006

Sudut Pagi Surabaya


Metropolis memiliki banyak perspektif. Sesekali ia bikin penat penduduk. Di lain sisi ia hadir sebagai dambaan manusia mencari penghidupan. Metropolis pagi, siang, dan malam. Masing-masing sudut waktu itu menyuguhkan heterogenitas kisah.

Saya sering dikuasai perasaan aneh ketika terjebak ditengah jalan raya pagi di Surabaya. Angkot yang meniti aspal sedemikian lamban, hiruk-pikuk manusia berkaki lima di sekitar tugu pahlawan, terlebih tumpah ruah pasar pagi diiringi dengan gelak tawa individu dalam kerumunan.

Metropolis seperti Surabaya hampir tidak pernah kesepian. Selalu saja ada wujud yang meramaikan. Mungkin terkecuali hari minggu pagi, ketika wujud keramaian sedang tidak berjalan normal. Ketika ada sesuatu yang melakukan infasi kendaraan bermotor di jalanan. Tiap minggu pagi populasi mereka berkurang drastis di beberapa titik.

Saya di dalam angkot. Hanya ada saya, dan dua penumpang di ujung yang berbeda. Sedang tidak terjadi interaksi sosial diantara kami bertiga. Demikian juga jalan raya –  lagi-lagi terasa aneh. Hilangnya wujud keramaian menjadikan jalanan seperti kota mati. Bagi saya, ini cara efektif mereduksi polusi. Bye-bye asap karbon🙂

Lalu, dua sepeda ontel melewati kami. Angkot masih berjalan lamban, lajunya  beriringan dengan dua sepeda ontel di sisi kiri jalan raya, mepet dekat trotoar. Laki-laki dan perempuan. Sepeda kuning dan hitam. Gedung-gedung tua berdiri kokoh disampingnya. Lakunya seolah turut menikmati euforia jalanan yang sepi.

Angkot masih berjalan. Lajunya dipercepat. Akhirnya ia memasuki dimensi lain. Nampak kerumunan manusia (lagi). Lengkap dengan motor yang diparkir dekat trotoar. Aha! Ternyata parkir ini yang memenjarakan kuda besi penduduk kota. Orang-orang meninggalkan motor di sebuah sarang. Lalu mereka memberdayakan kaki memutari “pasar” pagi. Banyak pedagang, banyak barang, banyak pula makanan. Harumnya sesekali menerabas memasuki jendela Angkot yang terbuka buka lebar. Ah, saya lapar:mrgreen:

Memang sudah lazim,  di persimpangan jalan Bank Mandiri – dengan gedung tuanya yang khas – ramai dengan segala macam jenis kendaraan. Saya berekspektasi, menemukan sudut itu sepi. Tapi pagi ini masih juga ramai, meski keramaiannya berwujud pasar dan orang.

Surabaya + Minggu + Pagi. Saya berestimasi, di sudutnya yang lain, Surabaya punya kisah yang menarik untuk digali. Ihwal aktivitas penduduk metropolis ketika menyambut “waktu independen” selama sehari.

~AN~

8 thoughts on “Sudut Pagi Surabaya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s