kepepet!


Sometimes we perform best under pressure,  hampir semua orang kenal dengan jargon itu, dan saya adalah salah satu penganutnya. Ada sensasi tersendiri ketika harus bekerja dibawah tekanan deadline. Seluruh emosi meluruh diatas tumpukan kertas, kornea ini tak kuasa menahan paparan radiasi layar monitor yang membunuh ketajaman penglihatan secara perlahan. Rasanya ingin marah lantaran waktu yang tak mau diajak negoisasi. Marah sama siapa? Otak kiri rasanya mengkerut karena jenuh dengan segala teori asumsi dan probabilitas. Ingin rasanya menerima semua hipotesa biar habis semua perkara. Otak kanan yang tak terbiasa dengan segala macam sistematika semakin berontak, lagaknya seperti boikoters pengkaderan yang menolak segala macam aturan semi memaksa dari seniornya. Deadline tetap esok hari sebelum jarum jam melewati angka sembilan, no compromize! Saya benci deadline, tapi saya juga menikmatinya.

Sometimes we perform best under pressure ,kalimat tersebut mempunyai implikasi, terkadang atau bahkan sering sekali kita baru bisa bekerja maksimal kalau sudah didesak deadline. Kalau simbah jaman dulu bilang , awakmu kuwi yen durung kepepet gak ndang mlaku, artinya kamu itu kalau belum terdesak nggak segera jalan. Kalau dipikir-pikir motto “we perform best under pressure” Ada untungnya juga, katanya hal ini bisa jadi latihan buat jadi orang kreatif, manakala salah satu indikasi orang kreatif yakni mereka bisa tetap bekerja maksimal walaupun dalam tekanan. Itu asumsi dari saya pribadi, bisa sebagian benar dan bisa sepenuhnya salah.

Pak Heri Cahyo (seseorang yang selalu ngomporin para blogger untuk rajin nulis) pernah menuliskan di salah satu artikel di blog beliau yang berjudul “menyegarkan kembali makna bekerja”, dalam artikel tersebut beliau mengatakan bahwa sahabat beliau -yang notabene seorang ketua Jaringan Pengusaha Muslim Indonesia (JPMI) Malang Raya- mengatakan “kita lebih suka MENGAMBIL TINDAKAN dan resiko KETIKA KEPEPET ATAU TERPAKSA, tetapi kita TIDAK MAU mengambil resiko ketika TIDAK KEPEPET”. Jadi bagi orang bisnis, kepepet itu bisa mendatangkan kebaikan.

Masalahnya, deadline itu terbentuk terkadang bukan karena  jatah waktu yang benar-benar minimum. Faktanya, sebenarnya saya punya banyak jatah waktu mengerjakan hanya saja saya abaikan dan lebih memilih menyealesaikan pekerjaan lain yang saya anggap lebih penting. Hingga akhirnya pekerjaan baru saya kerjakan sungguh-sungguh ketika deadline sudah dekat. Alam bawah sadar saya secara tidak langsung menganggap bekerja dibawah tekanan deadline akan lebih efektif.  

Di sisi lain kalau kita pikirkan kemungkinan yang bisa terjadi, kebiasaan perform best under pressure ini bisa menjadi budaya negatif. akibat paling buruk yang bisa kita prediksi yakni, kalau belum benar-benar kepepet kita nggak bisa mikir, atau bawaannya males mikir jika deadline masih jauh. Manakala deadline masih jauh, kita(saya) nggak segera berpikir dan bertindak.

Nah, kalau sudah terlanjur terbiasa perform best under pressure, lantas, gimana cara solusinya? Setelah bertapa tiga hari tiga malam, saya menemukan solusi alternatif untuk membujuk diri saya sendiri. Kita pasti pernah dengar kalimat bijak ini,”(…)beribadahlah seolah kamu akan mati esok hari”. Kalimat nasihat itu mempunyai hikmah bahwasannya anggaplah setiap hari adalah deadline, Sehingga dengan sendirinya kita akan bekerja keras dengan maksimal seolah hari ini adalah kesempatan terakhir, dan besok pagi adalah deadline. Dari segi bahasa, deadline berarti garis kematian, jadi jika kita berpikiran bahwa every day is a deadline, maka dengan sendirinya kita bekerja maksimal seolah garis kematian (deadline) sudah menunggu di depan mata. simple, tapi memang pada dasarnya mendisiplinkan diri butuh usaha keras🙂 .

~AN~

14 thoughts on “kepepet!

  1. Imelda

    kedisiplinan butuh usaha keras banget! Sudah lama saya tidak kerja terjemahan under pressure. Kalau terjemahan begitu biasanya memang volumenya banyak, waktu sedikit. Tapi memang paling tidak enak tuh kerja dipepet deadline.
    Semoga deadlinenya sudah dituntaskan

    EM

    Reply
  2. ais ariani

    an, di kalangan kawan-kawan kuliahku, mereka punya semacam joke:
    deadline is the best motivator
    huahahahhahaa… agak gak bener sih, tapi bener kata kamu kalau gitu yang perlu ditanamkan di otak adalah
    :
    everday is deadline!
    karena kita gak pernah tahu pasti apakah hari esok masih ada😀

    Reply
  3. silviyah

    hahaha… memang sistem SKS itu yang paling asyiik.. tapi PASTI hasilnya ndak akan maksimal., butuh metode lain selain SIstem Kebut Semalam… apa yaaa kira2??

    H-2jam
    wkwkwkwkw. tambah parah ae,,,

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s