Tulisan Terakhir (Sebuah Epilog)


Akhirnya, setelah menempuh perjalanan panjang sejak Januari 2008. Hari ini, tanggal 29 Juli 2015 pukul 23:08 WIB, saya memutuskan untuk mengakhiri blog ini. Butuh keberanian besar untuk mengawali sebuah akhir. Blog ini, menyimpan rangkaian catatan yang jumlahnya tak banyak, tak juga populer, dan tidak akan dirindukan. Tentu mengakhiri sebuah blog tidak semudah menutup buku catatan lama, lantas membeli yang baru. Jiwa saya, sedikit banyak tertuang di sini. Dalam entitas kalimat absurd inilah saya merekam perjalanan hidup.

Dulu, blog ini menjadi tempat bagi saya memulai sebuah cerita. Menjalin persahabatan, menemukan keluarga baru, hingga bertemu dengan yang tidak biasa. Dulu, begitu ramai khalayak menuliskan cerita perjalanan mereka di kolom virtual ini. Ada yang lucu, sedih, inspiratif.

Tapi itu dulu.

Hingga suatu saat, pada suatu titik, saya menyadari satu hal. Perteemanan yang dimulai dari dunia maya, hasilnya akan maya juga. Orang-orang mudah akrab, mudah juga lenyap. Mereka hadir dan pergi dalam waktu singkat. Saya tak ingin pertemanan seperti ini terus berlanjut. Dua orang atau lebih, yang awalnya asing, menjadi akrab, berbicara dari hati ke hati sebagai sesama perempuan. Lantas, karena satu dan lain hal, tiba-tiba saja teman perempuan saya ini menjadi berjarak.

Ada perasaan marah, kecewa. Sayangnya saya tak mampu berbuat banyak. Teman saya itu tentunya akan mendahulukan orang-orang yang dekat secara fisik, ketimbang teman virtual seperti ini. Lihatlah, betapa jarak begitu berpengaruh besar dan signifikan.

Tak apa. Saya tetap menghargai sekecil apapun nilai keakraban di masa lampau.

Nobody said it was easy. Nobody said it would be this hard.

Akhir kata, Terimakasih untuk yang pernah hadir meski sejenak. Beribu maaf tak pernah sempat terucap.

Selamat menjalani hidup. Selamat memulai catatan baru. Mulailah jejak yang baru, jangan terlalu lama menangisi jejak yang telah berlalu.

-Anla Arinda-.

Surabaya, 29 Juni 2015.

23:29

2 thoughts on “Tulisan Terakhir (Sebuah Epilog)

  1. Pingback: Nasihat Perkawinan | Nindya et Memoria

  2. hafid algristian

    Wow. So soon?
    Sayang, rasanya. Padahal dari blog, saya bisa ketemu pemikiran2 unik dan ngga biasa. Meski jadi silent reader, tapi ide2 dari blog kawan2 justru membuat saya bisa memandang dari sudut pandang yg berbeda.

    Tapi, yah. Keputusan uda diambil. Semoga, masih ada kesempatan utk bertemu, meski sebatas ide2 dan pemikiran2.

    Sipp, semangat dan sukses.
    Moga dilancarkan semua urusan. Amiiin..

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s