Terhisap Lini Masa


twitter

“Berapa banyak yang kamu ikuti?”

“Berapa nama yang mengikuti?”

Orang-orang terlalu mudah terlena dengan kemudahan.

Dari zaman ke zaman, ada yang tak lagi sama tentang huruf dan kata. Semakin hari ia semakin mudah terucap dan diucap kembali. Dijiplak, direnggut dari sumber aselinya, hingga kemudian bertransformasi menjadi kata dengan maksud beda.

Mari kita mengingat masa lalu. Awal manusia mengenal budaya literasi, bagaimana kata begitu tak mudah untuk diabadikan. Butuh tenaga ekstra untuk menyampaikan pesan. Beberapa mengukirnya di atas sebuah batu. Kebudayaan lain melukiskan aksara di dalam dinding goa. Kemudian generasi selanjutnya mulai menggunakan selembar daun lontar.

Lalu zaman berjalan.

Isi kepala yang dulunya lebih sering diutarakan melalui lisan dan tulisan kini berubah bentuk menjadi huruf-huruf digital. Tak perlu repot menulis di atas kertas. Buka saja twitter, facebook, tumblr. Lalu, katakan saja! Pelbagai gagasan dan ide serempak tersebar.

Saya merasa beruntung karena dikenalkan dengan internet sekitar tujuh tahun silam. Sejak duduk di bangku SMP. Waktu itu, buku pelajaran masih menjadi barang mewah bagi saya. Hanya ada sedikit uang untuk membeli buku. Namun, dari internet begitu banyak materi pelajaran dapat diakses dengan mudah dan GRATIS. Buku Siswa Elektronik yang diterbitkan resmi oleh kementrian pendidikan nasional salah satunya.

Tentu saja, lini masa tak sekedar teks digital. Suatu ketika ia menjadi gambar bergerak berbentuk video. Sebut saja Youtube sebagai salah satu “tempat berkumpul” dokumentasi, ide dan gagasan dari penjuru dunia. Sekali lagi, dengan mudahnya informasi tersampaikan. (terlepas dari sisi positif dan negatifnya).

Lalu coba bayangkan, kita sedang duduk di teras rumah, sembari menikmati secangkir teh dan pisang goreng. Sebagai mahasiswa rantau yang kerap kali tengah berjarak ratusan kilometer dari kampus, saya dapat dengan mudahnya menyaksikan kuliah umum dari menteri yang bertandang hadir. Melalui video streaming dari TV Kampus.

Tanpa perlu beranjak, ilmu pun kita dapat. Keberadaan internet menjadi nafas baru. Sebuah jembatan penghubung antara keterbatasan dan kemudahan akses informasi.

Tetapi ada kalanya kemudahan justru membawa malapetaka. Coba tengok lini masa. Setiap detik ribuan kata berhamburan. Ada yang menebar kebaikan, tak sedikit yang berbagi nasihat. Lebih banyak lagi yang membawa harimau di ruang umum bernama sosial media.

Lalu dengan mudahnya kosa kata pedas bertebaran. Kritik, keluhan, cacian dilempar ke ruang publik. Meski tanpa tujuan pembaca yang jelas.

Rasanya seperti menyaksikan orang-orang yang menirim pesan tanpa alamat tujuan. Atau sepucuk surat dengan tujuan orang tertentu namun dapat disaksikan ribuan orang. Sebuah baliho raksasa.

Namun,konsumen seperti kita wajib mengantisipasi sifat Internet yang bermuka dua. Tak ubahnya energi nuklir yang memiliki kandungan positif dan negatif tergantung niat masing-masing penggunanya.

Saya hanya berharap, keberadaan internet cepat di Indonesia dapat membawa maslahat bagi seluruh lapisan masyarakat.

2 thoughts on “Terhisap Lini Masa

  1. Odie

    imaji liar saya mengatakan, beribu ribu tahun lalu ada sebuah peradaban yang mirip seperti sekarang, dan musnah karena peninggalannya tidak dapat digali, karena terlalu canggih. bisa jadi, ketika perang nuklir (bisa jadi suatu saat nanti), bisa memusnahkan internet, dan seluruh servernya. ribuan akun, catatan, literatur, penelitian, musnah. saya jadi berfikir untuk tidak terlalu bertopang dengan cloud server😛 (*komentar liar nan nggak nyambung

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s