balon

Balon


Satu tahun silam di sebuah tanah lapang stadion kampus. tanah lapang ini pada titimangsa nopember menjelma menjadi tempat berkumpulnya orang-orang kampus dari berbagai penjuru. Nopember adalah titimangsa perayaan hari jadi kampus. katakanlah sebagai sebuah gawean syukuran karena kampus telah mencapai usia tertentu. Ulang tahun, dies natalies, atau apalah itu istilahnya. Saya menyebutnya dengan, “merayakan hidup”.

Ada sesuatu yang mengganggu visual saya di hari jadi kampus kala itu. bukan hal-ihwal hiburan dan segala macam hiruk pikuk kerumunan. Di sudut lapangan, seorang gadis kecil menggenggam satu lusin balon berwarna biru – Balon berisi hidrogen yang siap lepas terbang dari genggaman tangan mungil itu. Gadis kecil itu, berlari-lari kecil, menghentakkan kaki-kakinya membentuk putaran layaknya gasing – sembari menggenggam erat balon-balon biru. Saya mengamati gerak-gerik langkah kecilnya, putaran lari-lari yang ia buat, dan tawa lepas khasnya yang elok. Setiap tiga kali putaran, ia menghentikan langkah lantas mendongak ke atas. Tangan kanannya meraih seutas tali balon biru, lantas melepaskannya diudara. Ia berputar lagi, berlari , membuat siklus putaran seperti gasing. Tiap tiga kali putaran ia lepaskan seutas tali balon biru. Semakin sedikit balon yang digenggamnya, semakin cepat ia berputar. Terus seperti itu hingga balon dalam genggamannya tersisa satu balon di tangan kiri, dan datu lagi di tangan kanan, lalu ia selonjoran diatas rumput lapangan dibawah terik matahari. Balon biru itu mengudara, melapaskan diri dari hiruk-pikuk lapangan hijau, terus menjauh terbang hingga mencapai titik lenyap.

Saya menghampirinya, “balonnya kok dilepasin semua, dik?” sapa ku padanya.

“ini, buat kakak” ujarnya seraya menyerahkan seutas balon biru dari tangan kanannya. Dengan sesimpul senyum tanpa ucap, ia beranjak pergi ke sebuah mobil sedan di ujung stadion.

***

“Nda, kapan interview ?”

next week, maybe”

“Don’t say if you’ve a plan to release the last chance?”

“haha! I’m not crazy as your thought! Whatever will be, I’ll face that day. Although my probability of success is only 45%”

“terserah kamu deh! jadi, itu foto siapa? Anak kecil lari-lari bawa balon?”

“itu foto anak kecil yang aku temui pas dies natalis tahun lalu”

“oh, yang ngasi kamu balon waktu itu?”

“Yup.  Tau nggak, kadang aku mikir. Kadang-kadang kita jadi seperti anak kecil yang membawa lusinan balon. Semakin beranjak tua dewasa, balon-balon itu satu-persatu kita lepas. Balon-balon itu impian kita, mimpi kita, harapan kita, cita-cita yang dahulu kita genggam erat, kita bawa lari-lari. Betapa mudahnya kita melepaskan impian terdahulu? Betapa sekarang realistis adalah ihwal utama yang harus dijadikan bahan pertimbangan?”

we can’t have anything we want, Nda!”

“kamu benar. Menjadi realistis rasanya lebih manusiawi. kalau saya tidak bisa, maka harus ada yang melanjutkan mimpi saya”

“Harapan itu seperti balon-balon. Menggelembung dan mudah terbang”

“ah, aku lupa rasanya jadi anak kecil””

“haha, dasar orang aneh! Ngapain pingin jadi kecil?!”

“well, I’m quite realistics now”

~AN~

5 thoughts on “Balon

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s