Kita tak Perlu Membongkar Masa Lalu


picture taken from: genta-rasa.com

Situasi hadir dan berkata,”suatu hari kamu akan bertemu dengan cuaca seperti yang melanda di negeri kami, lantas kamu akan merasakan betapa sulitnya menggunakan rasio ketika seluruh hatimu mendominasi,” tegasnya dengan muka canda.

Kemudian ada sesimpul senyum terlukis pagi tadi. Lantas hati berkata, “Biarkan khalayak berspekulasi, biar masa lalu tetap berada di pemakamannya, biar kamu tak perlu membanggakan diri pernah melewati cuaca yang sama bahkan lebih terik dan lebih ganas daripada yang mereka alami di negerinya,” kata Hati.

Ketika kamu berhasil meredam keinginan untuk menunjukkan sejarah bahwa kamu pernah mengalami  puso, kamu pernah terkapar karena paceklik, tapi kamu tak ingin mengedarkannya ke hadapan publik… Kamu seketika tersadar, ini adalah sebuah fase yang mendewasakan. Fase terik ganas yang mencekik. Lantas tiap orang yang mengalaminya akan merasa seolah tidak ada yang lebih menderita daripadanya.

Dan kamu yakin, ini pun akan berlalu. Sementara membenci hanya akan membuatmu semakin tersakiti. Ketika kamu berusaha melupakan, yang hadir justru kekuatan untuk mengenang. Di sinilah kita belajar menerima keadaan sebagai sebuah fase pembelajaran.

Ketika kamu bilang, “Ini pun akan berlalu.” tapi khalayak justru menebar sumpah serapah terhadapmu dengan alasan “Negerimu tidak pernah mengalami apa yang kami alami?” Ya sudahlah. Sekali lagi, biarkan masa lalu damai di dalam pemakamannya.

Bukankah “pendaki” sejati menyimpan kisah getir perjalanannya dalam kotak hitam?

Toh, Nanti ketika khalayak sudah mampu berdiri, dengan sendirinya akan tersadar. Bahwa ratapan kemarin sore adalah sebuah kebodohan terbesar dalam hidupnya.

AN

NB: Suatu hari kita cuma ingin menghibur, tapi dianggap tak tau masalahnya, dianggap tak mengerti penderitaannya – ihwal rasa sakit yang diderita hatinya kala itu. Padahal, ia pun tak mengetahui kalau kita juga pernah mengalami kejadian serupa.

6 thoughts on “Kita tak Perlu Membongkar Masa Lalu

  1. xrismantos

    Repot juga ya jadi tong sampah curhat. Memberi saran paling ampuh (yaitu biarkan waktu yang menyembuhkan segalanya) tapi malah dibilang ngga pernah “mengalami apa yang sedang kurasakan” wkwkwkwk…sabar…

    Reply
  2. kang haris

    optimis dan bersemangat menyongsong masa depan, berbuat yang terbaik di masa kini, dan mencoba untuk mengambil pelajaran dari masa lalu mungkin ini yang terbaik. Nah kalau ada yang meratapi masa lalu, semakin dalam dan terdampar atas kesedihan dan kekecewaan, saya rasa ini cukup disayangkan, tapi biarlah🙂

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s