step

Traveler of Life


Pertanyaan yang mudah seringkali tidak berbanding lurus dengan jawaban yang sama mudahnya. misalnya saja, “Mana yang lebih penting antara perjalanan dan tujuan dari perjalanan?” di dalam pertanyaan mudah dengan jawaban relatif ini, saya memilih untuk meletakkan perjalanan setingkat lebih tinggi dibanding tujuan.

Perjalanan pertama saya dimulai sekitar 15 tahun yang lalu. jarak belasan tahun bukan rentang waktu yang singkat, tapi entah kenapa rasa dan nuansa perjalanan perdana kala itu masih terekam jelas. inilah kekuatan memorimanusia. terkadang ia bisa jadi mesin waktu yang menampilkan kembali masa silam yang tak terjamah oleh fisik. seperti ada potongan puzzle yang sengaja kita simpan dalam sebuah kotak, hingga suatu saat kita bisa membukanya kembali sebagai momen nostalgia.

hari ini, memori itu hadir dalam bentuk foto berwarna dengan efek sephia. agak buram, kabur, tapi rasanya masih sama. ihwal perjalanan perdana yang membuat saya ketagihan untuk melakukan perjalanan berikutnya belasan tahun kemudian. waktu itu saya masih berstatus siswa Taman Kanak-Kanak (TK). anak ingusan dengan rambut kuncir dua, bertali hijau dengan boneka plastik hijau mungil menghiasi kepala.

tepat ketika siang mulai tergelincir dari atas kepala, perjalanan saya di mulai dari sebuah terminal padat merayap di salah satu sudut Surabaya. ini perjalanan terpanjang saya kala itu. melintasi jalur pantura menggunakan bus ber-AC yang penuh sesak dengan manusai beserta barang bawaannya. Bus adalah musuh pertama saya. bagaimana tidak, selama di perjalanan, perut saya terguncang hebat. pil anti mabuk yang diminum subuh tadi rasanya tak berfungsi.organ yang mengatur sistem keseimbangan yang terletak di telinga tengah seolah sedang menggeliat.

efeknya dahsyat, perut saya mengeluarkan semua isinya dengan ganas. saya memegangi kantung plastik hitam yang berbau masam. pertanda lambung saya telah mengeluarkan separuh lebih isinya beserta kandungan asam di dalamnya. saya benci perjalanan darat. bagi saya naik bus sama saja dengan masuk ke dalam kotak penyiksaan.

di saat seperti itu, tidur di tengah perjalanan adalah salah satu pilihan yang tepat. setidaknya untuk sementaratubuh saya akan lupa jika ia sedang melampaui perjalanan penyiksaan. perut saya akan berhenti berperan seperti gunung berapi yang memuntahkan lahar tiap periode tertentu.

saya anak TK yang tidak mengerti ihwal manusia-manusia dewasa yang bisa duduk tenang sambil memutar lagu melayu yang mendayu-dayu. mereka seolah menikmati erjalanan dengan syahdu. sama sekali tidak mengalami guncangan perut seperti yang tengah saya rasakan selama hampir beberapa jam.

di tengah kondisi fisik yang payah akibat perut kosong dan mulut pahit, ibu mengalihkan perhatian saya kepada jajaran bukit berhutan lebat di sepanjang jalan. inilah hutan pertama yang saya saksikan dengan mata kepala sendiri. sementara biasanya, saya hanya mampu terkagum-kagum dengan tayangan televisi.

Hutan! ini benar-benar hutan! bukit berjajar yang diselimuti pepohonan. hijau seperti kepala yang ditumbuhi rambut lebat. lantas, beberapa ekor monyet terlihat melompat dari satu pohon ke pohon lainnya. rasanya seperti menyaksikan tayangan discovery channel secara live!

Hutan itu, satwa itu, bukit yang berjejer dengan permukaan tak rata, mereka adalah cinta pertama saya. sejak saat itu, saya begitu mencintai hutan, dan bukit hijau yang menyertainya. berkat perjalanan penuh siksaan ini, saya bertemu langsung dengan keajaiban hutan ibu pertiwi.

sementara bus masih melaju kencang. kabar baiknya, perut saya yang ditempeli salon pas mulai mau berkompromi dengan tubuh lelah ini. ia tak lagi memuntahkan lahar dingin. dia sekarang seperti gunung api yang tertidur. beberapa saat kemudian, sampailah kami di tempat tujuan. rumah Bude  di Situbondo. kami disambut hangat, dengan sajian satai ayam yang lengkap denganbumbu kacang legit melumuri tiap potong daging panggang. Perjalanan yang menyiksa itu berakhir, tapi saya merindukannya.

AN

2 thoughts on “Traveler of Life

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s