Esai yang tak kunjung usai


syarat 2 lbr A4, margin 4,3,3,3,4

Terjebak empat belas bulan di dalam sebuah lanskap institut yang menamakan diri Institut teknologi Sepuluh Nopember, bukan tak memberikan kesan dengan ribuan ikhtisar. Selama kurun waktu itu pula tempat ini bukan sekedar sarang para akademisi atau researcher. Sedemikianlah, bagi saya, institut ini bagaikan sebuah prototype semi-sempurna tempat beradanya heterogenitas masyarakat dalam wujud mahasiswa.

*awalnya ingin membuat lead paragraf sedemikian rupa. eh, lompatan ide di kepala membawa jemari mengetik sesuatu yang lain.

Sederhana tak berarti miskin. Dalam sebuah kesederhanaaan, di dalamnya menyimpan representasi kekayaan diri yang tak kasat mata.  Coba saja tengok sebuah institut yang berdiri di bagian timur surabaya. Sekilas Tak menampakkan pembeda dengan intitusi perguruan tinggi lain. Wilayah sudut kota yang dihuni oleh mahasiswa berpenampilan kelewat sederhana – jika membandingkan dengan idealnya tampilan anak muda. Tapi coba lakukan interaksi dengan manusia-manusia sederhana di dalamnya. Rasakan paradoks nyata antara penampilan yang eksplisit, dan ikhtisar pemikiran orang-orang di dalamnya.

lagi-lagi otak serasa lepas kendali. harusnya esai ini lebih cepat selesai, sementara deadline PKM menerjang. lantas muncul paragraf berikut ini;

Seberapa sering kita berpikir, tapi seberapa banyak pikiran itu mampu terwujud. Dua pekan terakhir, pikiran saya seolah dipenuhi oleh hal yang sama sekali diluar ekspektasi.

tiba-tiba teringat buku catatan seorang demonstran milik Soe Hok Gie;

“Realis pahit” saya pinjam istilah itu dari Gie. Sebuah tafsiran untuk manusia-manusia seperti saya yang mulai kehilangan akal mempertahankan idealnya cita-cita.

esai ini harus dikumpulkan 5 hari lagi… dan….. setelah pemaksaan otak bertubi-tubi bahkan hampir depresi…

Dua minggu yang lalu, untuk pertama kalinya setelah tiga semester, saya memikirkan ini. Pemicunya datang dari euforia pemira yang makin memanas, mubes yang baru saja “dientas”, dan berlalunya “pesta wisuda” (PW) sepekan silam. Selang dua minggu itu pula kerap kali terlintas dalam benak saya, Institut ini bukan kumpulan gedung-gedung statis. Di dalamnya relatif penuh dengan dinamika akademis, birokrasi, hingga kultural.

Kepada mahasiswa baru, mahasiswa lama menganalogikan ITS sebagai sebuah prototype negara, dengan berlandaskan keberadaan badan eksekutif dan legislatif di dalam ruang lingkup tataran organigram KM ITS. Dahulu, bagi saya, analogi itu tak ubahnya kiasan sebilah lalu. (…)

selanjutnya…

ITS, bagi saya, lebih mirip dengan sebuah prototype perpustakaan dimana didalamnya terdapat himpunan buku dari berbagai genre.

logika saya makin berantakan;

Lantas, apakah ITS sama statisnya seperti buku-buku diam di perpustakaan? Bagaimana bisa buku dikatakan diam? Buku berbeda dengan batu yang keras dan stagnan. Buku memuat pemikiran-pemikiran relatif kompleks. Buku bisa membawa anda dalam ranah imajinasi, merasuki ranah pemikiran penulis, bahkan berafiliasi dengan himpunan pemikiran yang ada dalam buku. Kalimat-kalimat di dalam buku sesungguhnya tak diam. Ia bisa merasuki pemikiran kita, bahkan menjadi bagian darinya. Sedemikian hingga saya beranggapan ITS sama “memabukkan” seperti buku. Keseharian di ITS berpeluang mempengaruhi pola pikir dan attitude kita.

badan esai belum selesai, ujung-ujungnya malah nulis paragraf penutup yang masih absurd;

Saya dan ITS, seperti saya dan buku-buku yang menciptakan imaji klasik nan heterogen. Kita tak pernah tau apa isi buku sebelum keluar dari buku itu – setelah membaca. Sedemikianlah hingga orang-orang di luar sana mengatakan, hidup yang sebenarnya itu di luar kampus – hidup diluar text book.  Dunia realita yang sebenarnya berada di luar ITS. Kita disini membaca buku, menghimpun ilmu, untuk hidup yang benar-benar hidup setalah lulus.

sedemikianlah lompatan draft paragraf esai yang tak kunjung usai.

wassalam

Arinda Nur Lathifah

statistika 2010

2 thoughts on “Esai yang tak kunjung usai

  1. mandor

    Itu kira-kira yang ngasih tugas ngasih nilai berapa ya? bingung sekali mbacanya, melompat-lompat seperti puisi sastra
    Apalagi saya, malah ngikut mas alamendah lompat-lompat kursi

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s