Dari Rumah Tembakau sampai Jalan Gula


Saya heran jika teman-teman memilih mall sebagai tempat traveling refreshing. Mau lihat apa sih,  di mall? Saya bisa prediksikan, betapa Membosankannya melihat pemandangan baju-baju di gantungan, muter-muter naik-turun eskalator dengan suasana dinginnya udara sejuk khas AC. kalau saya lebih suka bergaul dengan panasnya surabaya daripada harus thawaf muterin mall ngeliatain gantungan baju..

Tidak jauh dari lokasi Jembatan Merah Surabaya berdiri sebuah Museum berbasis sejarah industri, namanya Museum house of sampoerna. Keberadaanya sebagai tempat wisata berbasis museum sejarah cukup mendapat apresiasi pengunjung, karena alasan itulah tempat ini bisa dibilang menjadi salah satu museum bernasib baik, lantaran museum lain di surabaya jarang mendapat apresiasi kunjungan sebaik museum ini.

Saya pribadi lebih suka menyebutnya sebagai rumah tembakau karena seketika setelah kamu membuka pintu masuk museum, aroma tembakau kering dan cengkeh langsung menusuk hidung. Harum aroma cengkeh dan tembakau seperti ini yang dahulu pernah menarik orang-orang eropa, lantas membangkitkan nafsu kolonialisme di benaknya. Mereka rela melakukan ekspedisi maut menyusuri samudera demi rempah-rempah nusantara kita. Hanya demi sekarung cengkeh, ambisi menguasai, dan kekayaan  nyawa mereka pertaruhkan sementara nurani mereka abaikan. Loh, kok jadi ngomongin penjajah..?!? kembali ke rumah tembakau.

Museum ini luasnya kira-kira sebesar rumah ukuran type 36 yang terdiri dari dua lantai.  Lantai pertama terbagi atas dua plot tempat, plot ruang pertama terletak setelah pintu masuk, disini  pengunjung diperkenalkan dengan sosok pendiri sampoerna melalui barang-barang pribadi beliau; seperti sepasang sepeda tua, sepasang kebaya, perabotan rumah, dan sebuah gubuk bakul (jualan).

Ruangan ini seolah dirancang sedemikian rupa sebagai representasi paragraf awal epilog perjalanan Liem Soeng Toe muda sebelum mendirikan perusahaan sampoerna, mulai dari kisah sepasang sepeda tua yang diyakini sebagai benda berharga milik Liem Soeng Toe muda hingga sepasang kebaya milik istri Liem Soeng Toe dan putri termudanya. Menurut keterangan, sejak usia 11 tahun Liem Soeng Toe memulai usaha dengan menjajakan makanan di gerbong-gerbong kereta setelah lepas dari keluarga angkatnya. Selain itu, usaha pertama Liem Soeng Toe dirintis dengan profesi menjajakan arang di jalan-jalan kota Surabaya pada masa itu.

Plot ruangan kedua Museum house of sampoerna menyajikan cerita perkembangan industri rokok sejak jaman pertama kali industri ini terbentuk, terutama dari sisi perkembangan teknologinya. Kamu bisa menemukan metamorfosis mesin dari yang paling sederhana, sampai modernitas teknologi industri rokok saat ini. Anda akan dipertemukan dengan mesin cetak tua dan berbagai benda yang menunjukkan jejak perkembangan teknologi industri dari masa-ke masa.

Tak hanya hal-hal berbau tembakau dan cengkeh, di tempat ruangan plot pertama tadi saya menemukan toples berisi permen jahe ting-ting dan permen susu klasik (entah apa kolerasinya antara permen jahe dan permen susu dengan industri rokok, saya lalai tidak sempat membaca keterangannya). Lintingan permen jahe dan permen susu dalam toples kaca bening melambungkan ingatan  masa kecil saya doeloe. Rasanya saya sudah lupa gimana rasanya jadi anak SD😐

Saya punya penilaian pribadi mengenai sudut menarik dari representasi sejarah industri sampoerna. Museum ini memberikan gambaran bahwasannya menjadi pemilik industri “tembakau hisap”  menjadikan pemiliknya orang yang kaya raya secara turun-temurun sejak jaman penjajahan tempo doeloe. Lihat saja dari barang-barang mewah yang dimiliki oleh segelintir orang pada jaman itu. rokok bikin pemiliknya kaya, tapi bikin pecandunya sengsara. Hehe, itu sih penilaian pribadi saya.:mrgreen:

Sebelum beranjak pulang dari house of sampoerna, kita beralih ke jalan gula kota surabaya. Jalan gula sebenarnya hanya gang sempit tempat berdiri kokoh rumah-rumah tua dengan arsitektur belanda. Sekilas, suasana jalanan sempit ini mirip dengan kampung kemasan di kota Gresik, tempat sisa-sisa rumah-rumah orang belanda yang belum dipugar pemerintah kota. Berdiri di tengah jalan gula, rasanya seperti terjebak pada sebuah masa suatu ketika bangsa eropa menguasai kota pahlawan. Rumah-rumah itu masih berdiri kokoh dengan dinding tak terawat, ngeri, layaknya rumah hantu. Tapi klasik, seperti kamu sedang terbius nostalgia surabaya masa lampau. Tidak banyak yang bisa saya ceritakan di jalan gula, sepertinya saya perlu membuka buku-buku sejarah surabaya tempo duli apabila ingin mengetahui lebih jauh hal ihwal di balik jalan gula ini.

***

Anyway, hampir dua jam muter-muter dari house of sampoerna sampai jalan gula cukup bikin saya sejenak melupakan tumpukan deadline modul. mari lupakan sejenak teori probabilitas, lupakan asumsi, lupakan ekspektasi,lupakan semuanya. Percaya deh sama saya, daripada kamu thawaf alias muter-muter nggak jelas di dalam gedung mall bertingkat itu, mending jalan-jalan menyusuri sudut kota, keluar masuk museum, menyusuri  panasnya jalan raya surabaya dengan heterogenitas pemandangan dan himpunan ilmu yang akan kamu dapatkan.

~AN~

On the road of a journey, I’m just an ordinary traveler not a stastician. Yeah, I love traveling so much (AN)  

20 thoughts on “Dari Rumah Tembakau sampai Jalan Gula

  1. nh18

    Wah sepertinya ini musium yang bagus dan terawat baik …
    Terlepas dari kontroversinya …
    namun upaya untuk menyimpan benda-benda tersebut patut dipuji …
    bagaimanapun … itu adalah bagian dari sejarah …

    salam saya

    Reply
  2. nisa

    Bener banget rin, meski berada di tengah2 wisata mall, mending cari area jalan2 yg lebih memperkaya khazanah pengetahuan dan spiritual kita ya..

    Reply
  3. genksukasuka

    saya setuju dengan ide om ini..

    dan saya lebih suka jalan2 alam dr pada ke mol hemm selain jauh lbh bermanfaat juga dpt ilmu…nya..
    😛 salam

    Reply
  4. Triiz

    saya termasuk pengagum kota tua mba
    klo lg penat biasanya saya muter2 keliling surabaya dan ga lupa lewatin daerah2 kyk gini🙂

    Reply
  5. Ahsan

    Wah, kok gak ajak-ajak sih, Rin😀
    Sudah lama saya pengen ke HOS tapi sampai sekarang gak kesampaian.

    Satu-satunya tempat bersejarah di Surabaya yg baru saya kunjungi hanyalah Tugu Pahlawan dan Museumnya😦

    *malah curhat* *dilempar tomat sama Arin*:mrgreen:

    Reply
  6. Odie

    mengagumkan!
    sepertinya ane suka dengan ente An,,,wahahaha
    maksudnya tulisan ente (sekalian juga ga apa apa)
    emang sekarang ABG lebih sering thawaf, begitu ditanya hal yang berbau pengetahuan, jawabannya ente, “GAK TAU”
    wahahahah,,, absolutely Agree with you!!!

    Reply
  7. bchree

    yach…. harusnya kirim kabar dong biar jalan-jalannya bisa tambah ramai …. kami bisa ikut heeeee😀😀
    sy suka sepeda kunonya ….

    Reply
    1. anla arinda Post author

      saya kan tamu kehormatan di HoS:mrgreen:
      hehe, boleh lah pak Dok.. kecuali museum lantai dua itu yang ndak boleh ambil gambar.
      *tapi kemarin saya sempat sembunyi2 ambil gambar di lantai 2. eh.. ketahuan.. dimarahi deh😀

      Reply
  8. totosugito

    mungkin tergantung orangnya ya.. ada yg suka ke mall atau malah ketempat yang sepi.
    kalo aku sendiri sih lebih suka pergi kesawah2 atau kegunung2…
    sumpek dengan ramainya kota…
    sepertinya musiumnya menarik tuh..
    bisa jadi alternatif jalan2 kalo lagi ke surabaya🙂

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s