Ada yang Ngajak Cangkruk


Kira-kira enam tahun sejak  buku kumpulan puisi tulisan tangan saya diakuisisi oleh tukang rombeng. Kira-kira hampir empat tahun sejak komputer yang isinya sampah ocehan larut malam terserang virus mematikan, sehingga ia harus suntik mati. dipaksa amnesia. kira-kira sudah tiga tahun sejak saya bertemu dengan dunia esai panjang, kemudian jurnalistik, kemudian setatistik, lantas melupakan tulisan sastra yang paling epik bertajuk “Puisi”.

Kemudian di suatu senja yang temaram,  empat hari lalu. Seorang teman lama membangunkan saya lewat twitter. Pemilik lapak sepotong keju ini ngajak ketemuan bareng sama teman-temannya yang kayaknya super keren. Katanya akan ada diskusi. Ngobrol ngalor-ngidul  tentang penggagasan malam apresiasi seni.

Sayangnya saya nggak jadi datang, perjalanan dari Surabaya ke Gresik memakan waktu dua jam. Sesampainya di sana hari sudah malam. Padahal undangannya jam dua siang. Teman saya maklum. Ia bilang, saya cukup datang aja di acara inti.

Singkat kata, acaranya seperti stiker di bawah ini.
Besali
Setidaknya ini bukan entitas komunitas, jadi saya agak tenang. Konon, Besali mengusung konsep forum. Cukup ada anak muda ngumpul. Nggak harus muda juga sih..

Pasalnya, peruntungan saya bergabung atau menginisiasi sebuah komunitas kurang begitu baik. Selalu gencar di awal, kemudian perlahan tapi pasti kehilangan penggemar.  Jadi saya tak perlu khawatir ia akan mati karena kehilangan peminat layaknya komunitas.

Lebih dalam tentang misi Besali, saya pun tak paham. Arti kata Besali pun saya tak tau. Secara kasat mata ia tampak ingin menjadi magnet yang menarik orang-orang dengan minat yang sama, atau kepedulian serupa terhadap seni dan sastra. Setelah orang-orang terkumpul, ya.. biarkan mengalir apa adanya.

Tertarik? tentu! Namun kemudian terbesit kekhawatiran tentang bagian inti dari undangan Besali. Mereka menginginkan setiap yang datang membawa upeti berupa puisi. Ini dia bagian paling sulit!

Membayangan harus menulis puisi, tetiba otak saya mati rasa. Rasanya rumit. Puisi menjadi lebih sulit dari menulis 300 kata untuk tulisan jurnalistik di official website kampus. Lebih rumit dari menyusun model forecasting secara manual di mata kuliah Setatistik dulu.

Bagaimana caranya menulis puisi? saya tak tau. Saya lupa. saya hilang hasrat. Walaupun ingin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s