Category Archives: catatan kaki

Title 2

Saya tahu ndoro, perubahan orang-orang terdekat serasa lebih menyakitkan. Entah kenapa saya tidak sakit hati dengan para pemimpin yang tiba-tiba berubah setelah mereka dipilih. Meskipun janji-janji mereka tidak ditepati, saya tetap merasa biasa saja.

Beda kasus kalau yang bikin janji orang terdekat kita. Janji kecil saja, misalnya bilang nanti malam mau telfon. Tapi ternyata lupa. Hingga sampai seminggu menghilang tanpa jejak. Rasa sakitnya lebih menusuk daripada janji pemimpin untuk memperbaiki negeri.

Padahal, janji remeh temeh seperti itu seberapa besar efeknya untuk kehidupan saya? Bahkan jika misalnya harga cabe naik sekian ratus rupiah saja lebih memberikan efek domino. Tapi saya ndak pernah sakit hati karena harga cabe naik. Padahal, ada yang pernah janji bakal menstabilkan harga bahan makanan pokok.

Cabe, juga termasuk bahan pokok di negeri ini kan?

Ah iya ndoro. Saya sekarang paham. Tertusuk Paku yang kecil lebih berbahaya daripada dipukul dengan seribu guling.

Advertisements

Title

Kamu tahu? terkadang kita punya banyak cerita. Hanya saja, kita tidak siap untuk menceritakannya. Tidak siap, karena orang-orang hanya suka meliatmu tersenyum. Mereka tidak terlalu peduli jika kamu lelah. Perjalanan 35 kilometer ditempuh di bawah gerimis rapat. Sekujur tubuhmu basah karena tak terlindung mantel. Kulit di permukaan jari mengkerut menahan dinginnya guyuran air hujan. GPS yang ternyata menyesatkan. Jalan aspal namun berlubang hampir 65 persen di permukaannya. Lalu hidung yang tersumbat semakin diperparah dengan dingin menusuk. Mobil melintas tanpa simapati. Setiap empat roda itu melewati genangan, ia meninggalkan guyuran genangan air keruh bercampur serpihan aspal yang rusak.

Itu, hanya di permukaan saja. Mereka tidak pernah tau bukan… Selama perjalanan kedua matamu basah karena air hujan dan air asin lainnya. Otak dan  hati berperang memperebutkan spekulasi dan prasangka. Entah siapa yang benar di antara keduanya. Kamu menangis, kamu berteriak. Beruntung, suara-suara itu tertelan gegap gempita klakson jalan raya.

Mereka hanya tahu, yang kamu lakukan adalah perjalanan pulang ke rumah. Padahal sesampai di tempat tujuan, yang kamu temukan hanya seonngok gedung dingin yang isinya manusia-manusia tanpa punya perasaan. Memikirkan ornag lain, tapi tidka memikirkan dirimu.

Ah iya, mereka tidak pernah tahu kondisi sebenarnya. Di otak mereka hanya spekulasi dan egosentris di luar batas toleransi.

Lalu, teks yang dikirimkan namun berakhir tanpa balasan. Untuk apa semua paragraf ini ditulis. Terlebih lagi, kamu tidak pernah lagi datang ke halaman ini bukan? 🙂

Secangkir Perasa(an)

Orang dewasa menyeduh kesedihannya dalam secangkir teh atau kopi. Lalu dimimumnya sendiri. Ia mengaduknya dengan sendok yang terbuat dari kenangan. Sambil mengaduk, ia tuangkan sedikit demi sedikit perasa(an) sedih, senang, pahit. Dihitungnya jumlah adukan sebanyak tanggal-tanggal bermakna dalam hidupnya. Sesekali ia tambahkan tetesan air hujan yang dingin agar cangkirnya penuh. Panas dan dingin menyatu menjadi kehangatan. Getir, pahit, asam, asin berputar-putar dalam cangkir. Tapi kesemua perasa(an)  itu tak bisa menyatu.

Orang dewasa meminum sendiri isi cangkirnya. Di sudut malam menjelang sepertiga langkah menuju pagi.

Semakin tahun ia tumbuh dewasa, semakin besar cangkirnya. Jumlah perasa(an) yang harus diseduhnya juga semakin melimpah.

Begitulah cara orang dewasa menikmati secangkir wedang kehidupannya.

-anl-
21 Januari 2016.

*when the tears comes streaming down your face.

Tentang Harapan

image

salah satu ketakutan terbesar saya adalah berharap. Karena selama 23 tahun hidup, setiap kali saya berharap terlalu keras, harapan itu selalu patah.

Saya tidak pernah tau bentuk harapan itu seperti apa. Mungkin ia seperti pasir, ketika digenggam malah hilang. atau ia selicin air, kita bisa menampungnya, tapi tak akan bertahan lama.

Bisa jadi harapan itu seperti udara, kita hanya bisa merasakannya merasuki peredaran darah. Merasakan ketika ia meyentuh kulit yang berpeluh. Namun tak bisa memiliki atau bahkan menyentuhnya.

Lantas kerap kali saya membayangkan harapan itu serupa wujud lain. Semacam energi yang berasal dari luar. Jika harapan adalah sebuah energi, maka seharusnya ia tak bisa dimusnahkan, hanya berubah bentuk. Sesekali jadi pasir, terkadang air, atau malah jadi udara.

Tetapi kita lupa satu hal. Sebuah elemen yang selama ini bergerak bersama jiwa manusia. Tempat kita berpijak. Sayangnya elemen ini kerap direndahkan. Aneh, kenapa kita merendahkan elemen yang dijadikan Tuhan sebagai “bahan” penciptaan kita sendiri? kecuali kalau ada yang masih menganut teori evolusi monyet.

Mungkin harapan itu tak lain adalah tanah. Sebuah elemen yang dijadikan Tuhan untuk membentuk Adam. Harapan akan tumbuh sesuai dengan ihwal yang kita tanam. Dengan benih terbaik, menghasilhan tanaman terbaik. Dibantu oleh air serta udara. Bisa jadi pasir yang pernah aku buat berceceran menjadi fakktor penumbuh harapan itu.

Jika harapan itu tanah. Maka kita adalah harapan itu sendiri.

-anl-
January 2015. (forgotten draft)

Menarik Diri

image

“setelah kembali baru ada rasa yang hilang” tulisnya di sebuah media sosial.

Di titik ini saya mencoba megembalikan memori tepat tiga tahun yang lalu. Ketika setiap teks menjadi begitu berharga. Setiap kalimat selalu dinanti balasannya. Tidak ada satu pun yang terabaikan.

Sementara di titik ini… semakin saya mencoba mengejar, memperjuangkan, bersikeras, hasilnya justru tidak memuaskan.

Jarak semakin lebar. Komunikasi juga berantakan. Ego… Ego menjadi pemisah yang paling kejam.

Saya terus berfikir. Memutar otak mencari solusi. Tidak seorangpun menginginkan jembatan yang susah payah dibangun selama hampir tiga tahun ini runtuh.

Namun.. Semakin saya berfikir, emosi serta ego seolah mengusai isi pikiran ini. Terbesit perasaan, bahwa seolah saya sedang berjuang sendirian. Padahal, keadaan tidak seburuk itu kan?

Sore ini, setelah membaca satu kalimat itu… Saya seolah tersadar. Mungkinkah jika saya mengurangi intensitas menampakkan diri, maka jadinya akan seperti yang ia tulis?
“merasa kehilangan”

Sayang sekali… Bukan ihwal keputusan bijak jika saya sengaja menghilang hanya untuk ingin dicari.

-anl-

image

Sebelum beranjak tidur, bisakah kita memaafkan semua kesalahan orang lain terhadapmu hari ini? Apa pun itu bentuk kesalahannya. Setajam apa pun ia pernah menyakitimu. Lepaskanlah semua dengan satu kata maaf.

Agar hati kita tenang, pikiran bersih dari praduga. Lantas jangan lupa memaafkan diri sendiri.., atas segala ketidak- berdayaan, kegagalan, dan mimpi yang rusak sebelum terwujud.

Selamat malam.

Residual Mimpi

Pernah tidak, kita memimpikan orang-orang asing, yang tidak terlibat langsung dalam kehidupan kita. Mengenalnya pun hanya sekilas. Bertemu pun baru sekali. Dan entah mengapa mereka hadir dalam suatu episode cukup kompleks, bersambung, dan membingungkan.

Terlebih lagi, episode tersebut muncul dalam bentuk drama kisah hidup si orang asing. Tentang kehidupan pribadinya, rencana masa depannya, seolah kita menyaksikan layar lebar dengan si orang asing sebagai pemeran utama.

Kenapa orang ini yang muncul?
Lantas saya mencari artikel ilmiah yang bisa memuaskan rasa penasaran. Katanya, mimpi itu sejenis akumulasi dari beban pikiran kita selama beraktifitas seharian. Tapi kalau yang muncul adalah orang asing, bahkan dia tidak sedikitpun terlibat dalam keseharian saya. Lalu kenapa otak saya memilih si orang asing menjadi objek mimpi?