Secangkir Perasa(an)


Orang dewasa menyeduh kesedihannya dalam secangkir teh atau kopi. Lalu dimimumnya sendiri. Ia mengaduknya dengan sendok yang terbuat dari kenangan. Sambil mengaduk, ia tuangkan sedikit demi sedikit perasa(an) sedih, senang, pahit. Dihitungnya jumlah adukan sebanyak tanggal-tanggal bermakna dalam hidupnya. Sesekali ia tambahkan tetesan air hujan yang dingin agar cangkirnya penuh. Panas dan dingin menyatu menjadi kehangatan. Getir, pahit, asam, asin berputar-putar dalam cangkir. Tapi kesemua perasa(an)  itu tak bisa menyatu.

Orang dewasa meminum sendiri isi cangkirnya. Di sudut malam menjelang sepertiga langkah menuju pagi.

Semakin tahun ia tumbuh dewasa, semakin besar cangkirnya. Jumlah perasa(an) yang harus diseduhnya juga semakin melimpah.

Begitulah cara orang dewasa menikmati secangkir wedang kehidupannya.

-anl-
21 Januari 2016.

*when the tears comes streaming down your face.

One thought on “Secangkir Perasa(an)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s