QUO?


Kadang-kadang saya menyempatkan diri untuk berhenti di persimpangan jalan. Entah itu hanya sekedar diam sejenak mengambil nafas, berdiri mematung sembari menebar pandangan, atau mengeluarkan kamera guna mengabadikan suasana. Ketika saya diam (menghentikan langkah) di tengah perjalanan, bukan berarti saya lelah. Ketika saya diam ditengah riuhnya sebuah masalah, tidak berarti saya menyerah. Adakalanya kita butuh waktu meredamkan suasana hati, menimbang pemikiran agar tak gegabah mengambil sebuah keputusan. Diam ini bukan sebagai representasi persetujuan, bukan pula untuk dijadikan asumsi kekalahan. Diam ini untuk berfikir, sehingga diamnya orang berfikir mereka katakan setara dengan emas. But silent isn’t always gold.

Bukankah diam juga sebuah pilihan? Ketika maju atau pun mundur tak mampu menjadi solusi, maka diam bisa jadi pilihan alternatif. Seperti halnya ketika saya berada di persimpangan jalan, tak tau harus kemana. Disaat itulah saya menghentikan langkah demi mempertimbangkan keputusan.

Ah, hidup itu pilihan. Mau jalan terus menerabas ketidak pastian, mau mundur menyerah karena melihat kemungkinan ketidakpastian, atau mau diam sejenak di tengah jalan? Daripada mencoba seribu jalan tanpa pertimbangan, lebih baik diam menelaah, menentukan jalan mana yang harus diambil.

“jalanlah yang lurus, jangan tolah-toleh”

Atau

“tolah-toleh dulu, baru jalan lurus”

Menurut mu?

~AN~

*Sebuah kontemplasi setelah dua pekan lebih diam tanpa menorehkan sebuah paragraf di lembar virtual.

24 thoughts on “QUO?

  1. peyek

    Jika disetiap perjalanan butuh per-isitirahat-an, maka hidup butuh jeda, demikian juga kata yang butuh titik koma agar ia punya makna.

    Tapi sekali lagi, beruntunglah orang-orang Gresik itu, selalu ada warung kopi disetiap jengkal jalanan kota, bisa sebagai tempat jeda, atau sekedar ngopi dan sejenak untuk diam, berpikir kemana arah hidup harus ditentukan, tapi apapun pilihan, seperti sebuah petatah petitih tua “jalani saja kehidupan, kemana air mengalir”, meskipun diam bukan berarti tak memilih bukan?.

    Reply
    1. anla arinda Post author

      bagi saya, diam itu juga pilihan.
      warung kopi pada awalnya menjadi srana berkumpul dan berdiskusi. namun seiring dengan bergsernya nilai budaya, warung kopi yang kita kenal saat ini dijadikan anak2 muda berkumpul dan membuang2 waktu. sehingga saat ini warung kopi punya kesan negatif di masyarakat gresik sendiri.

      Reply
  2. Sya

    Hidup itu pilihan. Kita juga bisa memilih mau jalan santai, jalan di tempat atau berlari sekencang mungkin *awas nabrak:mrgreen:

    Reply
  3. Asop

    Tentu, semua keputusan harus dipertimbangkan baik-baik. Hidup kan pilihan, jadi harus pandai2 memilih.🙂

    Kalo saya, sambil jalan lurus ya tolah-toleh, jangan lakukan dua hal itu satu-satu. Kelamaan!

    Reply
  4. Kris

    ya… benar.. diam merupakan salah satu pilihan disaat kita masih bimbang, dengan diam kita bisa meredam kegelisahan hati dalam memutuskan sesuatu.
    Salam kenal…

    Reply
  5. hanif mahaldy

    lebih baik diam namun diikuti dengan renungan. karena flashback ke masa lalu apa yang kita kerjakan kemarin, sudha baikkah atau burukkah, atau bagaimana, dapat kita evaluasi, perlu diam tapi tidak berkepanjangan.

    Reply
  6. Ahsan

    Bukankah tiap kali menulis kita pun selalu membubuhkan tanda titik dan koma, sebagai tanda bahwa ada jeda di sana.

    Berdiam diri sejenak itu nggak masalah. Apalagi jika dengan berdiam diri bisa menyelesaikan masalah.

    Yang jelas, jangan sampai diam itu melenakan kita. Karena seperti halnya postulat pertama Newton, manusia itu selalu berkecenderungan untuk mempertahankan keadaaannya.

    Contoh nyatanya, anggota DPR yang tahun ini menjabat, pada pemilu yang akan datang, pasti akan mendaftar lagi, karena ingin tetap menjabat.🙂

    *btw, iki postingan tah komentar sih kok dowo ngene?:mrgreen: *

    Reply
    1. anla arinda Post author

      tambahi satu paragraf maneh komentar sampeyan ngalah2i postingan ku,
      hehe:mrgreen:

      bawa2 nama DPR? mereka disindir nggak bakal mempan, mas😀

      Reply
  7. achoey el haris

    Salam persohiblogan
    Maaf baru blogging lagi nih daku
    Sudahkah memiliki dan membaca novel Sahaja Cinta? (iklah, hehe)

    Aku senantiasa berusaha megetahui jalan hidupku agar mudah kakiku melangkah dan tak salah arah🙂

    Reply
  8. Triiz

    menurutku ini arah menuju ke perpus ya mba:mrgreen:
    prasaan dulu di ancurin deh tempat ini, sekarang di bangun lagi ya, tmbh bagus lg🙂

    Reply
  9. Pingback: Quo, Rehat, atau Apalah Itu Namanya | Catatan Kaki

  10. Pingback: Quo, Rehat, atau Apalah Namanya | Catatan Kaki

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s