Menjatuhkan Diri


Lalu langkah kaki itu terperosok jatuh jauh ke dalam jurang. Kakinya menghatam bebatuan cadas yang keras. Pergelangan kaki itu terkilir. Ia luka parah. Tak mampu berdiri.

Seketika pepohonan di sekelilingnya berputar-putar. Keningnya memerah, oleh darah yang menetes dari luka. Pandangannya buram, tapi ia masih mencoba untuk berdiri.

Baru mencoba berjalan selangkah, ia terjatuh. Seketika semuanya berubah gelap. Tubuhnya tersungkur di atas tanah.

——
Entah sudah berapa lama ia pingsan. Ketika bangun, ia masih berada di jurang yang sama. Sendirian.

Tubuhnya tampak terlalu letih untuk bangkit. Tapi tidak dengan hatinya. Ia ingin pulang. Ia ingin kembali ke tempat semula. Maka, ia kumpulkan segenap sisa tenaga yang tersisa bagai memungut remah roti di atas tanah.

Kegelapan menaungi jalan setapak sempit. Ada sebersit rasa takut. Ia butuh penerang jalan agar ketakutan itu sirna. Atau lebih buruk lagi, tanpa penerang ia bisa jatuh ke jurang yang lain.

Jika ia menjatuhkan diri (lagi), rasa sakitnya akan berkali kali lipat. Lukanya semakin melebar. Kemungkinan terburuk, ia tidak lagi bisa bangkit jika membiarkan dirinya jatuh lagi.

Jalanan tentu tidak seketika melunak hanya karena fisiknya rapuh. Ia perlu ribuan kali lipat tekad untuk melalui rintangan dengan kondisi tak lagi ideal. Sulit? Tentu! Namun jika menyerah maka ia akan mati dengan luka di sekujur tubuhnya yang tak terobati itu.

One thought on “Menjatuhkan Diri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s