mereka. Dan saya yakin bisa mengalami hal yang sama dengan waktu yang tidak molor (8 semester). Amin.

    Lah, tergantung sama Passion kok kalo menurut Mas Dyo. Nah biasanya itu orang yang pindah karena mereka melihat jurusan yang terbaik menurut orang lain (tertinggi gradenya di SNMPTN se universitas, misalnya). Bukan menurut dia sendiri (maksudnya dia suka dan berani menghadapi semua aral melintang di jurusan itu).

    Nabiyullah pernah bersabda kalau segala hal yang terlihat baik belum tentu baik bagi kita dan segala hal yang terlihat buruk belum tentu buruk bagi kita. Anyway just follow your heart (and your parents said about)!😉

    Reply
  3. Ahsan

    Wah, kena pukulan telak nih🙂
    Saya kan sampai ini masih merasa salah pilih jurusan:mrgreen:

    Kalau prinsip saya sih, Salah pilih jurusan itu boleh. Memilih jurusan yang salah itu yang nggak boleh.😉

    Reply
  4. Arief Rakhman

    Kalo ngikut model universitas2 barat sana, denger2 (salah satunya dari salah satu univ Aussie yang wakilnya pernah datang ke rektorat) mereka selalu menyediakan pilihan untuk “pindah jurusan” selama masih satu universitas. Dan selalu ada pilihan mayor ada minor yang banyak. Soalnya -kata mereka- we never know till we get there. Kita nggak tau keadaan sebenarnya sebuah jurusan sebelum kita ada di dalamnya. Hehe..

    Solusi? Lari atau hadapi. Semua langkah ada konsekuensi. Yang terbaik sepertinya melakukan segala hal dengan hati. Doing what you love. Tapi kalau risikonya lebih besar, mungkin lebih baik berusaha untuk menyukainya. Loving what you do. Atau ada kesempatan emas yang berpeluang besar menjadikan kita lebih bahagia? (mungkin ke Jepang atau Korea?) Sebaiknya diambil segala risikonya.

    #nasehat ini lebih cocok ditujukan pada saya sendiri, hehe.. tapi aku tidak mau pindah jurusan di semester delapan.. :p

    Reply
  5. Nisa

    wah,, jadi inget dulu aku pernah beberapa kali dibilang salah jurusan lho rin, byuh.. aku pun jadi sering bertanya pada diri sendiri, sering, sangat sering..

    Reply
  6. Joko Setiawan

    Hmm,,, Sering sich kasus kalo ada mahasiswa yang merasa salah jurusan, kemudian kuliah asal-asalan dan mengakibatkan stress yang berkelanjutan,, kasian banget yach hohoho:mrgreen:

    Menurutku sich, pertama ya paksakan dahulu, namun jika memang benar-benar “salah jurusan”, maka pindah sebelum masuk ke tingkat II adalah pilihan yang bijak,, semoga kita adalah salah satu yang tidak merasa “salah jurusan” ya🙂

    Salam semangat selalu dari Bandung

    Reply
  7. nh18

    Daripada repot mikirin salah jurusan mendingan sekarang kamu tata ulang tujuan kamu disini itu ngapain?! …

    I like this statement …

    Ujian jelek … ngeluh … sepertinya saya salah jurusan
    Kepingin males … bilang aja … aku ndak ada energi … aku salah jurusan … bukan ini yang aku mau

    Hehehe

    salam saya

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s