Secangkir Perasa(an)

Orang dewasa menyeduh kesedihannya dalam secangkir teh atau kopi. Lalu dimimumnya sendiri. Ia mengaduknya dengan sendok yang terbuat dari kenangan. Sambil mengaduk, ia tuangkan sedikit demi sedikit perasa(an) sedih, senang, pahit. Dihitungnya jumlah adukan sebanyak tanggal-tanggal bermakna dalam hidupnya. Sesekali ia tambahkan tetesan air hujan yang dingin agar cangkirnya penuh. Panas dan dingin menyatu menjadi kehangatan. Getir, pahit, asam, asin berputar-putar dalam cangkir. Tapi kesemua perasa(an)  itu tak bisa menyatu.

Orang dewasa meminum sendiri isi cangkirnya. Di sudut malam menjelang sepertiga langkah menuju pagi.

Semakin tahun ia tumbuh dewasa, semakin besar cangkirnya. Jumlah perasa(an) yang harus diseduhnya juga semakin melimpah.

Begitulah cara orang dewasa menikmati secangkir wedang kehidupannya.

-anl-
21 Januari 2016.

*when the tears comes streaming down your face.

Tentang Harapan

image

salah satu ketakutan terbesar saya adalah berharap. Karena selama 23 tahun hidup, setiap kali saya berharap terlalu keras, harapan itu selalu patah.

Saya tidak pernah tau bentuk harapan itu seperti apa. Mungkin ia seperti pasir, ketika digenggam malah hilang. atau ia selicin air, kita bisa menampungnya, tapi tak akan bertahan lama.

Bisa jadi harapan itu seperti udara, kita hanya bisa merasakannya merasuki peredaran darah. Merasakan ketika ia meyentuh kulit yang berpeluh. Namun tak bisa memiliki atau bahkan menyentuhnya.

Lantas kerap kali saya membayangkan harapan itu serupa wujud lain. Semacam energi yang berasal dari luar. Jika harapan adalah sebuah energi, maka seharusnya ia tak bisa dimusnahkan, hanya berubah bentuk. Sesekali jadi pasir, terkadang air, atau malah jadi udara.

Tetapi kita lupa satu hal. Sebuah elemen yang selama ini bergerak bersama jiwa manusia. Tempat kita berpijak. Sayangnya elemen ini kerap direndahkan. Aneh, kenapa kita merendahkan elemen yang dijadikan Tuhan sebagai “bahan” penciptaan kita sendiri? kecuali kalau ada yang masih menganut teori evolusi monyet.

Mungkin harapan itu tak lain adalah tanah. Sebuah elemen yang dijadikan Tuhan untuk membentuk Adam. Harapan akan tumbuh sesuai dengan ihwal yang kita tanam. Dengan benih terbaik, menghasilhan tanaman terbaik. Dibantu oleh air serta udara. Bisa jadi pasir yang pernah aku buat berceceran menjadi fakktor penumbuh harapan itu.

Jika harapan itu tanah. Maka kita adalah harapan itu sendiri.

-anl-
January 2015. (forgotten draft)

Menarik Diri

image

“setelah kembali baru ada rasa yang hilang” tulisnya di sebuah media sosial.

Di titik ini saya mencoba megembalikan memori tepat tiga tahun yang lalu. Ketika setiap teks menjadi begitu berharga. Setiap kalimat selalu dinanti balasannya. Tidak ada satu pun yang terabaikan.

Sementara di titik ini… semakin saya mencoba mengejar, memperjuangkan, bersikeras, hasilnya justru tidak memuaskan.

Jarak semakin lebar. Komunikasi juga berantakan. Ego… Ego menjadi pemisah yang paling kejam.

Saya terus berfikir. Memutar otak mencari solusi. Tidak seorangpun menginginkan jembatan yang susah payah dibangun selama hampir tiga tahun ini runtuh.

Namun.. Semakin saya berfikir, emosi serta ego seolah mengusai isi pikiran ini. Terbesit perasaan, bahwa seolah saya sedang berjuang sendirian. Padahal, keadaan tidak seburuk itu kan?

Sore ini, setelah membaca satu kalimat itu… Saya seolah tersadar. Mungkinkah jika saya mengurangi intensitas menampakkan diri, maka jadinya akan seperti yang ia tulis?
“merasa kehilangan”

Sayang sekali… Bukan ihwal keputusan bijak jika saya sengaja menghilang hanya untuk ingin dicari.

-anl-

image

Sebelum beranjak tidur, bisakah kita memaafkan semua kesalahan orang lain terhadapmu hari ini? Apa pun itu bentuk kesalahannya. Setajam apa pun ia pernah menyakitimu. Lepaskanlah semua dengan satu kata maaf.

Agar hati kita tenang, pikiran bersih dari praduga. Lantas jangan lupa memaafkan diri sendiri.., atas segala ketidak- berdayaan, kegagalan, dan mimpi yang rusak sebelum terwujud.

Selamat malam.

Residual Mimpi

Pernah tidak, kita memimpikan orang-orang asing, yang tidak terlibat langsung dalam kehidupan kita. Mengenalnya pun hanya sekilas. Bertemu pun baru sekali. Dan entah mengapa mereka hadir dalam suatu episode cukup kompleks, bersambung, dan membingungkan.

Terlebih lagi, episode tersebut muncul dalam bentuk drama kisah hidup si orang asing. Tentang kehidupan pribadinya, rencana masa depannya, seolah kita menyaksikan layar lebar dengan si orang asing sebagai pemeran utama.

Kenapa orang ini yang muncul?
Lantas saya mencari artikel ilmiah yang bisa memuaskan rasa penasaran. Katanya, mimpi itu sejenis akumulasi dari beban pikiran kita selama beraktifitas seharian. Tapi kalau yang muncul adalah orang asing, bahkan dia tidak sedikitpun terlibat dalam keseharian saya. Lalu kenapa otak saya memilih si orang asing menjadi objek mimpi?

Perempuan Hujan dan November

Dan ternyata perempuan hujan tak lagi mencintai November. Ia ingin jauh meninggalkan segala macam kenangan lama. Mengingat hanya bikin hatinya teriris tipis. Perempuan hujan tak pernah mau lagi berharap pada ihwal pertemanan jarak jauh. Baginya, semua yang berhubungan dengan kata jauh itu menyakitkan. Perempuan ini merasakan kelelahan yang tak mampu dilepas hanya dengan semalam beristirahat. Ia membenci november yang dulu dicintainya. Kini, ia ingi  lari dari bulan hujan itu. Sekencang-kencangnya. Jauh hingga menjadi titik kecil yang tak terlihat.

Perempuan hujan dilanda keputusasaan tanpa definisi. Ia tak mau lagi dirindukan ketika kemarau, tapi dicaci maki justru ketika ia hadir.

-anl,
Tentang 24 november.

Seorang perempuan adalah detektif yang cekatan. Ia gemar mengumpulkan bukti. Logikanya, – meski tak setajam lelaki – pandai merangkai kejadian dari ceceran remah-remah yang tertinggal. Seorang perempuan adalah detektif dengan intuisi kuat. Perpaduan dari akal dan perasaan membentuk kepekaan yang kuat. Hanya dengan menatap mata, ia bisa menebak hampir akurat isi kepala lawan bicara.

Sia-sia jika kamu berniat membohongi seorang perempuan. Cepat atau lambat ia akan temukan fakta tersembunyi di balik rahasia. Percuma kamu bersilat lidah, seorang perempuan mengetahui benar mana bualan, rayuan, dan kejujuran.

Sayangnya, meskipun perempuan mengetahuinya, ia tidak selalu mengungkapkannya.

-anl-