Politik Kampus?


“Kehidupan kampus tak ubahnya miniatur/prototype masyarakat di luar kampus. seperti gambaran sederhana sebuah kehidupan masyarakat dalam skala diperkecil.“

Dulu, saya paling sensi kalau denger kata “politik”. Tapi mbah Ciputra pernah bilang, “Don’t hate politics”. Hampir di setiap sendi kehidupan kita, sadar atau tidak, berpotensi besar bersentuhan dengan politik. But it’s not about the politics. It’s about man behind the politics.

Politik itu sama seperti statistik. Dia hanya akan menjadi baik di tangan orang baik. Dan akan menjadi senjata “bermuka dua” di tangan orang yang berbeda. “Kamu boleh benci politik, tapi setidaknya kamu harus ngerti politik.” Kata presiden BEM periode lalu. So, meski kita tidak terjun langsung dalam ranah politik, setidaknya kita harus tau. Lantas mencerdaskan diri. Bukan malah apatis dan menganggap diri orang suci karena menghindar dari lumpur dunia (politik).

Hampir setiap kali perhelatan akbar bertajuk PEMIRA – sebuah event pemilihan presiden BEM di kampus – berlangsung, disana ada “warna-warni” yang menghiasi. Dekorasi warna yang bikin PEMIRA lebih dari sekedar event pencoblosan surat suara. Bumbu-bumbu intrik dalam pemira ini yang dikenal orang sebagai “Politik Kampus”.

Saya sering mengamati sepak terjang para Tim Sukses Kampanye (TSK) “menjual” calon pujaan mereka. masing-masing TSK punya metode penjualan yang unik. Popularitas calon presiden bergantung pada dua hal. Pertama, track record dia selama jadi mahasiswa. Kedua, cara TSK menjual citra si calon presiden.

Penjualan citra calon presiden BEM berlangsung meriah. Heboh tersebar brosur di seluruh sudut kampus. Lembaran brosur berisi visi-misi dan profil pada akhirnya berakhir sebagai bungkus  kacang atau kertas coretan jawaban kalkulus di kelas. Disinilah moment ketika pengetahuan marketing mahasiswa diuji.

Ditangan TSK, calon presiden BEM ibarat barang komoditas. Sedangkan promosi selalu berkaitan dengan penjualan citra baik suatu produk. Konsep utamanya, jual semua hal baik tentang produk kamu. Bikin iklan semenarik mungkin. Sedikit citra buruk, akan merusak image produk dimata calon konsumen. Dan terakhir, hati-hati dengan gosip.

Uniknya, gosip-gosip tersebut layaknya sebuah masa dimana kedok-kedok tersembunyi seorang individu terbongkar. Nilai kebenarannya nggak ada yang tau pasti. Saat itulah politik menampakkan wajah seperti lapangan gosip. Issue yang disebar secara pragmatis. Satu, untuk menjatuhkan lawan politik (dipanggung pemira) . dua, kadang gosip itu ada benarnya. Uniknya  lagi, sekali si calon kena gosip, image itu seolah melekat di dalam dirinya seumur hidup (bahkan sampai dia lulus).

Jangan salah, gosip yang menyebar terkait issue seputar pemira punya sisi positif juga. Hal ini mengindikasikan bahwasannya rakyat kampus masih peduli dengan sosok calon pemimpin mereka. rakyat kampus berusaha menggali sosok yang bakal memegang kendali dunia kemahasiswaan. Semakin gosip tersebut dipedulikan, akan semakin bagus.

~AN~

pikiran outlier menjelang ujian semseter

4 thoughts on “Politik Kampus?

  1. anisa

    Great blog ! I extremely appreciate how its straightforward givenfor my eyes and also the info are effectively composed. I am questioning how I can be notified whenever a fresh writeup has been recieved. i even have subscribed within your rss feed that extremely must did the trick ! Have a good day reseller jaket kulit murah

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s