Monolog


Bahkan tanpa lawan bicara, tanpa dialog, kita masih bisa bermonolog. KIta butuh monolog. Karena, berbicara dengan orang lain tak selamanya menarik. Terlebih lagi, jika suatu hari, suatu ketika, kita kehilangan satu persatu kawan bicara. Mereka lenyap, pergi ke entah berantah.

Dialog adalah candu. Maka, ketika kehilangan kawan bicara, spontan kita merasa sepi. Ada kekosongan tanpa definisi. Menyeruak jauh di dalam relung hati. Kekosongan merindukan teman bicara. Atau sesekali lawan bicara.

Sementara Monolog begitu syahdu. Dengannya kita mendengarkan diri sendiri, mungkin untuk yang pertama kali. Kita mengorek isi hati sendiri, tanpa perlu seorang pun tau. Lantas setiap gumaman, racauan, kicauan itu keluar dari dalam diri menjadi sebuah monolog.

Kita butuh Monolog, karena teman bicara tak selamanya ada di samping kita. mereka punya dunia yang lebih menarik, daripada sekedar berbincang dengan kamu. Bukankah subjek palng menarik adalah diri kita sendiri? Begitulah, kawan bicara jbisa lelah mendengarkan ocehanmu. kawan bicara butuh diam dalam perenungannya sendiri. Ia, butuh sendiri.

Maka monolog adalah obat. Bagi kesendirian tanpa sebab. Bagi sepi yang sekedar muncul tanpa perlu alasan. Sudah terlalu lama kita berdialog. Kita butuh monolog. Menjadi Aku sebagai Aku. dan Kamu sebagai Kamu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s