Puasana Mediana


 

surat cinta hacker

Ndak bermaksud anti mainstream atau hipster, atau bahkan menolak menjadi kaum sosialita. *halah. Puasa saya ini bukan hanya soal makan, minum dan hawa nafsu. Melainkan memfilter kembali akses media informasi yang jadi konsumsi saya tiap hari.

Sudah beberapa pekan belakangan saya mempuasai diri untuk tidak baca koran online, nonton tv berita, bahkan menutup buku media sosial itu. Saya eneg, malas, muak. akhirnya saya memutuskan untuk mempuasai diri. menjauhkan sebisa mungkin dari media-media tersebut.

Semua ini berawal sekitar akhir April 2014. Setiap kali nyalain TV burung atau TV merah itu, saya mulai mencium bau ndak penak . Sedikit anyir dengan bumbu-bumbu tak seimbang. Yang satu keasinan, yang satu kemanisan. Kalau terlalu asin katanya bisa bikin darah tinggi. Kalau terlalu manis katanya meningkatkan resiko diabetes.

Saya pikir itu semua hanya terjadi di TV saja. eh ternyata media online sama saja. Entah siapa yang memulai saya ndak peduli. Yang jelas, bos-bos media ini sudah keterlaluan. Apakah yang salah “koki di dapur” atau “petugas belanja di pasar”. Tega nian mereka meramu sajian informasi yang sungguh (maaf) tidak berkelas.

Mari kita perhatikan dengan kepala jernih, sajian mereka terlalu tendensius, mengabaikan kaidah berita berimbang. Sudut pandang  yang digunakan terkadang terlalu runcing, atau terlalu tumpul. Sangat terlihat kalau masing-masing dari mereka tanpa malu-malu menunjukkan keberpihakan terhadap salah satu calon presiden (capres).

Iya, memang tidak ada salahnya mendukung. Tapi memberi dukungan dengan menggunakan kekuatan media menurut saya sudah keterlaluan. Bebas sih bebas. Mbok ya jangan semaunya sendiri.

Alhasil selama “puasa”, saya lebih suka nonton kartun pagi hari. Atau baca berita olah raga saja. padahal biasanya TV burung dan TV merah menemani saya sarapan sebelum berangkat beraktivitas. Mereka jadi teman setia saya setiap pagi bersama nasi pecel tumpang. Sementara beberapa media online saya kunjungi ketika jam makan siang, atau sambil menikmati senja. Kurang setia apa konsumen macam saya ini coba. Eh ternyata, mereka menghianati saya.

Seharusnya media memegang teguh kaidah jurnalistik yang selama ini dibangga-banggakan. Boleh saja ambil sudut pandang, tapi prinsip berimbang serta cover both side tetap harus dipegang. Belum lagi munculnya pelbagai media online “abu-abu”. Lebih mementingkan sensasi dibanding esensi.

Dengan demikian sodara-sodara yang budiman. Konsumen media semakin hari semakin dituntut menjadi pembaca cerdas; dalam memilih penyedia informasi, lantas menelaah isi. Bedakan mana penyedia informasi jurnalistik, mana pula yang wadah opini publik.

Sudah ah, ngomong apa sih saya barusan. Besok mau siap-siap “buka puasa”. Semoga segala macam media kembali normal esok hari.

salam sepuluh jari. dadah pemirsah😀 *lambaikan tangan ke kamera.

-ANL-

3 thoughts on “Puasana Mediana

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s