Meliput Reporter


reporter

the reporter a.k.a Rani

Saya mendapat kesempatan kedua menyaksikan langsung kerja seorang reporter memburu berita. Bagaimana reporter bekerja? Tempo hari, saya mendapati teman saya yang berprofesi sebagai jurnalis kampus sedang mengenakan ID card pers dan mengalungkan sebongkah kamera canon dilehernya. Aha! Dia sedang berburu berita, kapan lagi saya bisa mengamati proses perburuan berita oleh sang jurnalis kampus. Ini kesempatan langka, ide licik itu muncul “reporting the reporter” meliput reporter yang sedang bekerja.

Entah kenapa reporter seperti punya aura memancar yang bikin mereka terlihat keren dimata saya. Dilihat dari kenampakan fisik, reporter itu identik dengan tiga buah benda; ID card Pers, camera Canon, dan terakhir block note kecil. Ketiga benda itu berpadu seolah merepresentasikan, hei I’m a journalist.  *that’s cool!   Sebuah kelebihan yang dimiliki reporter tapi tidak dimiliki khalayak umum seperti saya yaitu, reporter dengan leluasa mendekati orang nomor satu di kampus (pak rektor) kemudian berbincang seolah sudah kenal lama. Mereka menyebut perbincangan itu sebagai interview. Lugas, tanggap, sistematis, berbagai pertanyaan terucap mencoba menggali isi pikiran responden, sementara jemari reporter dengan gesit meninggalkan goresan diatas block note.

Kerja reporter tak selesai sampai disitu, ia menggali sisi yang berbeda dari acara. Berkeliling seolah sedang dituntun oleh sebuah intuisi jurnalis. Intuisi itu lantas menggiring mereka ke sudut-sudut fenomena acara yang seringkali luput dari perhatian publik. Dari situ saya berasumsi bahwa seorang jurnalis harus punya kepekaan terhadap keadaan di sekitarnya, Jurnalis harus berbekal pemikiran kritis, terkadang cenderung skeptis, dan mereka menggali fakta dari sebuah fenomena. Aktual, tajam, dan terpercaya (kata liputan 6).

(ki-ka)Reporter, Rektor, dan Pres.BEM

***

Saya: “setelah ini langsung nulis, Ran?”

Reporter: “iya, ntar malem mau ke kantor (perpus lantai 6) langsung ditulis”

Nggak butuh waktu lama buat mikir tulisan. Tulisakan segera fakta yang sudah kamu dapatkan, lantas serahkan ke editor dan publish ke media massa. Seperti itu kesan yang saya tangkap. Mengamati reporter sedang bertugas, saya Cuma bisa ngiler.

Rani  : “Arinda, mana ID card pers kamu?”😀

Saya : *bengong, , ,* “ID card pers ada di hati saya “ *ceileee:mrgreen:

Ya sudahlah, untuk menghibur diri  jadi reporter untuk blog sendiri saja kalo gitu. Akhirnya dengan bekal kaos panitia interval, ID card pers panitia, dan kamera hape  saya berlagak bak seorang reporter keliling stand bazar jepret-jepret gak jelas sembari menemani juri melakukan penilaian desain stand bazaar Interval. *dasar panitia kurang kerjaan:mrgreen:

~AN~

25 thoughts on “Meliput Reporter

  1. alamendah

    (Maaf) izin mengamankan PERTAMAX dulu. Boleh, kan?!
    Repotnya jadi reporter buat blog sendiri. Nggak punya ID Card Press, Gak pakai Kamera Canon, dan Ngiler…
    hehehehe

    Reply
  2. pri crimbun

    hihih…. sebenarnya semua bloger tu jurnalis… selalu meliput; entah itu liput diri sendiri, liput rumah, liput halaman, liput sana sini, bahkan liput liliput…
    🙂

    Reply
  3. komuter

    media milik para penggede, hasil liputan dari reporter banyak diedit atau bahkan tidak ditampilkan untuk kepentingan pemilik media. bagaimana ??

    Reply
    1. Nisa

      bukan sekadar kepentingan pemilik media, mungkin juga tanpa disadari media tersebut disetir oleh pihak yang punya kepentingan tertentu, bagaimana, Pak Komuter?

      Reply
  4. Ahsan

    Tenang Rin, masih ada tahun depan kok🙂

    Ayo, Rin ikut OR IO😀
    *eh, bukannya udah telat ya (buat saya)*

    Ya udah deh, semangat Rin. Pokoknya kalau udah jadi reporter, jangan lupa liput saya ya ntar.:mrgreen: *dilempar sendal*

    Reply
      1. Ahsan

        Tanya Mas Bahtiar aja.
        Kalau gak gitu, ntar kamu minta wildcard ke Mas Bahtiar aja sekalian.😀 *ngajari gak bener*

        Tak doain moga keterima wes. Pokoke ojo lali yo, ngeliput aku.:mrgreen: *dilempar ke kolam rektorat*

  5. Arief Rakhman

    agree.. a free observer with a DSLR camera is very cool!

    bagai sebuah entitas yang terpisah, mengambil informasi menarik yang sedang terjadi di sekitarnya,

    and as a man.. a beautiful ‘object’ will be very nice shot.. :p

    Reply
  6. bahtiar rs

    Oalah…nak kanak iki tibae ngerasani aku yo, wehehehe.

    Rin, tak tunggu lho kabar LPM satu kosongnya. Tanganku wes gatel iki, njaluk digaruk. hehehe.

    lebih enak jadi jurnalis independen. Kl di IO, banyak pesanan, gak bebas, hihihi.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s