Jalan berkabut


semeruadvEntah disebut apa, orang yang mengurungkan niat setalah dekat dengan puncak?

Subuh ini saya teringat dengan moment setahun lalu. Ketika 13 orang berangkat bersama ke Gunung Semeru, dengan komposisi 4 perempuan dan 9 laki-laki. Saya menjadi salah satu dari empat gelintir srikandi itu.

Sama seperti tipikal pendaki umumnya, mendaki dengan tujuan mencapai puncak, lantas pulang dengan selamat. Kami berangkat dari stasiun Gubeng Lama dengan semangat berkobar. Pukul 19.20 kereta berangkat menuju stasiun Belimbing. Satu sampai dua jam kemudian kereta sampai di sebuah stasiun kecil yang relatif sepi – karena sudah malam. Di dekat stasiun kami disambut oleh angkot carteran yang akan mengantar sampai base camp pertama untuk bermalam – sebelum berangkat ke Ranu Pane.

Malam hampir larut, base camp dipenuhi oleh pendaki lain yang telah menyelesaikan misinya. Mereka tertidur pulas, berjejer persis seperti pindang di pasar. Raut mukanya tampak lelah. Wajahnya memerah akibat sengatan matahari gunung yang terkenal ganas. Ah, lupa pakai sun block ya cyyin. Hihi.

Sampai base camp,kami mencari posisi masing-masing untuk mengistirahatkan badan, shalat, dsb. Sayangnya, meskipun lelah, tubuh ini terlalu sulit diajak tidur. Biasanya akibat terlalu bersemangat menyambut prosesi pendakian esok hari. Semalaman saya hanya memandangi langit-langit kamar sambil bertanya,”kenapa langit-langit itu dibikin putih polos?,” Gumaman ndak penting blas.

Esok pagi, kami berangkat selepas shalat subuh, sesaat sebelum matahari terbit. Sebuah mobil jeep merah menunggu di depan base camp. Rangkanya tampak kokoh. Suara mesin berderu, seolah siap diajak lari menyisiri medan aspal menanjak dan berliku.

Sekitar Pukul 7 pagi, kami sampai di pintu masuk Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Jeep berhenti sejenak di tepi tebing. Kap mobil dibuka, katanya buat mendinginkan mesin. Di bawah kami tersaji pemandangan maha dahsyat. Savana hijau Gunung Bromo.

Masya Allah, betapa indah ciptaan Mu. Halimun berdesis lamban di lembah Bromo. Hawa dingin merasuki kulit, meski jaket tebal telah dikenakan. Matahari terbit di sela-sela barisan gunung. Perasaan takjub akan keindahan ini, hanya bisa dimengerti dengan merasakannya sendiri.Rugi bagi kalian yang cuma bisa nonton TV, tanpa pernah menyempatkan diri menapakkan kaki melihat dengan mata kepala sendiri.

Secanggih-canggih kamera DSLR menangkap moment ini, masih lebih indah kalau dilihat dengan mata sendiri. Tak perlu filter, lensa macem-macem, panorama menawan lebib dari kata-kata.

Tapi ini belum apa-apa. Ada seberkas puncak mahameru mengintip malu diselimuti kabut. Di sana lebih indah lagi. Pasti.

Kap mobil ditutup, mesin dinyalakan. Pertanda kami harus kembali naik berdesakan di jeep berdiri ini. Perjalanan menuju Ranu Pane legendaris itu dimulai.

Sekitar pukul 8 pagi kami tiba di ranu pane. Semeru ternyata sudah jadi Idola bagi para pemuda. Ramai, riuh, terutama bagi mereka yang baru turun dari puncak. Selepas menyelenggarakan upacara 17 Agustus di gunung tertinggi Pulau Jawa itu.

Oh ya, kami sengaja berangkat dari Surabaya tanggal 18. Biar ndak ramai, biar anti mainstream gitu. Hihi.

Di pos pemberangkatan ini, tim menyempatkan diri sarapan pecel di sebuah warung kecil. Yang bikin kaget, saya menemukan jenis lombok besar dan gendut menyembul tepat pada sela-sela sambel petis. Jangan-jangan Ini yang namanya jalapeno?

Penduduk Ranu pane yang berprofesi sebagai petani dan pedagang ini, apakah mereka menanam jalapeno di bukit-bukit miring kaki gunung semeru? Misteri belum terjawab. Alih-alih ngurusin lombok, kami harus segera melanjutkan perjalanan.

Pukul 9:30, di pintu pemberangkatan, tim memanjatkan doa keselamatan. Surat Al Fatihah dan Ayat Kursi kami baca dalam hati. Perjalanan ini ndak main-main. Menyusuri alam, hutan, bukit, tepian jurang. Di kaki mahameru kami tak lebih dari kerikil-kerikil kecil. Doa menelan kesombongan kami. Nasib sepenuhnya kami pasrahkan kepada Gusti Allah Yang Maha memiliki hidup dan kehidupan. Bismillahirrahmanirrahim, kalimat basmalah ini mengiringi langkah pertama kami.

Dari pos pemberangkatan, tujuan pertama adalah Ranu Kumbolo. Sebuah danau yang terletak di tengah-tengaj jalur pendakian Mahameru. Jalannya cukup ramah bagi pemula. Tidak banyak tanjakan sepertihalnya jalur pendakian Arjuna-Welirang.

Butuh sekitar 5 jam bagi tim besar seperti kami mencapai Ranukumbolo. Terutama bagi pendaki bernapas pendek seperti saya ini. Ngos ngosan juga. Padahal ini belum apa-apa.

Setelah sekian lama berjalan, sebuah danau biru menawan menyambut kami dari atas bukit. Saya tak mau banyak bermain kata untuk mendeskripsikan tempat ini. Datang saja sendiri, tapi jangan rusak alamnya yaa🙂

Di ranu kumbolo, kami mendirikan tenda. Menginap semalam sebelum berangkat menuju Kali Mati. Tenda tepat berdiri dengan jarak sekitar 5-10 meter dari bibir danau. Posisi tenda kami tepat di tengah garis yang membelah ranukumbolo jadi dua bagian. Berharap ketika sunrise akan mendapat pemandangan menakjubkan. Prediksi saya tepat. Bangun subuh menggigil dingin. Pas membuka pintu tenda, danaunya lenyap. Di depan kami hanya terlihat kabut putih pucat. Ranukumbolo sempurna tertutup halimun.

Sewaktu mengambil wudhu di ranukumbolo, airnya benar-benar terasa seperti es. Duingiiiiinnn. Wudhu pertama dalam hidup saya dengan air sebeku itu. Minyak aja sampai beku kena suhu ranukumbolo. Jadi ketika ngambil air buat mulai berkumur, mulut saya nggak tahan. Deretan gigi sensitif seperti mau copot saja. Cenut cenuuut. Belum lagi pas saya membasuhkan air ke wajah. Rasanya dingin membekukan kulit wajah. Tapi seger, seperti lagi spa gitu. Hahaha.

Shalat subuh di ranukumbolo benar penuh perjuangan. Dingin Ya Allah. Mana pernah Surabaya sedingin ini.

Saat-saat setelah subuh menjelang sunrise, adalah waktu yang tidak dianjurkan untuk tidur. Rugi kalau ketinggalan mata hari terbit di seberang ranu kumbolo. Seiring dengan munculnya sinar mata hari, halimun perlahan mengundurkan diri. Lelakunya persis seperti tirai yang terbuka.

Danau yang awalnya tertutup kabut dengan sempurna, perlahan menampakkan dirinya. Beneran seperti tirai. Halimun mundur perlahan. Menyibak danau malu-malu. Sedikit demi sedikit sampai danau akhirnya terlihat utuh seperti kemarin sore. Lantas, semburat kuning keemasan muncul di sela-sela bukit seberang. Allahu Akbar.

Usai sarapan menu sehat, carrier telah tertata rapi, kami melanjutkan perjalanan ke Kali Mati. Sebuah pos peristurahatan terakhir sebelum mencapai puncak Mahameru.

Lewat bukit yang kata orang bukit cinta itulah perjalanan kami dimulai. Ada yang bilang kalau memikirkan sebuah nama di bukit ini, maka cinta kita pada orang itu akan dipersatukan.

Mbledeghes saya bilang. Ah, tapi tak perlulah bawa mitos aneh2 tentang cinta di gunung ini. Apa yang terjadi dengan keimanan kamu, kalau sampai percaya pada mitos macam itu?

Satu-satunya yang saya perhatikan tentang bukit cinta ini, atau teman-teman lebih suka menyebutnya dengan bukit bokong :D… Jalannya 3 kali lebih terjal daripada jalur sebelumnya. Di balik bukit ada jalan menurun tajam. Di bawahnya menanti padang rumput luas membentang. Rerumputan tumbuh setinggi tubuh manusia dewasa. Kalau musim penghujan, tanaman ini berbunga ungu indah. Layaknya kebun lavender. Sayangnya ini kemarau. Rerumputan mengering.

Kami berjalan membelah rumput-rumput tinggi ini. Rasanya seperti negeri dongeng khayalan masa kecil saya dahulu kala. Sayangnga Minus mas pangeran berkuda putih. Hahaha.

Keluar dari padang rumput, kami diaambut dengan jajaran hutan pinus. Jalan semakin menanjak dan terjal dan menantang dan seru. Carrier yang bertengger di punggung rasanya semakin membebani. Bagi tubuh kelelahan, beban di pundak seperti bertambah sepuluh kali lipat. Saran saya, pilih tas carrier yang benar2 bagus. Jangan abal2 seperti punya saya kemarin. Perlengkapan yang bagus akan menolong kalian selama di perjalanan.

Bolelah jika saya mengkambing hitamkan carrier sebagai penyebab saya kehilangan energi berlebihan. Hampir saya menyerah di jalur ini. Kalau bukan karena dibantu Rasyid, jalu, siska, dan kawan-kawan lainnya. Mungkin saya ndak bisa mencapai kali mati.

Ya Rabb, lemah sekali kaki ini. Ditambah siksaan kebelet pup selama pendakian. Hahaha. Semakin lengkap derita ini. Sungguh, sempatkanlah pup sebelum mulai pendakian.😀

Siang menjelang sore kami sampai di kali mati. Sebuah camp terakhir sebelum jalan dilanjutkan ke puncak mahameru. Tidak ada acara istirahat semalam lagi. Yang ada hanya makan dan berbaring sebentar sampai pukul 11 malam.

Kalau memang mau sampai di mahameru TEPAT WAKTU, pendakian harus dimulai pukul 11 malam. Hal ini bertujuan untuk menghindari gas beracun di mahameru yang keluar secara periodik antaa jam 9-10 pagi. Jadi, pendaki harus sampai sebelum jam kritis itu.

Sampai di titik ini keraguan yang saya takutkan itu muncul kembali. Ada perasaan takut menatap puncak yang semakin dekat. Kaki yang harusnya melangkah lebih jauh ini serasa kehilangan tenaga.

Tapi masalah sesungguhnya sebenarnya bukan di fisik. Melainkan mental. Hati saya ciut menyaksikan jalur berpasir menuju puncak yang tampak samar. Melihat barisan pinus semakin rapat. Saya punya ketakutan yang entah datang dari mana.

Sayangnya saya tak bisa mengakhiri kisah ini seperti FTV. Ketika tokoh utama berakhir bahagia mencapai cita-citanya. Mahameru sudah saya impikan, sejak saya berusia 16 tahun. Enam tahun kemudian kesempatan itu hadir di hadapan saya.

Sayangnya, fisik yang melemah, mentak menciut, telah membuat saya kehilangan mahameru di depan mata.

Meski demikian, saya bersyukur bisa pulang dengan selamat.

*mengenang satu tahun setelah pendakian. Mendoakan seorang mahasiswi yang wafat di Gunung Semeru kemarin, (12/8).

Surabaya, 14 Agustus 2015
05:23

Anla Arinda.

2 thoughts on “Jalan berkabut

  1. AMYunus

    Lhooo sayang banget gak diterusin ampe Mahameru. Gapapa, Ranu Kumbolo dan Oro-Oro Ombo sudah cukup jadi pengobat hati kala pendakian Semeru. Syukurlah rombongan bisa kembali ke rumah dengan selamat.

    Reply
    1. Anla Arinda Post author

      Halo mas Yunus? Lama tak bersua di dunia blogger😀

      Kondisi berkabut, fisik runtuh. Hihi *alibi. Next time insyaAllah “remidi” pendakian gunung Semeru.

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s