Silau Senja


tulus

“Jangan Datang Terus” kata lelaki tinggi besar di samping telinga. Suara merdunya berteriak melalui lubang jarum berjumlah seribu, muncul dari sisi layar lebar. Saya mengikuti setiap album yang kamu tuliskan, Tuan. Tetapi, tidak semua jarak bisa dilipat semudah itu.

Taukah tuan,tidak semua cerita bisa dikabarkan pada semua orang. Karena mereka belum tentu mengerti bagaimana bentuknya diri kami, setelah melawan jarak selama hampir sembilan ratus sembilan puluh tiga hari. Dengan hanya empat hari tatap muka, dengan intensitas waktu kurang hanya lima jam per hari.

Lalu senja ini, kami menemukan diri masing-masing telah berevolusi menjadi orang asing. Kita kembali menjadi sosok yang bertemu di antara kerumunan, lantas saling melupakan.

Tunggu dulu, rasanya kata “kami” tidak lagi relevan. karena di antara keduanya tidak ada yang berani memutuskan perkara. masing-masing selalu saja bersembunyi di balik argumen dalam dialog sunyi.

Jadi tuan, jangan lagi bilang kalau “kita butuh ruang”. Sementara jarak dan waktu sudah terlalu lebar. Menghargai sepi tidak harus berhubungan dengan sengaja menghindar. Tidak salah jika ada yang bertanya,”omong kosong macam apa lagi ini?”. Karena kekosongan tanpa komunikasi dan suara ternyata sama hampanya dengan kotak-kotak harapan yang tidak lagi terisi.

 

-Keputih, 24 tahun 8 bulan 4 hari.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s