Tentang Harapan


image

salah satu ketakutan terbesar saya adalah berharap. Karena selama 23 tahun hidup, setiap kali saya berharap terlalu keras, harapan itu selalu patah.

Saya tidak pernah tau bentuk harapan itu seperti apa. Mungkin ia seperti pasir, ketika digenggam malah hilang. atau ia selicin air, kita bisa menampungnya, tapi tak akan bertahan lama.

Bisa jadi harapan itu seperti udara, kita hanya bisa merasakannya merasuki peredaran darah. Merasakan ketika ia meyentuh kulit yang berpeluh. Namun tak bisa memiliki atau bahkan menyentuhnya.

Lantas kerap kali saya membayangkan harapan itu serupa wujud lain. Semacam energi yang berasal dari luar. Jika harapan adalah sebuah energi, maka seharusnya ia tak bisa dimusnahkan, hanya berubah bentuk. Sesekali jadi pasir, terkadang air, atau malah jadi udara.

Tetapi kita lupa satu hal. Sebuah elemen yang selama ini bergerak bersama jiwa manusia. Tempat kita berpijak. Sayangnya elemen ini kerap direndahkan. Aneh, kenapa kita merendahkan elemen yang dijadikan Tuhan sebagai “bahan” penciptaan kita sendiri? kecuali kalau ada yang masih menganut teori evolusi monyet.

Mungkin harapan itu tak lain adalah tanah. Sebuah elemen yang dijadikan Tuhan untuk membentuk Adam. Harapan akan tumbuh sesuai dengan ihwal yang kita tanam. Dengan benih terbaik, menghasilhan tanaman terbaik. Dibantu oleh air serta udara. Bisa jadi pasir yang pernah aku buat berceceran menjadi fakktor penumbuh harapan itu.

Jika harapan itu tanah. Maka kita adalah harapan itu sendiri.

-anl-
January 2015. (forgotten draft)

2 thoughts on “Tentang Harapan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s