Memuncak

IMG_2258Kita tidak pernah bisa menaklukkan gunung, Bung!

Bukankah, setiap kaki yang mengumpulkan segenap keberanian untuk naik gunung, justru merasa ditaklukkan oleh alam tempat ia berpijak. Dengan cuaca, para pendaki berkompromi. Dengan jalur penuh jurang nan cadas, para pendaki merapatkan barisan – menyusun strategi.

Dan ketika kaki-kaki kecil yang lelah itu telah mampu menempatkan telapaknya di sebuah puncak gunung, yang ada justru perasaan syahdu, luluh, tertaklukkan. Bukan kesombongan karena telah menaklukkan.
Keangkuhan itu sirna seketika. kebanggan yang lahir saat diri ini telah mampu mencapai puncak, lantas bertransformasi menjadi rasa syukur karena masih berkesempatan melihat keindahan ciptaan-Nya.

Kita tidak pernah bisa menaklukkan gunung! kita hanya menyusurinya.

Ihwal yang kita taklukkan adalah ketakutan. Ketakutan untuk menerima kenyataan bahwa sejatinya jiwa dan raga ini bukan siapa-siapa. Di puncak itu, kita menyadari ada Hal ihwal yang lebih berkuasa dari akal manusia. Sedikit saja alam ini mengerahkan kekuatannya, maka lepaslah tulang-tulang rusuk ini dari tempatnya.

AN

Celebrate The Moment

Saya lupa bagaimana caranya membuat sebuah perayaan. Apakah itu dengan hura-hura, syukuran sederhana, sepotong kue, lilin dengan api kecil menyala-nyala?

anniversary

happy anniversary to my blog :) thanks for every blogger who still stands, read, write, and sharing.

Dry Hard

dry-hard
Kita pernah merasa menjadi sosok terbelakang di antara kawan sejawat. Rasanya seperti rumput kekeringan di puncak musim penghujan. Lantas seketika dunia menjadi terasa begitu timpang. Bagaimana tidak, di satu sisi satu orang meraih tiga puncak sekaligus. Namun di sisi lain satu orang masih mencoba merangkak keluar dari jurang.

Kami pun merasa, sedang menjalani fase kekeringan abnormal. Seluruh daun telah rontok, bahkan batang pun mulai mengering. Padahal rumput tetangga masih terlihat hijau mempesona, menebar hijau teduh kepada siapa pun yang melihatnya.

Apakah ini waktunya menyerah?
Aku rasa belum.

Jangan lihat dedaunan yang berserakan di atas tanah. Jangan memandangi batang dan ranting yang mengering sebagai suatu musibah. Masih ada akar, ia masih kuat menopang. All we need is believe, just believe.

Sadarkah kita? terkadang “semangat yang runtuh lebih berbahaya daripada fisik yang remuk.” kata Agustinus Aibowo.

AN.

Kangen

“Ndoro, seperti apa rasanya rindu?”

“Rasanya sumuk, ongkep,  gerah. Seperti halnya waktu kamu berharap hujan turun, padahal tidak ada seberkas awan mendung di langit. Tapi  piye, ndak ada yang bisa kita lakukan selain menunggu dan berdoa tiba tiba ada awan mendung datang mengakuisisi posisi raja siang. Kemudian hujan datang dengan aromanya yang khas.”

Ndoro pingin hujan-hujan ya?”

“Iyo, Nduk.. sudah seminggu ini Surabaya ndak hujan. Padahal ini masih Februari. Kangen tenan aku ..”

–END

13 Selongsong Kembang Api

0653428-sydney-tahun-baru-620X310

Gambar diambil dari Kompas.com

Pagi itu ndoro duduk sendirian di teras sambil ditemani dengan secangkir besar kopi Arabica dan setumpuk Pisang goreng dengan taburan bawang goreng di atasnya. Ndoro yang satu ini memang unik, coba tunjukkan orang lain selain ndoro yang suka makan pisang goreng sambil ditaburi bawang goreng? Kalau anda menemukannya, mari saya kenalkan dengan Ndoro. Yakin deh, mereka berdua akan jadi sepasang manusia yang klop!

Tapi ada yang beda dengan Ndoro pagi ini. Di samping ndoro tergeletak 13 selongsong petasan dengan ukuran sebesar lengan orang dewasa. Saya pun tergerak untuk mendekati Ndoro.

Nduk (saya) : ” Ceilee Ndoro habis main petasan, ya? “

Ndoro           : “loalah, lha kok kurang kerjaan banget maenan petasan. bakar-bakaran uang saja,”

Nduk   : “Lha itu apaan kalo bukan Petasan?”

Ndoro : “Bukan tho, nduk. ini sih sisa petasan di alun-alun kota semalam”

Nduk  : “Nah, berarti Ndoro Habis Tahun baruan ya semalam? main petasan juga kan?”

Ndoro : “Semalam ada pembagian kalender gratis di alun-alun, yo gara-gara iku kuwi aku melu tahun baruan, sekalian ngantri kalender gratisan, Kalo petasan ini memang sengaja saya ambil. kasihan dia keleleran ing dalan

Nduk   : “lha kok kasihan sih ndoro? toh itu petasan udah ndak bisa dipakai lagi, kan? udah jadi arang basah”

Ndoro : “Nah, justru itu .. coba bayangkan perasaan Petasan ini. Ia hanya sesosok benda yang dilahirkan untuk kesuksesan temporal. Begitu mudah dia melesat, begitu cepat mencapai langit hitam kelam malam tahun baru. Lantas di tengah kelamnya langit yang tampak biasa, dia menebarkan kembang api warna-warni dalam berbagai rupa dan bentuk. Menyemburkan lompatan cahaya yang memukau semua mata yang memandang. Seketika kembang api menjadi primadona. Bahan mengalahkan gemerlap gemintang di angkasa. “

Nduk  : “Malah bagus, kan ndoro? ibarat orang, dia telah menggapai kesuksesan dalam tempo yang secepat-cepatnya,”

Ndoro : “ealah nduk genduk.. jangan lihat sesuatu dari sisi yang kasat mata. Coba perhatikan, apa yang dilakukan si kembang api setelah pasca gemerlap cahayanya memudar?”

Nduk  : “Ya, wis habis apinya, Ndoro.. ndak kelihatan lagi”

Ndoro : “Justru itu. Kembang api begitu mudah melejit naik ke atas, tapi ndak begitu lama kemudian ia tersungkur di tanah.  Hal-ihwal yang menjadikannya menakjubkan telah sirna. Seketika usai ia kehilangan pendar cahaya, yang tersisa hanya 13 selongsong kosong seperti yang kamu lihat ini. Redup selama lamanya”

Nduk  : “Tapi setidaknya ia gugur usai memberi tampilan indah bagi mata yang memandangnya. bener, ndak ndoro?”

Ndoro : “Iya, tapi cuma sesaat, Ibarat artis di panggung hiburan, dia tipe yang easy come and easy go. Bandingkan dengan jutaan bintang yang punya usia lebih lama untuk bercahaya. Bintang butuh waktu ribuan bahkan mungkin jutaan tahun cahaya untuk membuatnya menjadi benda langit yang berpendar. Namun usahanya tidak selesai sampai di situ. Kata simbah, Bintang menghabiskan sekitar 90% umurnya untuk membakar hidrogen dalam reaksi fusi. Kehadiran reaksi tersebut akhirnya menghasilkan helium dengan temperatur dan tekanan yang sangat tinggi.  “

Nduk  : “Wah, Ndoro pintar juga ya…”

Ndoro : ” mangkane, sekali-kali baca national geographic, situs berita, baca koran.. ojo fesbukan tok ae, nduuk”

Nduk : ” Nggih, ndoro.. eh, trus kira-kira mana yang lebih baik nih. Sukses dalam waktu yang cepat, tapi cepat juga memberi manfaat bagi sesama, atau harus jadi idealis seperti bintang tapi butuh waktu lama untuk menggapai kesuksesan? “

Ndoro : “Nggak semua bisa dijelanskan dengann analogi, nduk. sing jelas, Semua hal yang butuh proses kerja keras, terjal, dan dihadapi dengan kesabaran akan menghasilkan kesuksesan yang lebih awet dan tahan lama. “

Nduk  : “Yang penting jadi orang sukses dan bermanfaat. Bener ndak ndoro?”

Ndoro : “nah, iku. tumben kowe pinter!”

Nduk  : “hehe, iku mau kopas dari setatusnya Mario Teguh “

Ndoro : “ealah arek iki.. amit-amit tenan”

——————-END

8 Years Ago

Ingatan manusia itu terbatas. Namun,  justru dengan keterbatasan itulah yang bikin kita menjadi lebih manusiawi. Kita berbeda dengan gajah yang konon katanya dianugerahi long life term memory. :P

Keterbatasan ini secara tidak langsung memaksa kita untuk memperhitungkan, ihwal mana yang harus disimpan, mana yang sebaiknya dibiarkan terlupakan. Sehingga, ada kenangan yang kita pilih untuk dihilangkan saja. Ada juga ingatan yang sedari kita kecil hingga sekarang masih melekat, membekas, tak mau pindah.

Sayangnya, seringkali kita menemui sebuah keadaan di mana kontrol penyimpanan memori tidak mudah untuk dikendalikan. Misalnya saja, sebuah keinginan untuk melupakan kejadian-kejadian tertentu. Namun usaha untuk melupakannya seringkali gagal.

Ada juga sebuah masa ketika kita hampir saja berhasil melupakan beberapa kasus/kejadian dalam hidup kita. Atau sudah benar-benar terlupa sebelumnya, lantas kemudian ingatan tersebut kembali dibangunkan oleh benda, moment, lagu, suara, dan beberapa benda remeh lainnya. it’s complicated :)

Saya punya sebuah benda sederhana yang mampu membangkitkan memori-memori masa silam. Kemarin lusa waktu saya pulang, ibu saya menyodorkan benda tersebut. Sebuah benda klasik, kuno, dan sudah tak pernah terpakai lagi. Here is it.

Fuji

Fuji

Sejarah benda tersebut bermula ketika saya menyadari bahwa ada Dua benda yang saya sukai di dunia ini: 1. Pohon 2. Kamera. Dari kecil saya mendamba sebuah kamera yang bisa dipakai untuk jeprat-jepret iseng.  Saya begitu menginginkan kamera yang sekiranya dapat digunakan untuk membekukan pemandangan pepohonan di sekitar rumah. that was  my simple dream when I was a little child.

Benda tersebut saya beli dari hasil tabungan selama satu tahun semasa kelas 6 SD :) jadi bisa dikatakan itu benda “mewah” pertama yang saya miliki berkat kerja keras menahan jajan selama satu tahun. Kamera fuji di atas telah menjadi milik saya selama kurang lebih delapan tahun. Bukan kamera mahal, harganya sekitar Rp 115.000,00.

Itulah pertama kali saya belajar bahwa “impian kita hanya bisa diwujudkan dengan kerja keras dan doa,” :)

That’s so simple. Nothing special for you. But for me,… :)

Sekarang, benda bersejarah itu sudah hampir tidak pernah terberdayakan dengan baik. Meskipun saya yakin, ia masih berfungsi dengan baik asal cukup dengan dua batre alkalin ukuran AA dan sebuah roll film klasik. Masalahnya, di mana saya bisa menemukan roll film di era digital seperti sekarang ini?

Lagipula, kamera fuji tersebut sekarang sudah tergantikan oleh Nikon digital camera  berikut ini :P

Nikon Digital Camera 10 mp

Bagaimana dengan saudara? Benda apa gerangan yang mampu membangkitkan kenangan saudara untuk memori 8 tahun silam?