picture taken from TEMPO

Dapat 1 Syawal, Kemudian…?


picture taken from TEMPO

“..berlalu tidaknya Idul Fitri pada seorang muslim pada hakikatnya hanya ia sendiri beserta Tuhan yang mengetahui. Orang lain hanya bisa mengira-ngira berdasar indikator apakah perubahan pada seseorang sebelum dengan sesudah Ramadhan ,” (EAN)

Lantas, kemudian esok hari 1 Syawal. Masa Ramadhan 1433 Hijriah telah usai. Ia mempersilahkan Syawal menyugihkan nuansa “Menang” bagi penikmat Ramadhan. Konon katanya, ada yang masih mempertanyakan. “Apakah saya benar-benar menang? Di lain sisi, ketika Ramadhan 1433 H berakhir, kemudian apa?”

Ada yang bilang Ramadhan berakhir, lantas mudik. Nah, masalah pun hadir. saya ini tidak punya kampung. Mau pulang kampung kemana? Lha wong tiap hari juga tinggal di kampung. Kampus saya pun, meski secara administratif terlmasuk wilayah metropolis, secara geografis sebenarnya letaknya juga di kampung. Perhatikan saja, sekeliling kampus saya masih banyak sawah kangkung. Masyarakatnya masih arif, guyub, khas orang kampung. Nuansanya tenang, solidaritasnya masih melekat. Alhasil, saya pun sehari-harinya tinggal di kampung. Nah, mau pulang kampung ke mana lagi?

Usai Ramadhan kemudian apa?

Kemudian “puasa” itu lazimnya masih tetap berlanjut. Ramadhan ibarat camp yang membawa kita (saya) pada sebuah proses kaderisasi. Pelatihan menahan untuk tidak menjadi konsumen yang lebay. Waktu puasa, kita (saya) dikader untuk membatasi konsumsi terhadap ihwal yang sesungguhnya Halal untuk dimakan. Ada nasi goreng Halal, tapi tak boleh di makan. Namun ia bisa dinikmati pada waktunya. Dengan menunggu waktunya kita akan belajar. Laparnya perut seharian, dahaga yang seolah mengeringkan kerongkongan. Dua konteks sederhana dalam puasa tersebut menunjukkan kepada kita, “betapa indahnya keterbatanas,”. Coba bandingkan antara makan malam di hari tak sedang berpuasa, dengan makan malamnya orang puasa yang lazim disebut “berbuka”. Dari situ kita belajar, keterbatasan justru menghasilkan kebahagiaan.

Definisi ini hanya hikmah, ikhtisar kecil dari puasa yang diperoleh seorang awam seperti saya. Pemahaman saya masih super duper dangkal. Sekedar membawa koneks urusan perut di dalamnya. Puasa, menahan lapar, dahaga, dan hawa nafsu yang disebutkan dalam buku-buku agama saya. Bahkan, ada kalanya puasa saya masih terlalu mendasar.

Pernah bisa membedakan mana itu puasa, mana itu menunda makan? padahal keduanya berbeda. Konteks  menunda untuk tidak makan memiliki makna yang jauh daripada puasa. Menunda berarti, ketika waktu makan tiba, porsi makan kita (saya) menjadi berkali-kali lipat. Jatah makan siang diakumulasikan dengan dengan jatah makan malam. Puasa ya puasa. Berbukalah dengan wajar, bukan seperti orang yang balas dendam di meja makan.

Saya yakin, ada hikmahlain yang lebih dahsyat dari sebuah prosesi puasa. Di mana ia tak hanya dimaknai sebagai seremoni setahun sekali. Misalnya, teori bilang Puasa adalah wujud kecintaan kita pada Yang Maha Memiliki jagad raya. Puasa adalah perintah-Nya. Kita berpuasa karena ini memang perintah-Nya. kita mengikuti perintah karena ada rasa cinta dalam hati kita kepada Yang Maha Mencintai. Lagi pula, Dia perintahkan puasa untuk kebaikan manusia sendiri.Ihwal seperti ini yang harus terus-tersu dan terus saya pelajari. Seumur hidup, mungkin…

Sepertinya, pertanyaan awal belum juga terjawab. Setelah Ramadhan usai kemudian apa?

Sepertinya kita bisa mengaplikasikan ilmu “menahan”kapan saja. Mengingat, ketidakmampuan kita dalam menahan, memunculkan sifat berlebihan. Menjadi makan, padahal tidak lapar. Membeli, padahal tidak membutuhkan. Ramadhan mengandung unsur waktu. Hadirnya dalam periodiktertentu. Sementara Puasa tak dibatasi konteks waktu. Kecuali memang ada hari-hari tertentu di mana puasa “jasmaniah” (tidak makan, tidak minum) sebaiknya tidak dilakukan, atau sangat tidak boleh dilakukan.

Betapa indahnya, ketika kita sedang tidak lapar kemudian ada seorangteman yang memberi sepiring nai padang. Sudah jelas nasi itu halal, aromanya menggiurkan, tapi kita menahan untuk tidak makan. Kita berikan nasi padang kepada teman lain yang lapar, yang memang sudah waktunya makan tapi ia belum makan. Seketika, tanpa sadar ada nafsu yang telah terkalahkan. Sepertinya kalau begini, Ramadhan bisa datang kapan saja.

Ini pun masih dalam konteks urusan perut, sangat mendasar yangmampu saya tangkap. Kata para ustad, puasa menurut ilmunya, bisa diproyeksikan ke dalam kehidupan sosial, bisnis, kenegaraan. Saya percaya, dan saya ingin belajar memahami yang sedemikian itu.

Syahdan, kini 1 Syawal datang. Ramadhan telah mengestafetkan waktu kepada Syawal. Seremonial puasa telah berakhir. Ingin juga saya bisa merasakan betapa indahnya mengamalkan ilmu “puasa” yang telah diberikan selama Ramadhan kepada ummat manusia. Puasa dalam konteks yang lebih luas, itu,,, Ya, itulah kelanjutan dari Ramadhan.

Ah, semoga kita bukan termasuk orang-orang yang mendadak religius hanya ketika berada  dalam sangkar Ramadhan.🙂

AN, 1 Syawal 1433 Hijriah.

mohon maaf lahir dan batin🙂

5 thoughts on “Dapat 1 Syawal, Kemudian…?

  1. srierizky

    Selamat berhari raya
    Semoga kita dapa meraih kemenangan itu dengan mengaplikasikannya pelatihan selama bulan ramadhan di bulan berikutnya yang akan kita jalani..
    Biasan amal soleh dari ramadhan terpantul ke setiap waktu kita melangkah..

    Reply
  2. Cenya95

    Berlalunya Ramadhan, menghantar kemenangan dengan penuh rasa damai.
    Lantunan takbir syahdu menggema di telinga, memberi warna dalam kehidupan kita.
    Menyambut Syawal, mengucap syukur atas segala nikmat rizki dan kesehatan.
    Tiada hari seindah hari Raya ini, bersihkan diri kembali ke fitrah
    Tiada maksud berkilah, hanya menghaturkan kata mohon MA’AF LAHIR BATHIN atas segala kesalahan dan kekhilafan kami.
    Semoga amal ibadah seluruh keluarga muslim senantiasa mendapat hikmah, ridho dan maghfiroh NYA.
    Teriring hormat dan salam superhangat untuk seluruh keluarga.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s