taking-a-break

Garis Jeda


“we need a time for ours self. take some distance to the world, only for a while, to make a self talk, talking to our self, but not all alone. there where only me and the world. create a contemplation, introspection “

himpunan kontemplasi tanpa jeda, seperti kalimat tanpa spasi. rusuh, rapat, tanpa ada sedikitpun celah untuk bernafas. september adalah titimangsa eksotis, karena di dalamnya terdapat repetisi masa – yang hampir tanpa jeda. september mengawali semester. Perulangan ketiga, kesempatan ketiga. september mengurung jasmani terhadap padatnya jadwal yang merapatkangaris batas waktu terakhir (deadline), ia bergulir tanpa ampun. sesekali terasa hampir tak menyisakan sejengkal jeda untuk bernafas.

di kampus, terdapat beberapa sudut tempat yang sering saya gunakan sebagai tempat mengisi jeda. spesifiknya, tempat ini tak harus senyap mutlak. seperti gua atau lorong dimana tak terdapat kerumunan manusia. toh, saya bukan dukun yang perlu semedi atau bertapa nyari wangsid. pikir saya terdahulu, jika senyap bisa jadi teman, maka kerumunan bisa jadi sahabat. kerumunan padat bisa jadi tempat “eksotis” untuk mengisi waktu luang. ketika kamu menenggelamkan diri diantaranya, tanpa perlu berinteraksi dengan orang-orang sekitar. hanya ada kamu dan manusia-manusia. saya membayangkannya seperti suasana padang mahsyar. ketika saya menjadi saya yang tak terikat dengan segala entitas ikatan duniawi. ketika kenalan tak menjamin keselamatan. ketika harta justru jadi malapetaka – kecopetan ditengah kerumunan. ketika hanya ada kamu, kerumunan, dan Dzat yang sesungguhnya lebih dekat dari urat nadi kamu. rasanya seperti sedang menjadi plot-plot sebuah data yang independen dan berdistribusi normal.

ada satu tempat lagi. letaknya di persimpangan jalan, 2/3 perjalanan menuju jurusan. berada diantara tikungan jalan perpustakaan, antara gedung rektorat dan pusat adminintrasi akademis. sekelilingnya terdapat pepohonan rindang menaungi bangku-bangku semi permanen. adalah sudut taman BAAK pukul enam pagi, enak sekali buat duduk, buka laptop, dan berselancar di dunia virtual – tempat semi independen yang tak peduli status dan strata. berbeda dengan ilustrasi kondisi sebelumnya, di taman bernaung pepohonan rindang ini, kita tidak dipertemukan dengan terlalu banyak kerumunan yang massiv –  terkadang hampir tidak ada, alias sepi. hanya ada kamu, pohon, dan internet. ideal sekali buat mengisi sisa-sisa jeda.

“bersenang-senang bagi saya adalah berselancar di dunia maya tanpa ada beban di dunia nyata.” kata seorang bapak tetangga sebelah.

hadirnya jeda yang semakin langka, seringkali tak dapat diprediksi. terkadang pagi sudah ada jeda, terkadang siang ada sisipan jeda. atau kalau keberuntungan sedang tak berdekatan, jeda baru datang di tengah-tengah – antara senja dan malam harinya. kalau sudah begini sebuah tempat yang kami sebut dengan manarul ilmi menjadi satu-satunya pelabuhan paling utama di kampus. letaknya strategis, di setiap sisi serambi angin segar selalu menghampiri. sesekali numpang lewat, memberi kesegaran diantara gelombang panas surabaya. terdapat tiga buah serambi; utara, selatan, dan timur. sisi serambi utara dan timur lazimnya dijadikan sarang para “makhluk planet mars”. karena di kampus jumlah mereka lebih banyak, jadilah dua serambi menjadi plot untuk makhluk-makhluk itu. sedangkan bagi kami, tersisa sedikit tempat di serambi selatan untuk mengisi jeda. moment jeda ini saya sebut dengan, senja kala manarul ilmi.

jeda adalah rahmat diantara waktu yang semakin padat. sebuah sisa-sisa waktu luang untuk sekedar bernafas melepas penat. akhir-akhir ini jeda semakin langka. tetapi justru karena kelangkaannya, ia menjadi seribu kali lipat lebih berharga.

~AN~

diantara jeda pertengahan september

01:23 am

6 thoughts on “Garis Jeda

  1. alamendah

    Kita semua pasti membutuhkan jeda sejenak dari rutinitas. Dulu jeda terbaik saya adalah pergi ke hutan, gunung, atau tempat terpencil yang tanpa listrik, kebisingan, koneksi internet, bahkan signal hape.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s