Gegabah


Setelah membaca keputusan saya untuk mengakhiri blog ini, Ndoro tiba-tiba saja nyemprot saya. Katanya, keputusan yang saya tulis minggu lalu tak lain adalah keputusan gegabah. Dituduhnya saya membuat keputusan dalam keadaan emosi tinggi. Kemarahan pada satu titik, berimbas pada lingkaran di sekitar.

Bagaimana mungkin ada seorang waras jasmani dan rohani, memutuskan menutup lapak yang dibangun selama tujuh tahun? Alasannya pun ndak masuk akal, hanya karena masalah pribadi dengan satu orang lantas merusak peluang menjalin silaturrahmi dengan banyak orang lainnya?

Ndoro bilang, saya edan.

Ndoro ini menyebalkan. Omongannya kok ya selalu benar. Sedikit bicara, tapi langsung menusuk. Malam itu kewarasan saya melipir entah kemana.

Ndoro pun berceramah. Bilangnya, mana ada sih, keputusan baik yang diambil di tengah malam, ketika otak lagi ndak bisa kontrol emosi. Ketika hati sedang diganggu oleh pelbagai macam prasangka tanpa bukti. Lebih baik diam kalau ndak bisa ngomong baik. Emosi sesaat hanya akan memperburuk perkataan kita. Maka lebih baik diam, daripada membuat keputusan yang nantinya akan disesali seumur hidup.

Yasudah, Ndor.  Saya hisap lagi tinta yang terlanjur terbuang. Kertas yang terlanjur robek, biarlah tetap di tempat. Biar jadi pengingat akan kebodohan saya waktu itu.

Salam,

Surabaya, 3 Agustus 2015.

10:34 WIB

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s