Imaji – 1


Penyakit lamanya kambuh lagi. Semakin hari semakin sering ia menurunkan hujan air asin di depan mulut gua. Setiap jam, setiap hari, setiap malam. Hujan itu datang hampir setiap malam. Ia adalah seorang penenun hujan. kegemarannya mengurung diri di celah-celah stalaktit dan stalakmit. Ia jarang menampakkan diri. Kecuali ketika mendung, dan matahari terbit. Hingga suatu senja, datanglah perempuan berkebaya jingga.

“Aku mau mereka tau rasanya merindukan hujan, aku mau mereka merasakan gerah yang tiap hari aku rasakan, aku mau orang-orang itu tidak lagi memandangku sebelah mata,” katanya kepada perempuan berkebaya jingga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s