semanggi


 

 

Tampilannya sederhana. Ia hanya setangkup kukusan daun semanggi dibungkus pincuk daun pisang, dengan siraman bumbu kental dan rasa khas menggugah selera. Bagi petani, semanggi itu jenis gulma pengganggu tanaman yang tumbuh liar di area persawahan. Semanggi tak lebih dari jenis tumbuhan paku-pakuan tak punya nilai jual. Tapi di tangan orang Surabaya, semanggi berubah menjadi makanan tradisional yang  digemari banyak kalangan.

Ditemani dengan rempeyek atau kerupuk , semanggi menjadi santapan sederhana nan istimewa. tanpa campuran bumbu, daun semanggi yang dimasak dengan cara dikukus ini punya tekstur rasa manis di lidah. selain itu semanggi juga kaya serat sehingga baik buat pencernaan. biasanya dalam penyajian kuliner tradisional khas surabaya ini, pedagang semanggi mencampurnya dengan daun ubi jalar. namun tetap tak mengubah rasa khas daun semanggi.

rahasia kelezatan semanggi sebenarnya terletak pada mixture bumbu yang menjadi inti dari kelezatan makanan tradisional ini. komposisi bumbu semanggi sangat sederhana, terdiri dari ubi jalar, kacang tanah, dan gula jawa. ketiga bahan dasar bumbu tersebut diolah sedemikian rupa dengan proporsi tertentu menjadikannya berkesan dilidah penikmatnya.  kelezatan rasa tradisional  Semanggi seolah menyihir lidah saya untuk menjadi penggemar kuliner tradisional ini semenjak belasan tahun yang lalu.

Namun sayangnya  saat ini tak mudah menemukan penjual semanggi, bahkan di tempat kuliner ini lahir sekalipun.

***

Semanggi  hanyalah  satu dari sekian banyak kisah kuliner tradisional yang terancam eksistensinya. Hukum ekonomi tetap berlaku, tidak ada konsumen maka tidak ada produsen. Bagaimana orang tertarik menjual semanggi kalau konsumennya saja tidak ada? mari lestarikan kuliner tradisional nusantara dengan menjadi konsumen setianya.

~AN~

”Kita asing dengan diri sendiri sebab apa yang kita miliki sekarang (termasuk makanan) adalah hasil meniru kebudayaan orang lain,”
(Prof Murdijati Gardjito)

28 thoughts on “semanggi

  1. alamendah

    (Maaf) izin mengamankan KETIGAX dulu. Boleh, kan?!
    Marsilea crenata ini memang eksotis. Sayang banyak yang menganggapnya semagai makanan udik sehingga malu mengkonsumsinya.

    Reply
  2. Sya

    Slurrrrp *nelen ludah.
    Itu kayaknya enak banget deh.
    Saya dulu suka banget makanan barat, yang pakai keju & mayonaise yang banyak. Tapi ternyata masakan barat itu ngebosenin.
    Sekarang saya suka banget sama masakan Indonesia, lebih enak & lebih bikin napsu makan. Hidup masakan Indonesia.

    Reply
  3. Ahsan

    Hmm… Pecel Semanggi..
    Sudah lama sekali tidak makan sayur yang satu ini.

    Oh iya, ngomong-ngomong semanggi juga membuat kita sukses lho rin. Semanggi = semangat tinggi🙂

    Nice post. Keep posting Rin😀

    Reply
  4. cantigi

    jadwal sy sangat padat. kebeneran 4 hr terakhir sy kena gejala typhus (3 bln terakhir 2x kena). maaf ya an, tlg titip jg buat yg lain, sy mohon maaf jarang bloging

    Reply
    1. anla arinda Post author

      bogor banyak sawah kan, sesepuh? sebagai seseorang yang kuliah di jurusan teknik pertanian, sampeyan budidaya semanggi aja di bogor. trus buka warung semanggi surabaya di sana.
      sekalian juga jualan karak nggersik, lontong romo nggersik, dll:mrgreen:

      kalo harus ekspor dari SBY ntar harga jualnya bisa mahal, sesepuh!😀
      ono-ono ae sampeyan iku.

      Reply
  5. Pingback: Kantin dan Urusan Perut Mahasiswa « Catatan Kaki

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s