Terror Akhir (TA)


Bulan juli kampus sepi. Dibalik kesunyian juli, terkisahlah realita juli dan euforia pejuang kampus. Ada yang memulai euforia sebagai backpaker selama liburan. “mau backpacking keliling Indonesiaaaa!” kata mereka. Lain cerita ada juga mereka yang menyebar ke pelosok daerah. Mereka adalah mahasiswa tahun ke tiga yang tengah meniti kewajiban sebagai pelaksana KP (kerja praktek). Terakhir adalah mereka yang memilih menghabisi juli dengan tetap setia menjadi “sisa” penghuni kampus hingga tiga bulan nanti.

Sisa penghuni-dari lapisan mahasiswa- itu rata-rata terdiri dari tiga macam populasi; Mahasiswa Pejuang TA, Mahasiswa Organisator (Himpunan jurusan, BEM, LSM, UKM), dan Mahasiswa baru (MABA) 2011. Juli mendekati Agustus, jika diafiliasikan dengan suasana pra-kemerdekaan, Juli menyimpan banyak kisah perjuangan. Tak terkecuali  para pejuang TA. Mahasiswa-mahasiswa ini sedang memperjuangkan hak memperoleh gelar sarjana/ahli madya/magister dibelakang nama. Mahasiswa yang sedang berjuang untuk “merdeka”.

Gimana rasanya jadi MABA (mahasiswa baru) ? saya sudah pernah hingga paham benar bagaimana rasanya.

Gimana rasa kesibukan organisator? Jaman putih abu-abu dulu, saya punya sedikit pengalaman di dalamnya. Jadi dikit-dikit paham what does it feels.

Untuk yang terakhir, Gimana rasanya TA???? Database otak saya tak mampu memberi definisi kepastian rasa TA. Apa gerangan rasa TA? Saya hanya mampu berprediksi, berspekulasi, dan berekspektasi.

Entah gimana rasanya TA, .. Kalau diperkenankan, saya membayangkan TA itu tak ubahnya sebuah terror terakhir sebelum dinyatakan berhak mengenakan mahkota toga. Konon katanya, bagi para pejuang TA, manisnya rasa wisuda nampaknya menjadi mimpi termanis ditengah perjuangan berdarah-darah.

Teror akhir bisa punya entitas berbeda jika dilihat dari perspektif pihak lain. Bagi saya, mahasiswa tahun pertama (menginjak tahun kedua), Terror Akhir justru menampakkan diri dalam entitas enam huruf; W I S U D A . senior was-was dirundung TA, saya was-was menunggu wisuda.  Jelas saya bukan calon wisudawan. Tapi justru saya was-was menunggu hadirnya bulan september. Bulan wisuda ke-103 kampus saya berlangsung. Kurang dari 3 bulan lagi akan tiba hari eksekusi wisudawan 103.  Apa sebab saya was-was dengan kehadiran wisuda ke-103?

Jadi begini ……

Prosesi Wisuda itu kan identik dengan Toga, Graha, dan ribuan simpul senyum bahagia. Prosesi wisuda seperti sebuah analogi, ketika mahasiswa memasuki “latar pelaminan” Lantas wisudawan menyatakan bersedia menempuh babak baru kehidupan. Menempuh hidup baru.

Wisuda  juga berarti entitas penghargaan dan pengakuan setelah mahasiswa berhasil menuntaskan periode menimba ilmu dengan gelar mahasiswa. Pada hari itu pula, secara resmi “para pejuang” berhak menyandang gelar sarjana atau ahli madya di belakang nama. Bersamaan dengan itu pula terlepaslah gelar maha didepan siswa. Usai prosesi wisuda nantinya wisudawan resmi menjadi milik masyarakat, bukan lagi milik kampus. Menebar inspirasi dan berbagi kontribusi lebih luas. Tentunya, wisudawan memikul beban amanah lebih berat lagi. Amanah sebagai “yang telah meraup ilmu pengetahuan”, berkewajiban membagikan dan mengamalkan.  Gaudeamus Igitur, Bersenang-senanglah… (karena bersegera berbagi manfaat kepada masyarakat, bangsa, dan negara)

Dimata saya, prosesi wisuda punya sisi makna lain. Wisuda sama artinya dengan melepaskan mahasiswa-mahasiswa inspiratif kampus ini. Melepaskan, lantas kami berpisah. Kami yakin, bukan semata-mata perbedaan status yang menjadi pemisah, melainkan Jarak dan waktu yang akan memisahkan kami. Tentu akan kami sambut wisudawan kebanggan kampus perjuangan dengan tawa dan haru bahagia. Tetapi di saat yang sama, saya harus ikhlas “kehilangan” sosok inspiratif itu. seperti itulah wujud terror terakhir bagi kami. Yakni ketika wisuda membawa sosok-sosok inspiratif itu “pergi”.

Selamat menunggu wisuda… wahai kakak inspiratif kami… bahagianya kami sempat mengenalmu, beruntungnya kami pernah duduk satu meja diskusi denganmu… beruntung kami sempat meraup paparan inspirasi darimu… terlebih lagi, beruntungnya kampus ini pernah memiliki dirimu… selamat menempuh “hidup baru” kepada (calon) wisudawan seratus tiga.

 

Arinda Nur Lathifah

1310030044

*dedicated to mbak Annisa Novita, segenap jajaran SC BCS 2010, dan senior-senior kami calon wisudawan 103,104,105,106,107….. danseterusnya

VIVAT!

22 thoughts on “Terror Akhir (TA)

  1. ysalma

    Benar sekali,
    cocok sekali disebut dengan Terror Terakhir, kalau tidak bisa menyelesaikan “psikologis” terbentur susah bertemu dosen, ditolak melulu,
    aihh, kalau sampai berhenti di langkah terakhir ini, sia-sia sudah “mimpi orangtua”, mimpi mahasiswa pasti tetap berjalanlah🙂

    Reply
  2. ziza

    jadi inget nyanyi gaudeamus diajari kakak2 BEM FK yang suaranya bagus2 (soalnya anak padus) di kampus A pas PPKMB ……

    Reply
  3. septarius

    ..
    duh, teror… jangan membesar-besarkan tho..
    TA cuman sebuah fase aja, nanti kalo sudah melewatinya pasti mikir yah cuman begitu aja..🙂
    ..

    Reply
  4. Sya

    Jadi ingat waktu saya wisuda dulu. Teman-teman saya pada dandan cantik pas gladi resik wisuda. Saya malah kucel banget karena abis interview sana-sini. Maklum, setelah lulus, saya takut banget nganggur:mrgreen:

    Reply
  5. Ahsan

    Juli = masa-masa speed download di kampus bisa mencapai 1MB lebih😀
    *syarat dan ketentuan berlaku*

    Hmm, semoga saya nanti bisa menjadi peserta wisuda ke-105🙂

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s